"Lo jadi pergi bareng Laskar?" Luischa bertanya saat langkah membawa mereka keluar kelas. Gerimis, langit mendung mengukung bumi sore ini.
Alea mengangguk, menatap langit yang mendung serta menikmati petrikor yang begitu menyengat. Alea suka ini. Alea mengalihkan pandangannya menatap Luischa sejenak.
"Inget entar sorean kita kerumah lo sekalian jengukin kak Natha. Jangan pulang lama-lama!" Luischa mengingatkan, mengerucutkan bibirnya.
Alea tertawa kecil, "Iya, semangat les gitarnya buat mikat doi"
Luischa berdecih, "Apasih, Al, gak juga deh"
Alea kembali tertawa. Menikmati raut malu-malu Luischa. Luischa terlalu sulit jujur tentang sesuatu. "Lagian gue gak nyangka juga Adam bakal suka sama cewek yang pinter musik, gue kira buku,"
Luischa berdecih, "ih, apasih, gue belajar gitar karena emang gue pengen kok, gak karena siapa-siapa, udah deh, Al, gue cabut" Luischa berdecih sekali lagi lantas berlalu pergi. Meninggalkan Alea dengan sisa tawa yang belum reda.
Alea berbalik menatap isi kelas, kelas sudah hampir kosong. Namun Okta serta Refa masih disana, oh ternyata juga ada Adam.
"Woi, Ref, lo bisa main gitar kan?" Alea berteriak.
Refa yang memang sedang berjalan kearah Alea menjawab santai, "Iya, kenapa emangnya?" Berdiri di sebelah Alea seraya menarik kedua tali tasnya.
"Gak apa-apa gue nanya doang"
"Lo mau belajar, Al? Kaya Luis?" Okta ikut nimbrung.
Alea berpikir sebentar, "Kapan-kapan deh"
"Lo jadi pergi?" Pertanyaan yang sama dari Refa. Alea mengangguk.
"Agak sorean kita ke rumah lo, abis ini gue sama Refa mau ke toko ice cream dulu"
"Toko ice cream?" Alea bertanya histeris.
Okta dan Refa mengangguk dramatis kompak. Menggoda Alea.
"Laskar atau ice cream hah?" Refa mulai membujuk rayu.
"Kenapa hari ini sih?" Alea semakin protes.
"Karena hari ini toko ice creamnya grand opening jadi ada potongan harga"
"Yah, ice cream!"
"Gimana milih Laskar atau ice cream?" Okta kian menegaskan.
Raut Alea berubah jadi cemberut. Ia ingin ice cream dan ia ingin pergi dengan Laskar.
"Jahat ih" Alea berdecih.
Okta dan Refa tertawa puas. Menunjuk kearah belakang Alea, "Tuh tanyain tuh pangeran lo udah dateng dari tadi"
"Hah?" Alea berbalik badan. Spontan saja bahunya menabrak Laskar yang ternyata sudah berdiri di belakang Alea. Laskar menaikkan sebelah alisnya, menyentil dahi Alea yang setengah tertutup rambut berantakan.
"Laskar atau ice cream? Jawabannya Laskar dan ice cream" Laskar menjawab, tersenyum tipis.
"Hah? Bener?" Alea sumringah, masih mengelus dahinya lantas kembali melihat Okta, "Nah, Okta, jawabannya Laskar dan ice cream!" Alea tersenyum senang, mencibir Okta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laskar Pelangi Alea
Ficção Adolescente[S L O W _ U P D A T E] Tentang Alea yang dirundung mendung, banyak lara. Tentang masa lalu kelam yang terlampau menampar dengan paksa. Sakit, trauma berkepanjangan. Alea rapuh. Hanya ingin bahagia. Alea parau, bahkan tercekat. Laskar mungkin ingin...
