"Karena ketika kamu berada di atas angin, kamu akan lupa bumi tempatmu berpijak."
===============
SANDRA super panik.
Kakinya ia ketukkan seirama dengan jemarinya menggoyangkan pulpen, membentuk barisan kata tanpa makna–tentu bagi Sandra–ketika menyalin pekerjaan Olip. Tangan yang lainnya ada di mulut, salah satu kebiasaan yang Sandra lakukan ketika berada di situasi genting. Sandra bahkan tidak menyadari bahwa banyak pasang mata menatapnya penasaran, kecuali mata Olip, karena yah, Olip sudah tahu segalanya.
"Udah?" tanya Olip ketika Sandra berhenti menulis.
Sandra mendongak, raut wajahnya penuh rasa putus asa. Bulir keringat kecil timbul di sekitar dahi, menandakan betapa lelahnya otak lamban Sandra harus melihat, membaca, menulis, yang ia lakoni sejak sepuluh menit lalu. Bahkan rambutnya yang dikucir menjadi agak lepek karena tadi berlari kecil ke kelas.
"Mati gue, Lip, baru setengahnya, bel masuk lima menit lagi," ungkap Sandra pasrah. "Gak apa-apa lah, gue, kalo harus keliling lapangan. Tangan gue capek beneran ini."
"Eh, gak usah capek-capek," ucapan super manis itu membuat Sandra dan Olip menoleh serempak ke arah yang sama.
Baik Sandra maupun Olip terkejut melihat Zanna mengobrol dengan mereka, ah, tepatnya pada Sandra. Dari zaman Pithecantropus sampai sekarang, kasta Zanna dan Sandra berbeda, yang berarti, mereka tidak akan mengobrol satu sama lain. Jadi, Zanna hanya akan mengobrol denganmu bila;
1. Kalian satu kelompok belajar
2. Kalian satu jenis
Sandra tahu tidak semua jenis seperti Zanna, bersikap seperti itu. Banyak yang juga membaur ke semua orang dan ramah. Sandra tidak bermaksud mendiskriminasi, tapi kadang, Sandra merasa didiskriminasi oleh Zanna karena hidupnya sederhana.
Oke, Sandra memang melebih-lebihkan soal Zanna atau kasta-kasta itu. Nyatanya di sekolahnya, kasta tersebut sudah punah. Namun Sandra tidak akan bersikap berlebihan bila Zanna tidak mendiamkannya selama lebih dari satu semester. Percakapan antara Sandra dan Zanna adalah ketika perempuan itu lupa membawa alat tulis sehingga terpaksa meminjam milik Sandra.
"Iya?" Olip yang membalas karena Sandra masih terperangah dengan fakta Zanna mengajaknya bicara.
Zanna tidak mengacuhkan Olip, dia malah mendekat ke arah meja Sandra, duduk di sana dan melihat kertas tugas milik teman sebangkunya. Zanna mengambil kertas itu dan menyuruh teman satu gengnya mendekat.
"Vaya, sini," ucap Zanna dengan nada memerintah. Sejurus kemudian, Vaya sampai di meja Sandra. Menatap Zanna sedikit heran. "Tulisin tugasnya Sandra, dong. Gue mau ngobrol penting sama dia."
Vaya tampak enggan, namun tetap mengangguk dan menerima kertas dari ketua gengnya, tidak ingin macam-macam. Sandra berdiri dan menatap heran kerja pertemanan tim Zanna yang aneh. Tanpa bicara banyak, Sandra mengambil kembali kertasnya dari Vaya.
"Gue bisa ngerjain sendiri, kok," ucap Sandra sambil memaksakan satu senyum tipis.
"Eh, jangan," Zanna masih dengan suara yang super manis menyusup ke obrolan Sandra dengan Vaya. "Vaya, kerjain tugas Sandra. Cepet."
"Iya, San, gue gak apa-apa, kok," ucap Vaya, mengambil kertas Sandra lagi dan mulai tekun menulis, lebih tepatnya menyalin jawaban.
Sandra untuk sesaat tercenung. Ini maksudnya, apa? Sandra merasa seperti anak yang salah, tapi bukannya dimarahi oleh orangtua, malah dikasih uang jajan.
"Nah," Zanna tampak puas, dia duduk di pinggir meja dengan tangan bersedekap. "Denger-denger, kemarin lo ikut audisi filmnya Sadena, ya?"
"Film R," koreksi Sandra.
Zanna memutar bola matanya bosan. "Iya, apalah itu," kemudian matanya kembali menunjukkan ketertarikan nyata. "Berarti lo kenal Sadena, dong?"
Sandra melirik Olip di sebelahnya yang sudah tampak jengkel sejak Zanna datang seperti laron pengganggu. Sandra kembali melihat Zanna, lalu melihat Vaya yang menjokikan tugasnya, dan Sandra merasa semua ini sangat salah, sangat bukan dirinya.
"Sandra? Hei?" ucap Zanna, melambaikan tangan lentiknya di depan wajah Sandra.
Sandra mengerjap. "Iya, gue kenal."
Zanna bertepuk tangan heboh, suaranya melengking, "Wow! Keren. Ajak dia main ke sini, dong. Gue denger kalo artis tuh pasti ada day off-nya juga."
Sandra ingin berdecak. Ingin tertawa mendengar ucapan Zanna. Karena perempuan licik seperti Zanna akan menguras keuntungan yang ia dapatkan. Namun, seburuk apapun perlakuan Zanna padanya, Sandra tidak mungkin membalas. Ayah tidak pernah mengajari Sandra seperti itu.
Sandra hendak bicara, namun bel membuat suasana riuh, karena tentu saja, bukan hanya Sandra yang kelimpungan dengan tugas dari guru killer itu. Bertepatan dengan Vaya yang sudah selesai menuliskan tugas Sandra.
"Nih, tulisannya udah persis sama," ucap Vaya acuh tak acuh, memberikan tugas itu pada Sandra, dan berbalik pergi ke mejanya untuk mengambil dasi dan topinya.
Sandra menghela napas. Bingung pada apa yang terjadi sekarang. Dia menaruh kertasnya di kolong meja, dan mengambil topinya. Dasinya sudah terpasang rapi di seragam karena Sandra memang selalu memakai dasi di sekolah.
Olip menggamit lengan Sandra langsung dan meninggalkan kelas, termasuk meninggalkan Zanna yang tentu saja tidak suka perlakuan itu. Zanna berdecak seiring teman segengnya mendekat.
"Kenapa?" tanyanya.
Zanna menuding Sandra dengan dagu lancipnya. "Anak sialan itu. Baru tenar sedikit udah banyak gaya. Ck."
Sementara Olip yang menggamit lengan Sandra berbisik pelan pada perempuan itu. "San, jangan deket-deket Zanna. Dia perempuan ular. Ini demi kebaikan lo dan hajat hidup orang banyak."
Sandra terkekeh geli melihat betapa Olip tidak sukanya pada Zanna.
"Gue ngerti. Udah yuk, gue gak suka ngomongin Zanna."
===============
Hello! I'm back, Guys! 😊 Alhamdullilah, kemarin projek nulis selama sebulan setengah udah selesai, tinggal tunggu kabar aja. Doain ya, kabarnya adalah kabar baik 😇
KAMU SEDANG MEMBACA
S: Sadena, Sandra & Sandiwara
Novela JuvenilSUDAH DITERBITKAN TERSEDIA DI TOKO BUKU Part lengkap "Mungkin bagimu sandiwara, tapi bagiku ini nyata."
