BAB 33

105K 11.6K 1.8K
                                        

"Aku gak mau salah tangkap lagi terhadap segala perhatianmu. Karena aku tahu, semua ini hanya berdasarkan rasa kasihan, kan? Jadi cukup, sampai di sini saja. Mari sekarang bersandiwara."

'~'~'~'

MENJADI aktris atau aktor, kalian harus siap untuk terjaga hingga larut malam. Untuk mempersingkat waktu, syuting selalu berakhir di atas jam satu pagi. Hal ini baru bagi Sandra, sehingga dia, yang tidak memiliki manajer atau teman yang menemani, harus bisa melakukan semuanya seorang diri. Bodohnya, Sandra lupa membawa jaket karena udara mulai terasa dingin hingga napasnya sesak.

"Nih, pake," ucap Sadena sekasual itu di basecamp, melempar selimut berwarna abu-abu ke arah Sandra.

Sandra yang sedang membaca teks skenario lantas tak sempat menangkapnya. Benda bertekstur lembut itu sukses mendarat di wajah. "Sadena!"

Sadena hanya tertawa geli melihat kelakuannya dan kembali ke lokasi pengambilan take—iya, dia ke basecamp hanya untuk memberikan Sandra selimut karena tahu bahwa perempuannya seceroboh itu, sementara Sandra, masih dengan misuh-misuh, hanya bisa memakaikan selimut itu ke sekeliling pundaknya dan merasakan kenyamanan di sana.

Wangi Sadena, ucap Sandra sambil tersenyum-senyum. Sadar dengan senyum itu, Sandra menampar dirinya sendiri dengan keras. Inget Yudith.

Ladit yang tak sengaja menyaksikan kejadian itu, hanya bisa melongo.    

Ketika giliran Sandra mengambil take, ekor matanya melihat Sadena sedang mengobrol dengan manajernya. Entah karena Sadena orang yang peka atau Sandra terlalu terang-terangan, hingga laki-laki itu berbalik arah dan menatap tepat ke manik mata Sandra. Sandra terkesiap hingga menjatuhkan beberapa properti.

"Maaf! Maaf!" serunya kikuk berusaha membetulkan properti itu ke posisi semula.

Farah, tim kru yang pertama kali membantu Sandra mencari basecamp ikut berjongkok menaruh kembali tumpukan buku ke meja.

"Kenapa, San?" tanya Farah dengan senyum kecil di wajahnya.

Rona merah di wajah Sandra begitu kentara di antara lampu syuting, membuat Farah langsung mengetahui jawabannya.

"Oooooh."

"Kak Farah jangan gitu, ah!" seru Sandra akhirnya, benar-benar malu.

"Aku cuma ngomong 'oooooh' doang kok, San."

"Ya tapi, 'oooooh'-nya itu penuh makna," Sandra cemberut seiring berdiri. "Makasih, Kak, udah bantuin."

"Oke, scene 33 sudah bagus. Scene terakhir untuk hari ini," instruksi Seth pada Astrada untuk mengatur set di tempat lain.

Giliran Sadena sudah selesai dan dia bisa pulang sekarang, namun laki-laki itu malah duduk di bangkunya seraya menonton Sandra mengambil take bersama Thama, Hana, dan satu aktor lain yang berperan menjadi Leon. Sandra menyadari itu dan merasa kagum pada sikap Sadena yang ingin menunggu aktor-aktris lain atas dasar solidaritas.

Yang Sandra tidak pahami adalah, Sadena menunggu bukan untuk semua aktor. Tapi hanya untuknya.

Pengambilan take itu memakan waktu satu jam. Pertama karena aktor yang berperan menjadi Leon sering salah kata, kedua karena wajah Thama selalu jutek, dan ketiga karena Hana lupa dialognya. Kesalahan Sandra hanyalah rambutnya yang berantakan hingga berbeda bila dilihat dari tiap scene.

Seusai syuting, Seth memimpin do'a untuk mengakhiri kerja hari ini. Semua orang sudah sangat lelah dan ingin cepat pulang, begitu pula Sadena. Tapi, toh, di rumah dia hanya numpang tidur sebelum subuh berangkat kembali ke lokasi syuting.

S: Sadena, Sandra & SandiwaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang