Itu dia di depan sana, Laskar mematung sesaat. Aleanya kembali diserang trauma masa lalu, kembali ketakutan, kembali menangis. Tangan Laskar terkepal kuat, ia semakin menyesal akan sesuatu yang tak jelas.
Laskar berlari. Duduk lantas memeluk penuh tubuh mungil Alea. Meredam tangis Alea dengan pelukannya. Memeluk gadis itu seolah ia adalah hal paling rapuh yang Laskar punya. Merasakan rasa sayang yang kian hari kian besar. Menikmati khawatir jika gadis ini diambang kesedihan.
"Al? Ada gue disini, rasain ada gue disini Al" Laskar berbisik pelan. Memeluk bahkan kini mengecup puncak kepala gadis itu, mengelus punggungnya.
Laskar memang tak tau sedalam apa rasa sakit yang Alea tanggung sepanjang hidupnya. Berapa kali Alea menangis menahan sesak pada hatinya. Laskar merasa ia juga harus turut merasakan kesedihan yang gadis itu alami. Ia harus ambil bagian, bukan malah menyalahkan kehidupannya sendiri. Setidaknya mama masih selalu ada untuk Laskar walau tak bisa berbuat banyak, Laskar masih punya papa yang sehat. Tapi Alea ia tak punya siapa-siapa. Alea harus menjalani kehidupannya sendiri tanpa ingin berbagi. Tak ingin menjangkau orang lain dalam kesedihan. Hingga Alea sendiri tertikam luka berat.
Laskar semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Beberapa detik kemudian Alea berangsur tenang. Memang serangan ini tak lama, sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Namun membuat Alea tak sadarkan diri setelahnya. Entah karena apa, mungkin ia terlampau lelah menanggung kepedihan.
Laskar kembali memeluk Alea dalam. Gadis itu sudah diam. Matanya memejam dengan wajah tak damai. Bekas tangisan ada dimana-mana.
"Al? Lo baik-baik aja kan?" Bertanya pada diri Alea yang membisu. Hembusan angin cukup menjawab pertanyaan itu.
Hal buruk yang gadis itu alami tepat di depan Laskar memaksa cowok itu harus ikut serta didalamnya.
"LASKAR?" Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar. Beberapa semak di sebelahnya tersibak. Arga, Dania, Luischa, dan Amanda muncul. Wajah keempatnya khawatir. Luischa bahkan langsung berlari ke arah Alea.
"Kar? Lo baik-baik aja kan?" Dania berteriak. Lebih memilih memeriksa keadaan Laskar terlebih dahulu. Laskar hanya mengangguk pelan. Luischa menatap tajam pada Laskar.
"Kar? Lo tau apa tentang Alea? LO TAU SATU HAL YANG PENTING KAN? KAR!" Luischa berteriak. Mendorong Laskar dengan sebelah tangannya yang bebas.
Laskar terduduk lantastertunduk. Hening saat Laskar menyisir pelan rambutnya ke belakang.
"KAR JAWAB GUE!" Luischa semakin mendesak. Kembali berusaha mendorong Laskar namun Amanda dengan cepat mencegahnya. Merangkul Laskar.
"Iya Luis, gue tau sesuatu, tapi sekarang bukan waktu yang pas buat-"
"MAKSUD LO APA LASK-"
"cuma Alea yang berhak kasih tau kalian soal semua ini. Gue akan pastiin Alea kasih tau kalian semua soal ini"
Luischa diam. Merasa menyesal sudah menyalahkan Laskar, padahal disini Laskar yang membantu Alea.
"Luis, lo yang tenang ya, kita disini juga gak tau apa-apa, lebih baik sekarang kita bawa Alea keluar dari sini" Dania menengahi. Luischa mengangguk samar.
Laskar membawa Alea dengan mengangkat lutut dan punggungnya. Membawanya keluar hutan diikuti yang lainnya. Laskar hanya mampu diam, ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Alea. Ada banyak hal bahkan terlalu banyak hal.
Namun sekarang yang harus Laskar lakukan hanyalah membawa Aleanya keluar dari sini. Laskar terus melangkah hingga sebuah bisikan dari Amanda mampu membuatnya yakin segalanya akan baik-baik saja.
"Pertahanin semua yang kamu sayang, Kar, pertahanin semuanya"
***
Gadis dengan rambut legam itu perlahan membuka mata, menguap pelan. Seluruh tubuhnya terasa penat dan ingin kembali melanjutkan tidur. Namun suasana asing disekitarnya membuat kesadarannya kembali tiga kali lebih cepat. Alea duduk lantas menatap sekitar, ini dimana?
Terakhir kali Alea ingat ia berada di dalam hutan. Ya, ia kabur ke hutan dan terserang mimpi-mimpi sialan yang teramat ia benci itu. Alea tak ingat apa-apa lagi setelahnya. Ia mencoba mengingat, menelungkupkan wajahnya diantara kedua lutut yang ditekuk. Namun nihil, satu kepingan pun tak dapat ia ingat setelah pukul sepuluh menit ke lima puluh sembilan. Alea pikir sebentar lagi ia akan gila.
Alea kembali duduk tegak. Menatap sekitarnya, ruangan ini dua kali luas kamarnya. Terasa hangat dengan furnitur berwarna serba kopi susu. Dua lemari besar dengan sebuah nakas disampingnya. Satu nakas serupa disamping Alea. Dua sofa kecil diujung ruangan, bunga-bunga tiruan, dan satu penghangat ruangan. Semuanya terlalu nyata bukan sekedar delusi.
Tiba-tiba pintu terdorong dari luar. Alea mendongak, segera duduk di tepi ranjang dengan kaki yang menjuntai ke lantai parket kayu. Takut-takut dan awas. Hingga dari balik pintu muncul seorang wanita setengah baya dengan senyum hangat. Ia sedikit kaget lantas tersenyum senang saat tau Alea sudah bangun.
"Selamat pagi neng, akhirnya bangun juga" wanita itu tersenyum, "panggil aja bibi Derimah, pembantu di keluarga ini" dia, bibi Darimah, tersenyum hangat. Meletakkan susu hangat dari atas nampan ke atas nakas disamping Alea lantas mempersilahkan Alea untuk minum. Alea hanya diam, masih mencoba mengerti akan situasi yang tengah terjadi.
"Neng sakit ya? Tadi malam nak Laskar bawa neng kesini, neng kayaknya capek banget. Bibi gak tega, akhirnya ketika neng diantar ke kamar bibi gantiin baju neng" bibi Darimah bercerita. Alea seketika memeriksa pakaiannya, benar saja pakaiannya sudah berubah.
Alea kembali menatap bibi Darimah, memastikan satu kata agar tak salah. "Laskar?"
bibi Darimah mengangguk, "Iya nak Laskar, emang kenapa neng?"
"Saya dimana?"
"Neng di rumah eyangnya nak Laskar"
"Kenapa bisa?" Alea masih belum mengerti. Setaunya ia dan Laskar masih dalam situasi tak menyenangkan.
"Iya, tadi malam nak Laskar bawa neng kesini,"
"Laskar? Bawa saya kesini?" Bibi Darimah mengangguk lembut.
Alea mencoba mencerna semua sebisanya. Laskar membawanya kesini berarti Laskar menemukan dirinya di hutan malam tadi. Tapi kenapa bisa? Bahkan Alea yakin tak ada satu pun yang tahu soal dirinya yang masuk kehutan diam-diam. Laskar membawanya kesini berarti Laskar telah membantunya. Laskar, ah semuanya membingungkan.
Alea kembali menatap bi Darimah dengan tatapan bingung. Bi Darimah tersenyum lembut.
"Kalo gitu bibi panggil nak Laskarnya ya, udah pesan tadi kalo neng Alea bangun buat dikasih tau, tunggu bentar ya" bi Darimah berkata lembut lantas keluar dari ruangan. Alea hanya bisa mematung, beralih menatap garis dari lantai parket kayu dengan tatapan kosong.
Semuanya membingungkan.
Hingga tak lama, seorang dengan kaus putih santai datang mendorong pintu dari luar. Masuk, lantas duduk dengan tenang di sofa kecil ujung ruangan dengan mata yang tak lepas dari Alea. Alea balas menatap Laskar, jarak mereka cukup jauh namun Alea bisa lihat dengan jelas banyak bekas goresan basah di kaki Laskar.
Apa benar laki-laki itu membantunya? Alea masih belum bisa terima. Kejadian hari itu terlampau membekas.
"Maksud lo apa?" Alea bertanya. Membuka rasa ingin taunya lebih dulu setelah hampir dua menit tak ada yang mau berbicara.
Laskar diam. Beralih menatap kearah lain selain Alea.
"Maksud lo apa hah? Mau permainin gue lagi? Belum puas?" Alea bersusah payah menahan nada suaranya agar tak memaki Laskar. Ia bahkan belum paham apa yang terjadi.
Laskar masih mematung. Alea menyerah.
Hingga akhirnya Laskar bangkit. Mengucapkan satu kata yang menbuat Alea semakin tak mengerti akan segalanya.
"Al, ikut gue"
***
Next kapan nih? Karena klo ku bikin satu part terlalu panjang hehehe
Jangan bilang besok :p
KAMU SEDANG MEMBACA
Laskar Pelangi Alea
Genç Kurgu[S L O W _ U P D A T E] Tentang Alea yang dirundung mendung, banyak lara. Tentang masa lalu kelam yang terlampau menampar dengan paksa. Sakit, trauma berkepanjangan. Alea rapuh. Hanya ingin bahagia. Alea parau, bahkan tercekat. Laskar mungkin ingin...
