MATAHARI tergelincir ke ufuk barat ketika Sadena, Sandra, Lulu, dan Budhe bercengkerama di halaman belakang villa kawasan Bogor. Sadena lagi-lagi mengajak Sandra ke tempat ini, karena menurutnya, tempat ini memberi ketenangan tersendiri. Sadena akan memberi waktu pada Sandra untuk memikirkan semuanya, dengan kepala jernih, dan hati yang dingin.
Sadena juga pernah semarah Sandra, semuak itu, hingga rasanya tersenyum saja sulit. Hingga keseharian terasa kebas.
Dan, Sadena gatal sekali untuk meninju mantan pacar sialan Sandra.
"Budhe, Budhe! Kok Budhe gak ngajar lagi di Sanggar Sandiwara? Lulu, kan, pengen diajar sama Budhe juga," kalimat protes dari Lulu membuat kesadaran Sadena kembali.
Lulu yang duduk di sofa sekarang dengan manjanya 'bertengger' di lengan Budhe. Mata bulat hitamnya menatap Budhe dengan meminta penjelasan. Sementara kaki mungilnya bergerak seiringan.
Kemudian, Sadena menoleh pada Sandra yang sekarang duduk di sebrang mereka, mengenakan syal yang Budhe berikan, dan tersenyum melihat Sandra. Setelah semua yang terjadi, Sandra masih bisa tersenyum. Perempuan yang ia sayangi ini memang sekuat apa?
"Budhe udah pensiun. Kamu telat, sih, lahirnya," canda Budhe seraya mengusap puncak kepala Lulu. "Tuh, diajarin sama Kak Sadena saja. Dia juga sudah mahir."
"Enggak mau," jawab Lulu langsung, membuat Sadena seketika melotot. "Kak Sadena pelit!"
Tunggu. Kenapa gaya bicara Lulu malah mencontoh iklan permen?
"Kakak gak pelit," bantah Sadena dengan bibir mengerucut, sebal.
Lulu balas cemberut. "Kakak gak punya waktu buat Lulu. Kakak 'kan sibuk."
Kali ini, ucapan Lulu tidak sebercanda tadi dan ini membuat Sadena terdiam. Apa dia sesibuk itu? Setelah ayahnya meninggal, Sadena bertekad untuk menghidupi keluarganya, sampai tidak menyadari bahwa Lulu perlu figur pengganti Ayah. Yang tidak mungkin ia dapatkan dari luar. Yang hanya bisa ia dapatkan dari Sadena.
Sadena mengesah pelan. "Ya udah, Lulu mau diajarinnya kapan?"
Pertanyaan Sadena mendapat cengiran lebar di wajah Lulu. Sampai-sampai, Sandra yang memperhatikannya mencubit pipi Lulu dengan gemas.
"Aduuuh, Kak Sandra! Atit!" seru Lulu menimbulkan gelak tawa dari Budhe dan Sadena.
Kalau bisa, Sadena ingin berhenti tepat di momen ini. Ketika tidak ada lagi kecemasan yang menggerogoti hati dan masa depan yang tidak menentu. Sadena ingin sekali, tapi realitas berkata sebaliknya.
Karena Sadena tahu, meski sekarang Sandra tersenyum, hatinya bersedih.
Selesai mengobrol, Sadena izin ke masjid karena adzan sudah berkumandang, sementara Sandra menuntun Lulu untuk berwudhu. Budhe yang masih duduk di sofa hanya bisa tersenyum sedih melihat mereka. Sadena sudah memberitahu Budhe soal kondisi Sandra, dan melihat Sandra bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, membuat Budhe dua kali lipat lebih sedih. Sandra tidak membicarakan apa-apa soal dirinya sejak menginjakkan kaki di villa ini, dia hanya menjadi pendengar yang baik untuk Lulu yang tentu saja lebih banyak mengoceh.
Budhe menyiapkan makan malam, masih mencemaskan Sandra, ketika figur perempuan itu dan bocah kecil di sampingnya menghampiri, sudah selesai shalat.
"Mau aku bantu, Budhe?" tanya Sandra.
"Boleh, Budhe mau shalat dulu," jawab Budhe kemudian mengintruksikan Sandra untuk memotong sosis menjadi dua.
"Wiii, Lulu paling suka sosis pake kecap, saos, sama mayonaise," ucap Lulu memperhatikan Sandra dari meja makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
S: Sadena, Sandra & Sandiwara
Novela JuvenilSUDAH DITERBITKAN TERSEDIA DI TOKO BUKU Part lengkap "Mungkin bagimu sandiwara, tapi bagiku ini nyata."
