"Taman ria hari ini tampak sepi. Hujan mengguyur wahana. Orang-orang menepi. Dan aku sendiri."
================
MALAM ini, anak sulungnya tampak berbeda. Senyum Sadena manis tersungging. Ketika melewati Lulu, ia mengelus puncak kepalanya lembut. Sampai-sampai, Lulu mendongak untuk memastikan bahwa kakaknya-lah yang melakulan hal manis itu.
"Abang udah gak apa-apa kalo kamu masih nganggep Sopo Jarwo lebih ganteng," ucap Sadena sambil nyengir, membuat Lulu bengong seketika.
Sadena kemudian berjalan ke arah Ibunya, salim. "Abang langsung tidur, Bu. Tadi di jalan udah makan sama Kak Mail."
Ibu mengangguk, matanya masih menatap Sadena takjub. Bagaimana bisa satu hari dapat mengubah perangai Sadena yang buruk? Sadena tidak pernah begitu peduli pada Lulu, tidak pernah berkata semanis itu, dan bahkan tidak pernah tidak cemberut.
Kali ini Sadena terus tersenyum dan Ibu bertanya-tanya alasannya.
Sesampainya di kamar, Sadena langsung menjatuhkan badannya di tempat tidur. Mata cokelatnya menatap langit-langit, masih dengan senyum yang sama. Dia menaruh ponselnya di nakas, tidak ingin merusak kebahagiaan kecil ini–karena kadang, dunia maya membuat mood-nya turun.
Sadena sangat bahagia.
Namun, Sadena tidak tahu bahwa video dirinya dan Sandra sudah viral di sosial media tadi sore, setelah dirinya dan sang manager makan. Semua orang bereaksi, meminta klarifikasi dari Sadena, Kak Mail juga meneleponnya untuk bertanya.
Bukan hanya itu. Hana yang mengetahui hal ini ketika sedang hangout bersama teman artisnya, langsung diberitahu. Hana lantas memutuskan pulang lebih dulu untuk ke rumah Sadena. Karena Hana tidak mungkin kehilangan Sadena sekarang, ketika karir laki-laki itu berada di puncaknya, ketika ketenaran akan segera diraihnya.
Hana mengetuk pintu rumah Sadena. Ibu yang membuka, mengatakan bahwa Ibu akan memanggil Sadena. Ketika melihat Hana, ada rasa tidak suka di wajah Sadena. Seolah Hana sudah menganggu hari sang laki-laki, dan memang itu kenyataannya.
"Aku udah berpikir lagi dan...," ucap Hana, suaranya pura-pura bergetar agar menarik simpati Sadena. "Dan aku gak bisa jauh dari kamu. Aku gak apa-apa kalau kamu gak mau diketahui publik. Menurut aku, bersama kamu aja udah cukup, Den."
"Maksud lo?" tanya Sadena seraya menautkan alisnya.
Hana menatap Sadena sungguh-sungguh, air mata palsunya menitik sempurna. "I want you back."
Sadena menyeringai mendengar ucapan Hana. Perempuan itu menjatuhkan harga dirinya, secepat itu. Karena apa? Entah, Sadena sejak awal tidak bisa membaca pikiran Hana, sejak awal ada yang disembunyikan, dan sekarang, Sadena tidak mau jatuh di lubang yang sama.
Sadena mendekatkan kepalanya ke arah Hana, lalu tersenyum miring. "In your dreams, Sweetheart."
Sadena menjauh, puas melihat wajah Hana syok setengah mati mendengar ucapannya. Sadena menutup pintu di depan wajah Hana, melewati ruang keluarga dan mendapati tatapan tanya Ibu. Sadena hanya mengangkat bahu dan kembali ke kamarnya.
Esoknya, setelah mengetahui bahwa videonya dan Sandra viral, Sadena sudah bisa menyimpulkan. Bahwa Hana merasa posisinya terancam. Bahwa memang, Hana hanya ingin memanjat tangga sosialnya. Tidak ada ketulusan di sana.
Padahal Sadena tidak ingin membeberkan hubungan mereka karena hanya menguji Hana.
Sekarang terjawab sudah. Bahwa dari awal, memang hanya dirinya yang pernah tulus menyukai perempuan itu.
================
Author Note
Maaf baru bisa update! 😌 Gimana reaksi kamu pas Hana ditolak Sadena?
KAMU SEDANG MEMBACA
S: Sadena, Sandra & Sandiwara
Novela JuvenilSUDAH DITERBITKAN TERSEDIA DI TOKO BUKU Part lengkap "Mungkin bagimu sandiwara, tapi bagiku ini nyata."
