Bahagia itu sederhana.Seperti pasalnya pagi ini Siswa-Siswi SMA Harapan diperbolehkan pulang lebih awal karena suatu alasan.Membuat seisi sekolah histeris karena bahagia.
Kesempatan ini tentu tidak di sia-siakan begitu saja.Banyak yang sudah membuat rencana.Ada yang ingin nongkrong, makan-makan, nonton, bahkan geng Fito yang terkenal usil berencana menggoda cabe-cabean yang biasa ngumpul di persimpangan.
"Biasa,buat cuci mata"ucapnya santai sampai menyandang tas.
Tak terkecuali Alea, Luischa, dan Refa.Mereka akan bermain di rumah Luischa hingga petang.Kebetulan Alea tidak ke toko buku hari ini.Okta tak bisa ikut karena sudah ada rencana lain dengan pacarnya.Membuat trio jomblo harus berdecak iri.Apalagi Refa.
"Sorry,ya, hari ini gue ga bisa ikut gabung, soalnya udah ada janji sama Rendi"Ucap Okta.
"Iya iya yang ada pacar mah gitu ya"Refa mengibas-ngibaskan tangannya di udara.
"Makanya cari, dong! Ga bosan nge jomblo mulu"Okta mencibir Refa.
"Awas, ya bentar lagi gue bakalan dapetin si Vino"
"Kaya Vino mau aja ama lu"
"Iih Okta jahat ih"Refa menutup mukanya dengan telapak tangan.Merasa malu atau apalah.Alea dan Luischa tertawa melihat perdebatan itu.
Alea tertawa.Merasa menjadi dirinya yang utuh apalagi lagi saat bersama teman-temannya. Bukan saat di rumah apalagi malam hari.Kosong. Benar-benar kosong.
"Yaudah yuk berangkat"
"Tunggu-tunggu gue lupa kalo disuruh ketua osis ke ruangannya bentar, bentar aja,Oke?"Alea menengahi lantas langsung keluar menuju ruang osis.Berjalan agak terburu-buru karena yang lainnya menunggu.Segera masuk saat tiba dan Erlan, ketua osis SMA Harapan, sudah menunggu sambil mengoreksi beberapa bahan.
"Ooh, gue kira lo lupa" Erlan mengalihkan pandangannya dari kertas menghadap Alea.
"Ada apa,Kak?"Tanya Alea sambil duduk di kursi yang disediakan.
"Oke,to the point aja ya,Lo inget kan sekolah kita bakal diadain kompetisi kimia, matematika, dan biologi? Nah, nama lo gue masukin ke panitia bidang matematika.Acara bakal kita laksanain tiga minggu lagi, dan untuk acara itu kita butuh persiapan besar, lo siap kan?"
"Koordinator bidang mtematika siapa ya, kak?"
"Koordiantornya..."Erlan mengecek berkas-berkas di tangannya lantas menyebutkan sebuah nama "Laskar Dewangga"
BRUUUK!
Alea kaget,sedikit membuat gerakan hingga akhirnya harus terjatuh dari kursi.Erlan yang bingung langsung bangkit dan membantu Alea untuk kembali ke posisi semula.Alea langsung memerah karena malu.
"Hmm, Laskar Dewangga kelas
Sepuluh-Ipa-Tiga, kak?"Tanya Alea memastikan agar tidak salah orang.Erlan mengangguk mantap. "Bukannya dia agak...nakal ya kak?"Lanjut Alea berkata hati-hati.
"Memang, tapi dia sendiri yang mengajukan diri menjadi bagian kepanitiaan,juga dari informasi yang diperoleh dia pernah jadi Juara kompetisi matematika nasional waktu kelas delapan SMP"Erlan menjelaskan."Dia juga yang ngajuin kamu masuk ke panitia matematika"
"Hah?Seriusan kak?"Alea ternganga.Semuanya begitu mengejutkan.
"Iya,kamu siap kan?"
"Nggg--ngg sii siap kak"Alea mengangguk terpaksa. Membuatnya kembali teringat saat mereka sama-sama cabut dua hari yang lalu.Itu pertama kali mereka kenal,mengapa Laskar sudah seperti sudah lama mengenal Alea? Ia bertanya pada dirinya sendiri.Lalu keluar dari ruang Osis dengan tebak-tebakan pemikiran.
***
Mereka berkumpul di kamar Luischa.Dengan beberapa cemilan dan jus jeruk segar di atas nampan.Lili, ibu Luischa, yang mengantarnya lima menit yang lalu.Refa membaca beberapa majalah remaja yang tersusun rapi di rak.Luischa sedang melapisi wajahnya dengan krim. Dan Alea tengah hanyut dengan pikirannya tentang perkataan ketua osis tadi.Ia menatap langit-langit kamar.
"Mikirin apa Al?"tanya luischa yag menyadari kelakuan Alea dari tadi.
"Laskar"Jawab Alea jujur tanpa sadar.Spontan Luischa langsung membuang krimnya dan Refa langsung membuang Majalahnya.Langsung mendekat ke arah Alea dengan perhatian penuh.
"Eh kalian ngapain?"Alea kaget mendapati kedua sahabatnya sudah muncul di hadapannya dengan wajah penuh selidik.
"Laskar Dewangga, Cogan dari kelas sepuluh"Serobot Luischa.
Alea mengerinyit,"Laskar? dia kenapa?"
"Ngapain lo mikirin dia?"Kali ini Refa yang bertanya.
"Tau dari mana?gue ga mikirin dia kok!"Luischa dan Refa langsung memundurkan wajahnya.
"Trus ngapain nyebut nama dia tadi?"
"Kan kalian yang nyebut?" Huh,dasar Alea benar-benar tidak sadar.Luischa berdecak sebal sambil kembali mengoles krim di wajahnya.
"Kak Nathalia ada perkembangan, Al?"Luischa bertanya.Jika diperhatikan baik-baik muncul sekelebat raut murung di wajah cantik Alea.Namun itu langsung di tutupi dengan ekspresinya yang lain.Memang,yang tau soal Nathalia cuma Luischa,Refa, dan Okta.Itu pun karena Alea sudah percaya dengan persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak mereka masih SMP.
Alea menggeleng "belum".
"Gue kangen sama kak Natha, udah lama ga jengukin, bilangin ya, Al,kapan-kapan kita main ke sana lagi kita bakal bawain martabak kesukaan dia.Terus mudah-mudahan kak Natha mau diajak main ke taman"Ucap Refa.
Alea menggangguk lemah "iya"
"Kalian tau,gak, acara kompetisi yang akan di adain sekolah kita?"Tanya Alea kemudian mengalihkan pembicaraan. Luischa dan Refa mengangguk.
"Denger-denger yang jadi panitia bukan cuma OSIS, tapi siapa yang minat boleh daftar"Jelas Refa.Ia meraih Jus jeruk dan sebungkus cemilan.Melahapnya sambil terus membolak-balik majalah.
Alea menerima lemparan bungkus cemilan dari Luischa yang juga sedang mengambil beberapa.
"Oh iya, lo ngapain aja cabut dua hari yang lalu bareng laskar? Lo belum cerita, kan?"Tanya Luischa.Cerita merembes ke hal-hal lain.Krim di wajahnya sudah merata.
"Iya, Al, Cerita dong" bujuk Refa.
"Pagi itu gue diserempet sama mobilnya Laskar, terus Laskar cuma mau tanggung jawab ngobatin luka gue, udah itu aja!"Alea santai menjawab seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ga ada yang sweet-sweet nya gituu?"
"Sweet? Emang lo kira kita pacaran ,bego"
"Ya kali aja kan, kalo udah gitu mah biasanya bakal berbuntut panjang"Luischa menaik-naikan alisnya.
"Buntut ayam"Alea mendengus. Bangkit dari posisinya sekarang.Mengambil jus jeruk di nampan lantas berjalan menuju balkon rumah Luischa yamg memang berada di lantai dua.Menikmatinya disana.
Mendadak ia jadi teringat balkon di rumahnya.Dimana tempat itu sudah sangat lama tidak ia pijak.Entahlah apa kabar dengan kondisinya sekarang.Pagarnya yang sudah tertelan karat, dindingnya yang mungkin sudah berlumut.Atau beberapa tanaman di dalam pot yang mungkin sudah ditumbuhi rumput liar.
Raut wajahnya berubah. Menandakan ia rindu saat-saat dimana ia dan keluarga kecilnya menikmati senja di balkon itu.Ditemani dengan teh hangat mereka asyik dengan ocehan Alea kecil dan Nathalia kecil yang tak henti-hentinya.Begitu ceria.Sesibuk apapun Papa dan Mama mereka pasti menyempatkan waktu untuk hal sederhana itu.Namun memang dunia begitu kejam.Ada-ada saja orang yang tak suka melihat orag lain bahagia.Bahkan berusaha menjatuhkan.Apa pun caranya.
Alea tertawa.Tawa yang lebih tepat untuk menghina keadaannya saat ini.Dirinya yang tak pernah luput dari bayangan masa lalu.Sejauh apapun ia pergi.
Sial! Alea makin tertawa miris.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Laskar Pelangi Alea
Teen Fiction[S L O W _ U P D A T E] Tentang Alea yang dirundung mendung, banyak lara. Tentang masa lalu kelam yang terlampau menampar dengan paksa. Sakit, trauma berkepanjangan. Alea rapuh. Hanya ingin bahagia. Alea parau, bahkan tercekat. Laskar mungkin ingin...
