"Gue gak mau, Kar, gue takut" lalu dekapan cowok itu kembali dapat menenangkan hatinya yang gusar.
***
Laskar kembali ke sekolah saat jam pulang berbunyi. Menunggu di parkiran, di dalam mobil. Kepalanya bersandar pada sandaran lalu matanya pelan memejam. Baru saja ingin tertidur, ketukan pada kaca mobil membuatnya seketika membuka mata.
Alea di luar, dengan tampang sedikit terkejut karena tau jika Laskar jadi terbangun.
Laskar membuka pintu mobil. Berdiri tepat di hadapan Alea yang tengah menarik tali ranselnya.
"Gue ngebangunin, ya?" Tanya Alea lalu mengigit bibir bawahnya sendiri.
"Iya, ganggu" seru Laskar. Membuat Alea berdecih kesal.
"Yaudah, tidur aja sana! Gue tunggu sampe bangun!" Alea cemberut. Membuat Laskar gemas sendiri. Mencubit pipi gadis itu pelan.
"Masuk gih"
Alea akhirnya masuk ke mobil. Masih tanpa ada adegan buka-bukaan pintu. Alea duduk lalu meletakkan tasnya di kolong dasbor. Membiarkan henyap hingga mobil keluar dari pekarangan sekolah.
"Anterin gue ke toko buku, ya" pinta Alea. Menoleh sekilas lalu kembali menatap jalanan. Alea merasa aneh, lalu jantungnya berdegup kencang. Ada apa?
"Lo kerja hari ini?" Tanya Laskar masih fokus pada jalanan di depannya.
Alea mengangguk, sadar bahwa si lawan bicara tak akan bisa melihat, ia langsung berkata iya.
"Lama gak kerjanya?"
"Kayak biasa 'kan? Entar pulangnya jam delapan malem"
"Pulang pake apa?"
Alea berpikir sekilas, "pake apa, ya? Hmm, gue minta anter kak Dika aja nanti"
"Emang dia mau?"
"Ya coba dulu"
"Yaudah, gue tungguin deh sampe selesai"
"Kenapa?"
"Ya, males aja lihat lo diantar orang lain pulang"
Alea tertegun. Pelan, ia membuang mukanya ke samping. Enggan raut mukanya dapat dilihat oleh Laskar. Jantungnya semakin memacu membuat senyumnya terbit. Bersusah payah menyembunyikannya.
"Kok diem?"
"Enggak! Lo nyetir aja sono!"
Laskar terkekeh. Mobil yang dikendarainya sampai di depan toko buku. Alea turun, mengucapkan terima kasih. Bilang jika Laskar sebaiknya pulang dulu. Nanti, jika sudah selesai baru kembali lagi. Laskar menyetujuinya, lalu mobilnya berlalu meninggalkan Alea yang langsung masuk ke toko buku.
***
Pukul delapan kurang lima menit. Mobil Laskar sudah terparkir di depan toko buku. Janjinya menjemput Alea tentu tak akan ia lupakan. Alea juga sudah kembali mengenakan seragam sekolah. Bukan lagi seragam toko orange hitam itu. Alea tersenyum saat mendapati Laskar yabg sudah menunggu. Berdiri di depan pintu mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laskar Pelangi Alea
Fiksi Remaja[S L O W _ U P D A T E] Tentang Alea yang dirundung mendung, banyak lara. Tentang masa lalu kelam yang terlampau menampar dengan paksa. Sakit, trauma berkepanjangan. Alea rapuh. Hanya ingin bahagia. Alea parau, bahkan tercekat. Laskar mungkin ingin...
