"I try to numb my feelings, my true feelings. Because, who gives a damn about that?"
===============
RUANGAN itu ramai dengan celoteh dan suara khas stik kontroler Wii. Kegaduhan dari basement itu terdengar sampai lantai dasar. Membuat laki-laki yang turun menuju basement dengan perawakan tinggi dan jarang tersenyum itu mendengus geli. Gimana tidak? Sekarang laki-laki itu melihat empat temannya sedang bersantai ria di sana, tepatnya, di markas laki-laki itu, mereka nyelonong masuk seenak jidat.
"Eh! Eh, Sadena pulang!" seru salah satu temannya, Abraham, atau akrab dipanggil Abrar. Dia melepas stik Wii di tangannya dan secepat kilat muncul di hadapan Sadena. "Gimana hari ini? Capek? Pegel linu? Lelah? Letih? Lesu?"
Meski terlihat sangat normal dan beradab di depan kamera, yang namanya orang agak nyeleneh, ya tetap nyeleneh. Contohnya Abrar ini. Dia punya pasokan kebahagiaan yang cukup untuk menekan setiap beban dalam pekerjaan, membuatnya sangat happy kemana pun dia melangkah. Kadang, Sadena iri padanya. Kok bisa, selalu tersenyum padahal yang ini kamu lakukan saat itu hanyalah memberengut sepanjang hari karena masalah yang menganggu?
Radmilo, atau yah, sebut saja Amil, lantas menengok ke arah Abrar dan Sadena. "Udah deh, Rar, jangan gangguin Sadena. Liat tuh mukanya bete banget kayak pengen ngelindes elu."
Sadena duduk di sofa nyaman tanpa mempedulikan cerocosan teman-temannya. Kemudian, Sadena membuka ponsel, menghela napas kesal ketika belum ada jawaban dari orang yang dia inginkan.
Giovano, atau Gio, melihat ke arah Sadena sebelum menyenggol satu teman lain yang masih sibuk dengan stik kontroler Wii-nya.
"Hibur tuh," ungkap Gio sambil berbisik.
"Lah, kenapa jadi gue?" tanya temannya tidak terima, masih fokus pada layar televisi. Suaranya yang cukup keras membuat Sadena mendongak. Temannya itu menyadari kebodohannya, kemudian melanjutkan. "Lah... kenapa jadi gue yang harus mandiin istri kucingnya tetangga gue?"
Suasana hening untuk sesaat, semua melihat ke arah satu teman mereka yang ngomong hal aneh itu, sampai akhirnya Sadena memanggil namanya, pelan dan singkat.
"Nami."
Namira atau Nami menoleh dengan wajah, 'ah, kena masalah lagi nih, gue'. Membuat senyumnya jadi seperti orang sakit gigi.
"Y-Yeee?" tanya Nami.
"Sini. Duduk," perintah Sadena. Menepuk tempat duduk di sebelahnya.
Abrar dan Amil duduk kembali, kemudian saling bertatapan dan geleng-geleng kepala. Gio menghela napas dan mulai main Wii kembali, sementara Nami beringsut duduk di samping Sadena.
"Talk," ucap Sadena.
"Ngomong apa?" Nami meringis takut.
Sadena mengangkat bahu. "Yang lo pikirin sekarang."
Kini Gio berhenti memainkan Wii, membuat suasana menjadi lebih tegang dibanding seharusnya. Kepalanya memang masih menunduk menatap stik di tangan, tapi Gio mendengar awas percakapan Nami dan Sadena.
Sadena lantas menotong. Suaranya sangat dalam dan berat. "Hana nangis?"
"E-Enggak, kata siapa nangis? Yeee... emang kenapa harus nangis?" tanya Nami sambil tersenyum canggung. "Gue main lagi, ya! Gio udah nungguin tuh."
Nami bangkit menuju tempat awalnya berada, di sebelah Gio. Namun Sadena mencegat tangan Nami hingga perempuan itu terpaksa menoleh ke arah Sadena.
"Hana nangis?" pertanyaan yang Sadena ulang kini penuh penekanan dan awas. Seolah kali ini, Namira tidak boleh berbohong lagi.
Gio dengan cepat beringsut ke arah mereka dan melepas tangan Sadena dari Nami. "Den."
Sadena menatap Gio tepat di matanya, tajam. "Gue cuma nanya. Santai aja kali."
Gio tetap menahan tangan Sadena untuk waktu yang cukup lama, hingga akhirnya dia mengalah dan melepasnya. Sadena menatap Nami, meminta jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Sadena beberapa saat lalu.
Lidah Nami kelu, namun bibirnya tetap mengatakan satu hal, "ya," membuat Sadena dipukul oleh sebuah rasa yang ia benci.
Rasa bersalah.
===============
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.