"Kali ini aja gue mau lo kerjain," cibir Sarah melihat El yang saat itu sedang menyantap semangkuk bakso dengan begitu lahap.
Mereka berdua kini sudah berada di kantin sekolah seusai menyelesaikan pekerjaan yang menyusahkan di gudang kesenian tadi.
"Siapa juga yang ngerjain lo. Kan lo sendiri yang nawarin bantuan tadi," jawab El santai.
Sarah menghadapkan tubuhnya pada El dan mulai berkata dengan serius, "El, tapi gue serius sama semua ucapan gue tadi."
"Iya, gue tau kok. Makasih ya Sar."
Mendengar itu, Sarah mengembangkan senyumannya.
"Buat traktiran nya maksud gue," sela El yang kemudian langsung terkekeh kecil.
Seketika itu, senyuman Sarah meluntur. Ia sangat kesal dengan El, karena ia pikir cewek itu berterima kasih padanya atas tawaran bantuannya tadi. Namun ternyata, ini semua hanya tentang bakso.
"Sar, Kak Dito gimana?"
Sarah bertambah kesal saat El malah mengalihkan topik menyebut nama cowok itu. "Apanya yang gimana?"
"Kalian masih jalan ditempat? Belum ada perkembangan baru?" cecar El.
Dengan wajah tak bersemangat sambil mengaduk minumannya, Sarah menjawab sambil menggelengkan kepalanya, "Gue juga gak tau. Mungkin Kak Dito emang gak ada rasa lebih ke gue."
"Tunggu aja, Sar. Bentar lagi kali," celetuk El asal.
"Dalam hal bertahan gue emang lemah, gak kayak lo," balas Sarah sekaligus sedikit menyindir El.
Detik selanjutnya, El menoleh cepat dengan sedikit mengernyitkan dahinya, "Lo pikir itu bakat gue?"
"Emang bukan ya? Terus apa dong, hobi?" tambah Sarah, yang kemudian tersenyum senang saat melihat ekspresi El yang jengkel padanya.
Tiba-tiba suara seorang cowok menyahuti percakapan mereka, "Emang hobinya El apa?"
"Eh? Rafael," ucap Sarah dengan ekspresi sedikit kaget melihat cowok itu, yang sudah duduk di sebelah El, dan meneguk minuman El dengan wajah tanpa dosa.
"Kok lo di sini? Emang kelas lo gak bersih-bersih?" tanya El mengalihkan topik dengan cepat. Bahkan El tidak sadar jika gelas minumannya saat ini sudah kosong, hanya tinggal beberapa es batu yang mulai mencair.
"Udah dong. Kelas gue kan rajin-rajin semua anaknya," jawab Rafa yang terlihat membanggakan kelasnya itu. Lalu menyindir El, "Emangnya kelas lo."
"Kenapa emang kelas gue?" tanya El balik sambil saling tukar pandang dengan Sarah.
"Tadi kelas lo dimarahi habis-habisan sama Bu Ningsih. Udah tau tuh guru killer nya minta ampun, eh malah dibantah," cerita Rafa.
"Ada apaan sih emang?" tanya Sarah ikut penasaran.
"Bu Ningsih tadi nyuruh anak cowok-cowok di kelas lo buat nyiram tanaman di samping UKS. Tapi mereka malah mainan air, pada saling semprot. Habis deh riwayat mereka," jelas Rafa yang diakhiri dengan tawa, karena teringat kejadian yang dilihatnya langsung itu.
"Keren juga ternyata kelas gue," komentar El yang langsung mendapatkan tatapan bingung dari Sarah dan Rafa.
"Kok keren sih El? Gue malah ikut malu," ujar Sarah.
"Mereka kerenlah, berani ngelawan Bu Ningsih. Tau gitu gue tadi juga ikut."
"Miring banget jalan pikir lo," sela Rafa.
"Tuh kan! Otak lo tuh isinya cuma penuh buat mikirin-, Aduh! Sakit, El," ucapan Sarah sempat terhenti, karena mendapat injakan dari El.
"Mikir siapa?" tanya Rafa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elvina [COMPLETED]
Teen Fiction-Elvina Allya Cewek tomboy yang biasa dipanggil El sedang menghadapi kasus friendzone. Dia selalu mengorbankan apapun demi kedua sahabatnya yang saling suka. Meskipun itu membuatnya berkali-kali menangis seorang diri dikamar. - • - "Lo pi...
![Elvina [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/130449847-64-k698358.jpg)