Alea membenarkan sekilas tatanan rambutnya di depan cermin. Beralih meraih kontak motornya di atas nakas. Setelah Laskar pulang semalam, Cowok itu kemudian memaksa Thomas mengantar motor Alea pulang. Dengan janji, Thomas akan ditraktir makan di kantin hari ini. Tentu saja Thomas yang semula terpaksa menjadi 'dengan senang hati'.
Seperti biasa, tak ada acara sarapan. Ia keluar rumah, ingin segera berangkat. Namun, sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang rumahnya membuat perhatian gadis itu tersita. Ia menyelidik, langsung tau jika itu mobil milik Laskar.
Oke, entah mengapa hati Alea berdesir.
Semalam ia baru saja menceritakan tentang sesuatu yang sungguh menyakitkan kepada orang lain- kepada Laskar. Ia menangis, dan Laskar memeluknya dari samping. Laskar memeluknya dari samping disaat ia memang sedang membutuhkan sebuah kehangatan, dukungan dan pernyataan bahwa ia tidak sendiri. Laskar hadir dan itu entah mengapa membuat jantungnya berdegup. Apa ia malu?
Entahlah, Alea mendekati mobil Laskar. Mengetuk kaca jendelanya dua kali, tampak Laskar membukakan pintu mobil dari dalam.
"Ngapain disini?" Seru Alea langsung. Oke, Alea yakin ia sanggup menghadapi ritme jantungnya yang mendadak menggila.
Laskar menoleh, tersenyum tipis, "Berangkat bareng, yuk!"
"Ke sekolah?"
"Ke gedung presiden"
Alea tergelak. Oke ini sepertinya tidak buruk. Laskar masih terlihat santai dan Alea juga tak ingin terlihat kikuk.
"Mau gak?" Laskar mengulang pertanyaannya.
Alea tersenyum miring, mengangguk dua kali, "Tapi gue masukin motor ke dalam dulu, ya"
Laskar mengangguk. Membiarkan gadis itu berlalu kemudian kembali untuk masuk ke dalam mobil. Mobil itu pun melaju meninggalkan pekarangan rumah Alea. Alea jadi teringat jika ini pertama kalinya ia dijemput lalu mereka berangkat bersama. Alea diam-diam menetralisir jantungnya yang mulai bisa dikendalikan.
Selama perjalanan Alea diam saja, sibuk menatap pemandangan di luar jendela tanpa berniat memulai percakapan. Laskar juga, menyetel musik. Membuat keduanya hanyut dalam melodi kebisuan hingga mobil itu berhenti di halaman sekolah. Alea turun lebih dulu, tanpa susah payah menunggu Laskar membukakan pintu untuknya. Lagi pula, Alea tidak yakin Laskar akan melakukan itu.
"Makasih, ya" ucap Alea tulus sambil menarik tali ranselnya. Laskar mengangguk, berusaha mengacak puncak kepala gadis itu, namun dengan cepat Alea menghindar. Membuat keduanya tertawa kecil.
"Btw, kok lo jadi jemput gue, sih?" Tanya Alea saat langkah mereka beriringan menuju kelas. Menapaki koridor yang mulai ramai. Alea memperhatikan beberapa pasang mata siswi di sepanjang koridor yang melihat dengan sorot yang berbeda ke arah Laskar. Seolah berkata 'wah, ada cogan lewat' dan Alea seolah merasa menjadi 'Ah, itu si cewek buluk ngapain jalan di sebelahnya?' Jujur, memang itu yang Alea rasakan saat di perhatikan orang-orang sedang berdekatan dengan Laskar. Walau, separuh jiwanya mengatakan 'untuk apa peduli?'
"Niatnya mau minta sarapan, gue laper, eh orangnya gak nawarin" Laskar pura-pura cemberut.
Alea menoleh, sedikit merasa bersalah, "Lo laper? Kenapa gak bilang? Aduh, gue 'kan gak tau"
Laskar menoleh,
"Lagian gue kan gak biasa sarapan"
"Gak biasa? Kenapa?"
"Males sarapan sendirian. Ga rame. Gue aja gak inget kapan terakhir kali sarapan. Sebelum kakak sakit kali, ya?" Alea mengapit dagu dengan tangan kanannya yang bertopang pada tangan lainnya. Laskar menatap iris gadis itu yang melihat kearah lain. Menyelami sorot kesepian dari sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laskar Pelangi Alea
Dla nastolatków[S L O W _ U P D A T E] Tentang Alea yang dirundung mendung, banyak lara. Tentang masa lalu kelam yang terlampau menampar dengan paksa. Sakit, trauma berkepanjangan. Alea rapuh. Hanya ingin bahagia. Alea parau, bahkan tercekat. Laskar mungkin ingin...
