Hari ini keberangkatan menuju bumi perkemahan. Seluruh siswa dan beberapa guru sudah berkumpul di halaman sekolah, menunggu transportasi yang akan mengantar mereka. Alea juga sudah bersiap, berkumpul bersama ketiga sahabat baiknya.
Alea sudah bersiap akan segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Bagi Alea ini tantangan, dan memang dari dulu Alea suka tantangan walau tidak se'ekstrem' ini. Alea memperbaiki topi yang ia kenakan, menoleh ke sekitar lantas pandangannya menangkap Dania yang tengah memperbaiki letak ranselnya. Alea mendekat, sedikit tau sesuatu.
"Dan?" Sapanya pelan. Dania mendongak dari ransel yang tengah ia periksa kembali. Tersenyum tulus.
"Hei Al? Gue kira lo gak bakal ikutan" Dania mengangkat kembali ranselnya lalu menyandangnya diantara lengan.
"Iya, gue ikut dong, kan wajib juga" jawabnya basa-basi, "Dan? Thanks ya"
Dania kembali menoleh, "Thanks? Buat apa?"
"Gue tau lo yang manggil temen-temen gue waktu gue nabrak lo tempo hari" Alea tersenyum tulus.
Dania mengingat, lalu balas tersenyum. "Ah? Cuma itu kok,"
Alea terkekeh.
"Padahal gue udah bilang mereka supaya dirahasiain dari lo, eh ternyata dikasih tau" Dania tertawa kecil, teringat kala ia meminta Luischa, Refa, dan Okta agar merahasiakan hal tersebut dari Alea.
"Ngg? Gak kok, gue tau sendiri"
"Eh?" Dania terheran, melongo menatap Alea, "Serius?"
Alea mengangguk, meraih tangan Dania pelan, "Pokoknya Thanks banget, Dan. Itu berarti banget buat gue, lo orang baik" lalu tersenyum tulus.
Dania balas tersenyum tulus, "lo bikin gue malu" lantas memukul pelan lengan Alea. "Santai aja, yang penting lo kalo ada sesuatu jangan di pendam sendirian, jangan jadi egois" Lantas menepuk-nepuk pelan bahu Dania.
Alea mengangguk. Ia sedang berada di antara rombongan kelas Dania, IPA. Matanya menjelajah dan tak jauh dari sana Alea melihat beberapa teman dekat Dania lainnya. Ada Arga- sang pacar, Thomas, Micheil, dan Ray. Tak ada Laskar. Dania menyadari sesuatu yang tengah diperhatikan Alea.
"Nyari Laskar? Dia kan gak dateng" celetuk Dania.
Alea menoleh lantas menggeleng cepat, "Ah gak kok, siapa yang peduli?"
Alea lupa, tepat dihari yang sama ketika mereka bertengkar Laskar juga bilang demikian.
Oh, jadi dia beneran gak datang?
Alea tak mengerti apa yang ia rasakan setelahnya. Ia pikir, kebencian. Itu saja.
Dania menaikkan sebelah alisnya, "lagi beran-"
"PERHATIAN-PERHATIAN KEPADA SELURUH PESERTA PERKEMAHAN SEGERA MEMBUAT BARISAN"
"Hah? Eh gue ke rombongan dulu, pokoknya thanks, sampai jumpa di lokasi" Alea melambaikan tangannya lantas berlari setelah sebelumnya ucapan Dania terpotong oleh instruksi ketua acara. Dania menautkan alisnya heran.
"Ada yang aneh?"
***
Laskar sudah sampai di rumah sang eyang. Setelah tadi pagi akhirnya Laskar dan papanya telat bangun akibat bercerita hingga tengah malam. Padahal sang papa sendiri yang sudah mewanti-wanti agar berangkat pagi sekali. Mereka adu mulut sekilas lantas segera bersiap-siap. Sepanjang pagi gerutuan dari papa yang masih saja terdengar.
Sekarang Laskar tengah duduk di sofa ruang tengah keluarga. Menikmati suasana rumah khas eyangnya yang dulu pernah Laskar tinggali selama tiga tahun. Ya, hanya tiga tahun pertama kehidupan Laskar lalu keluarga kecil mereka memutuskan untuk pindah saat papa sudah mendapat pekerjaan tetap. Laskar menyesap tehnya. Mengecek ponsel saat sebuah foto yang dikirim Thomas mengalihkan perhatiannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laskar Pelangi Alea
Teen Fiction[S L O W _ U P D A T E] Tentang Alea yang dirundung mendung, banyak lara. Tentang masa lalu kelam yang terlampau menampar dengan paksa. Sakit, trauma berkepanjangan. Alea rapuh. Hanya ingin bahagia. Alea parau, bahkan tercekat. Laskar mungkin ingin...
