[28]. Sarkastis

779 30 12
                                        

Alea kembali ke posisi semula, kacau. Kini kepalanya dengan malas tersembunyi di antara kedua lengannya di atas meja. Tak tahu apa yang harus ia lakukan sementara pikirannya tak lepas dari acara perkemahan yang akan dilangsungkan kurang dari dua hari itu. Alea sudah bertekad, mungkin ia bisa pura-pura sakit dan memaksa dirinya untuk tidur. Membeli obat tidur mungkin suatu pilihan yang buruk.

Alea tidak patut kecewa, ia tau itu. Ia sudah menampar hatinya berkali-kali jika ia tak patut untuk itu. Ia tak patut kecewa pada orang yang bahkan tak pernah berucap bahwa ia tak akan pernah mengecewakan Alea. Namun terlalu sulit, Alea mungkin bisa terlihat baik-baik saja namun berbeda keadaan dengan hatinya. Gadis itu diterpa badai baru.

Saat ini Alea tengah sendirian di ruang kelas dengan artian tanpa teman-teman dekatnya. Hal itu bisa membuatnya sedikit istirahat dari kecamuk pikiran yang tak kunjung mau berkesudahan. Hingga panggilan seseorang justru membuat Alea terpaksa bangkit dari lamunannya.

Laskar tiba-tiba datang. Menarik sedikit rambut Alea hingga gadis itu meringis lalu menoleh kesal.

"Ngapain sih lo? ngelamun apa?" Laskar menarik kursi. Duduk di depan Alea dengan posisi kursi yang salah.

Alea cemberut, mengalihkan pandangannya.

"Hei? Kenapa?" Laskar berseru. Menjentikkan jemarinya tepat di depan wajah Alea.

Alea tak menjawab, hingga pelan cemberutnya berubah jadi isakan pelan. Alea menangis, segera menutupi wajahnya dengan telapak tangan.

"Hei? Kenapa?" Suara Laskar berubah sedikit panik bercampur bingung. Baiklah, mungkin Alea sedang berubah menjadi sosok lemah yanh gampang menangis. Biasanya ia tak pernah seluluh ini, mungkin akibat dirinya yang terlampau bingung menemui jalan buntu.

Alea terisak, membiarkan dirinya menumpahkan segala sesak yang ia rasa. Tak peduli Laskar menetap atau menjauh.

Laskar menghela napas panjang. Memilih diam lalu menunggu gadis itu selesai menangis. Menopang dagunya dengan kedua tangan diatas meja.

Beberapa menit kemudian, Alea sedikit mendingan. Ia menutup wajahnya dengan sebelah tangan lalu sebelah tangannya lagi meraih sesuatu dari dalam tas. Sebuah kotak bekal. Menyerahkan benda itu pada Laskar lalu ia kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan. Laskar menoleh, tertawa kecil.

"Ini buat gue atau buat lo? Jangan bilang gara-gara gak mau makan terus bekalnya dikasih ke gue" Laskar tertawa, menimang-nimang kotak bekal itu pelan. Mengintip isinya dari balik kotak yang transparan.

"Buat lo" Alea menjawab setelah cukup lama. Ia berhasil menghapus seluruh jejak tangis di wajahnya kecuali di lingkaran mata yang sembab.

"Ini buat gue sekarang?" Laskar kembali bertanya. Mengayunkan kotak itu di depan wajah Alea.

"Gue udah bikin dari pagi, sengaja" Alea menjawab pelan. Tak begitu bersemangat.

"Buat gue? Thanks banget loh, gue makan, ya" Laskar nyengir lebar. Segera membuka tutup bekal itu lalu melahap isinya. Alea menopang kepalanya dengan sebelah tangan lalu melayangkan tatapan ke luar jendela.

"Lho kenhapah dah?" Dengan mulut penuh makanan cowok itu mencoba mencuri perhatian Alea. Namun gagal, Alea tak tertarik.

Oke, Laskar segera menghabiskan sisa makanan di dalam mulutnya, "Gue gak suka kayak gini. Gak enak, Al, makan di depan orang lagi sedih, nutrisi tambahannya jadi hilang. Kan nutrisi tambahannya dari orang yang lagi sedih ini" Laskar menceracau sendiri. Ia bangkit dari duduknya lalu menarik pelan pergelangan tangan Alea.

Alea menoleh, menatap Laskar dengan alis bertaut. Sebuah isyarat jika Alea heran apa yang akan Laskar lakukan.

"Ikut gue bentar, siapa tau nutrisi tambahannya balik, bentar" Laskar meyakinkan. Alea menghela napas panjang, bangkit lalu mengikuti langkah panjang Laskar dari belakang. Tak lupa Alea meraih kotak bekalnya yang masih belum habis itu.

Laskar Pelangi AleaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang