Alea pulang, menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan tas yang masih dibiarkan tergeletak sembarangan. Tersenyum kecil, ternyata ia salah menyangka, yang terjadi justru kebalikan dari apa yang ia pikirkan. Laskar sangat pandai memimpin, ia dengan sisi lain dari dirinya yang sukses membuat Alea terkagum. Perintahnya bersih membuat siapa saja menuruti dengan patuh tanpa dumelan. Mungkin benar saja jika cowok itu akan nekat mencalonkan diri sebagai ketua OSIS tahun depan, lalu cerita ini berganti judul menjadi Ketua OSIS Pelangi Alea. Alea bergelung kekiri, mengambil ponselnya.
Sebuah pesan masuk dari kontak bernama Laskar Pelangi 🌈
Laskar Pelangi 🌈
Jangan lupa makan, sayang.
Alea mendengus geli membaca pesannya. Walau tak pelak pipinya memanas bahagia. Tak lama tangannya lekas menari-nari membalas pesan tersebut.
Alea Megan Sabrina
Gila, Alay.
Laskar Pelangi🌈
:(
Laskar Pelangi🌈
I love you
Alea Megan Sabrina
I love me too
Laskar Pelangi🌈
:)
Alea tergelak, tak lagi membalas pesan dari Laskar. Lekas menyimpan ponselnya. Namun kini dadanya bergemuruh lalu seolah ada ribuan kupu-kupu yang memporak-porandakan isi perutnya. Pipi Alea memanas hingga ia harus menenggelamkan wajahnya di dalam bantal untuk mengontrol senyumnya yang terlampau lebar. Alea belum pernah pacaran sebelumnya dan ia baru tahu jika rasanya jatuh cinta se absurd ini.
Alea duduk, mengatur napasnya pelan-pelan. Benar, jika begini terus Alea takut jika ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Alea menghela napas lantas teringat satu hal, kostum. Ia segera bangkit dan berganti pakaian. Senja ini pun ia harus menunggui Nathalia di rumah sakit.
Alea sudah mengenakan baju rumahan, rambutnya dicepol tinggi lalu mulai membuka lemarinya. Meneliti satu persatu pakaian yang ada disana. Barangkali ada yang cocok untuk ia kenakan. Nihil, hingga setengah jam kedepan mengacak isi lemarinya Alea tak menemukan apapun. Hingga ia teringat jika ada satu lemari besar yang berisi lebih banyak pakaian. Siapa tau ada yang menarik. Namun, masalahnya lemari itu ada di kamar mama. Kamar yang tak pernah lagi ia pijak sejak bertahun-tahun lamanya. Alea mengigit bibir bawahnya kesal.
Satu hal yang terpikirkan olehnya saat ini adalah, rasa senang saat bisa memghilangkan trauma skala kecilnya akan kolam berenang. Jujur saja, Alea candu oleh perasaan itu walau tidak dengan prosesnya. Ia menerawang, memikirkan hal apa yang harus ia lakukan sekarang, masuk kesana atau tidak.
Entah mengapa tubuhnya berkhianat saat ia belum usai berpikir. Kakinya bangkit lantas melangkah pelan-pelan. Alea membuka pintu kamar, mendongak keatas untuk melihat lantai dua rumahnya serta tangga marmer yang menghubungkan kedua lantai. Ia patah-patah berjalan, menggapai anak tangga pertama ketika dingin pada telapak kaki terasa menjalar hingga ke ulu hatinya. Alea menggeleng, berusaha fokus. Berusaha menghindari segala sugesti dimana hanya akan membuatnya kembali lemah. Alea tak ingin terpedaya lagi. Banyak hal yang sudah ia alami dan entah kenapa dititik ini ia sadar jika ia sudah dikendalikan oleh mimpi-mimpi itu.
Terjebak di kolam itu membuatnya panik, namun saat ia memutuskan berani, ia bisa.
Membawa kakak ke klinik adalah ketakutan, takut akan kehilangan kembali. Namun saat ia memutuskan berani, Nathalia mampu menggerakan bola matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laskar Pelangi Alea
Teen Fiction[S L O W _ U P D A T E] Tentang Alea yang dirundung mendung, banyak lara. Tentang masa lalu kelam yang terlampau menampar dengan paksa. Sakit, trauma berkepanjangan. Alea rapuh. Hanya ingin bahagia. Alea parau, bahkan tercekat. Laskar mungkin ingin...
