Bunyi pintu berderit ringan bergesek engsel. Suasana tak asing menerpa penciuman. Ruangan tak asing menjajah penglihatan. Seakan belum cukup, kenangan singkat menyapu pikiran dalam sekejap. Alea berdehem, berusaha menghapus pergi semua yang acap kali mengganggunya.
Ini rumahnya, Alea sudah pulang bersama Laskar dan ketiga temannya yang datang. Tak lupa ada dokter Mariska dan dua orang tim yang siap membantu Alea sore ini. Alea masuk lebih dulu, melangkah menuju kamar Nathalia. Nathalia adalah objek utama mereka kali ini. Nathalia akan diberi langkah baru atau mungkin dipaksa diberi langkah baru kali ini. Alea membuka pintu, masuk ke kamar Nathalia.
Nathalia tetap sama saja, diam mematung menatap lurus kedepan. Hanya kelopak matanya yang berkedip menandakan ia masih bertahan hidup. Alea menyapu rambut Nathalia yang Menutupi dahi. Rambut Nathalia memang sudah mengganggu. Alea mengecup pipi Natahlia lembut.
"Hari ini kakak akan ambil langkah besar ya, maafin adek, tapi semua ini adek lakuin demi kakak" Alea berkata lembut. Kembali mengecup pipi Nathalia. Tak ada jawaban, tentu saja.
Laskar datang, ikut masuk lantas menarik kursi. Duduk di sebelah Nathalia dan Alea yang duduk diatas tempat tidur. Luischa, Refa, dan Okta menunggu di pintu. Menjinjing martabak kesukaan Nathalia yang memang selalu mereka bawa jika berkunjung.
Alea berusaha menyembunyikan raut takutnya. Ia harus tersenyum. Mengenggam erat tangan sang kakak.
"Percaya sama Alea kalo semuanya akan baik-baik aja, percaya sama Alea," Alea, jika sosok adek sudah serius.
"Kalo semua ini berhasil, kalo kakak pulih nanti, Laskar adalah orang paling berperan dalam semua ini kak, Laskar sangat berarti buat adek, Adek sayang sama kakak, Adek sayang sama.. Adek sayang sama Laskar kak, adek harap kakak cepat pulih biar kakak tau, kalo ternyata masih ada orang sebaik Laskar di muka bumi ini, Tuhan masih sayang sama kita kak, Adek yakin kakak kuat, adek disini juga akan kuat" sebulir air mata jatuh, Alea gagal terlihat kuat.
Laskar tertegun, menggapai pelan bahu Alea. Alea menoleh, tersenyum kecil.
"Cepat sembuh kakak, i love you" Lantas kembali mengecup kening Nathalia. Memeluknya erat.
Mereka keluar kamar, Laskar merangkul bahu Alea yang terasa sedikit bergetar. Dokter masuk setelah mengangguk pada Alea. Berkata untuk percayakan semua pada mereka. Alea tak sanggup lagi untuk mengangguk ataupun tersenyum. Alea tak sanggup lagi, hingga saat pintu kamar Nathalia tertutup sesuai permintaan Alea, lutut Alea lemas hingga ia terduduk dilantai dengan Laskar yang mencoba menangkap tubuhnya.
Luischa kaget, segera membantu membawa Alea ke kursi. Alea sudah memejamkam mata, menangis. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, menangis. Remuk, takut, cemas, semuanya bercampur menjadi satu. Refa datang, memberi Alea minum.
"Lo makan ya?" Ucap Okta pelan. Alea menggeleng. Yang ia inginkan hanya mengeluarkan seluruh air matanya, sekuat yang ia bisa. Okta menyerah, tak ingin memaksa. Luischa memeluknya, Laskar mengenggam serta mengelus pelan sebelah tangannya. Alea berubah menjadi sosok paling lemah dalam dirinya.
Dua puluh menit, sayup Alea bisa mendengar Nathalia bersuara kecil. Tak jelas, seperti mengerung. Alea mencoba diam, menghela napas, menenangkan dirinya. Semua ini pasti yang terbaik, semua ini pasti yang terbaik. Jangan kecewakan orang-orang baik yang menemani disini, jangan buat mereka sedih. Alea pasti bisa.
Tiga puluh lima menit, suara barang dibanting. Suara dokter yang berusaha membujuk. Nathalia berteriak. Suara dokter lagi. Hening. Hening. Nathalia terisak pelan. Nathalia berbicara pelan, tak jelas. Hei? Nathalia berbicara! Lalu berteriak lagi. Lalu suara berdebum. Dokter bilang jangan dengar mereka, siapa mereka? Hening. Hening. Hening.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laskar Pelangi Alea
Teen Fiction[S L O W _ U P D A T E] Tentang Alea yang dirundung mendung, banyak lara. Tentang masa lalu kelam yang terlampau menampar dengan paksa. Sakit, trauma berkepanjangan. Alea rapuh. Hanya ingin bahagia. Alea parau, bahkan tercekat. Laskar mungkin ingin...
