"Laskar nyebelin, Laskar nyebelin, Laskar nyebelin!"
"Kenapa sih?"
Alea yang ditanya dengan sorot geli begitu oleh Luischa hanya cemberut kesal. Bagaimana dibilang gak nyebelin? Laskar yang katanya mau membelikan Alea bakso dari kantin malah mengantarkan mangkuk kosong. Mumpung kalo mangkuknya bersih, ini mangkuk kotor pula. Membuat Alea rasanya ingin memangsa Laskar tiba-tiba.
Alea menatap mangkuk kosong yang kotor itu di atas meja dengan sorot nanar.
"Udah kali santai aja, ke kantin yuk" Luischa mencoba menenangkan amukan Alea. Yang diajak langsung mengangguk. Enggan membawa mangkuk kosong itu kentin.
"Itu mangkuknya gak dibawa sekalian aja?"
"Biarin Laskar, kan dia yang tanggung jawab"
"Bawa aja sekalian, ribet amat sih, lagian juga ngotorin pemandangan gue mau belajar"
Alea berdecak, "kayak niat amat lo belajar"
Alea akhirnya mengalah, membawa mangkuk kosong. Luischa hanya tertawa kecil menanggapi kelakuan keduanya. Mencium bau-bau romantisme.
Mereka menuju kantin melewati koridor. Penglihatan mereka menangkap sekumpulan siswa yang tengah mengerubungi mading sekolah bagai semut mengerubungi gula. Tak pelak, membuat keduanya jadi penasaran.
"Ngelihatin apa ya?" Tanya Alea. Lalu menoleh pada Luischa.
"Gue denger, kayaknya bakal ada perkemahan sekolah minggu depan, tapi gak tau juga sih"
"Kemah? Tidur di alam gitu?"
"Yaiyalah, lo kira kemah tidur dimana? Di hotel?"
Alea malas, Alea tak akan mengikuti perkemahan ini. Bagaimanapun caranya. Pahamlah dan mengertilah. Alea tak ingin bergabung. Mendadak ia gusar.
"Liat yuk!" Ajak Luischa. Alea mengangguk. Patah-patah mengikuti langkah Luischa menuju mading dengan mangkuk kosong yang masih ia bawa. Memang masih berdesak-desakan, namun beberapa celah membuat mereka berhasil menyusup ke barisan depan. Membaca satu persatu huruf yang tertera disana.
"Perkemahan sabtu minggu, ekskul alam terbuka sekaligus pengambilan nilai seni budaya SMA Harapan, wajib bagi seluruh siswa kelas X dan XI" Luischa mengeja tulisan di mading. Menoleh pada Alea.
"Wajib, Al, wah kayaknya bakal seru nih!" Luischa mendadak bersemangat. Mundur untuk memberikan ruang kepada orang lain yang ingin membaca pengumuman itu. Alea susah payah menyembunyikan raut gusarnya. Berusaha tetap tersenyum, berusaha tetap terlihat biasa.
"Pokoknya kita berempat harus ikutan! Kita bakal satu tenda, ngobrol sambil makan kacang sampe pagi, pasti seru!" Luischa malah histeris. Mengguncang bahu Alea lumayan bertenaga, "Kita harus ikutan, Al, harus" seru Luischa bersemangat.
Alea hanya tersenyum kecil. Membuat Luischa berdecak, "Ikutan kan Al?" Tanyanya sekali lagi.
Alea tak bisa menolak. Ia tak mungkin membuat Luischa sedih. Lagipula, kegiatan ini mungkin saja menjadi tantangan tersendiri baginya melawan mimpi-mimpi sialan itu. Mungkin saja ini salah satu jalan agar Alea bisa melepas segala hal menyakitkan itu. Setidaknya mungkin, bersama teman-teman ia bisa lupa.
Memikirkan hal itu membuat Alea mengangguk, "Iya, kita ikutan"
Lalu Luischa bertepuk tangan layaknya anak kecil. Alea menghela napas panjang. Semoga saja, semoga saja tak ada hal-hal buruk terjadi.
Lalu satu panggilan untuk Alea. Membuat gadis itu menoleh. Laskar, dengan dua mangkuk bakso di tangannya. Alea langsung berseru jengkel. Menunjuk-nunjuk mangkuk kosong di tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laskar Pelangi Alea
Teenfikce[S L O W _ U P D A T E] Tentang Alea yang dirundung mendung, banyak lara. Tentang masa lalu kelam yang terlampau menampar dengan paksa. Sakit, trauma berkepanjangan. Alea rapuh. Hanya ingin bahagia. Alea parau, bahkan tercekat. Laskar mungkin ingin...
