33]~Batas

235 11 0
                                        

Di hari ini, Ezra datang hampir terlambat. Waktu menunjukkan kurang lima menit lagi sebelum gerbang sekolahnya akan ditutup. Beruntungnya, ia sudah berhasil memasuki sekolah dan mengarahnya motornya menuju area parkir. Tiba-tiba ia menekan rem dengan mendadak saat menyadari ada orang berdiri tidak jauh di hadapannya.

Ezra memandangi El di depannya dengan syok. Cewek itu sedang menghadangnya dengan membentangkan kedua tangannya. Ia pun cepat-cepat turun dari motornya dengan panik dan melepas helmnya dengan kasar.

"Lo mau mati? Ngapain sih disini?" ujar Ezra dengan marah. Entah memang marah karena cewek itu menghadangnya atau mungkin marah karena khawatir jika terjadi apa-apa pada cewek itu.

"Nunggu lo," jawab El dengan menurunkan tangannya.

Detik itu juga kepanikan Ezra langsung mereda. "Hah?"

"Gue nunggu lo, Ezra," ulang El.

"I-i-iya, ta-tapi ngapain?"

El menautkan kedua alisnya sambil menatap Ezra bingung karena kegagapan cowok itu.

"Maksud gue ngapain nunggu gue disini? Gak bisa di kelas?"

"Ya kenapa? Gak papa kan? Gak ada larangan juga," balas El.

Ezra membenarkan perkataan cewek itu, lalu menghela nafas lega karena melihat El baik-baik saja. Kemudian ia berbalik untuk menempatkan motornya di area parkir yang kebetulan kosong dan berada tepat di sebelah El.

Setelah itu, El dan Ezra berjalan berdampingan menuju kelas. Bahkan mereka tak memperdulikan beberapa siswa yang mulai berlarian melewati mereka saat bel sudah berbunyi. Mereka berdua tetap berjalan santai seakan-akan menghiraukan waktu yang terus berjalan.

Ezra menoleh memperhatikan El dari samping. "Lo lagi seneng ya El?"

El ikut menoleh. "Maksud lo?"

"Mood lo kayak lagi bagus aja gue liat."

"Enggak. Jangan sok tau," sahut El.

"Keliatan kali, El. Lo bahagia karena udah jadian sama Rafa kan?"

El menghentikan langkahnya saat itu juga.

Ezra juga ikut berhenti dengan posisi badan menghadap ke El. "Kenapa gak cerita ke gue? Gue malah tau nya dari orang lain," lanjutnya.

El tertawa kecil. "Lo gila? Ya kali gue sama Rafa jadian," jawabnya.

Ezra terdiam, menatap El dengan bingung.

"Oh, iya. Lo kan belum masuk group chat angkatan," gumam El. "Jadi, kemarin itu Rafa kena dare dari temen kelasnya," jelasnya.

"Jadi, lo gak jadian?" tanya Ezra memastikan lagi.

"Enggak, Zra, gila aja," jawab El. "Jadi karena itu lo jauhin gue dari kemarin?" tanya El balik.

Ezra sedikit terkejut karena pertanyaan El barusan. "Eh?"

"Kenapa Zra? Kenapa lo menghindari gue?"

"Karena gue gak mau jadi halangan buat hubungan lo sama Rafa, El," jawab Ezra.

"Halangan gimana? Gue sama Rafa gak ada hubungan apa-apa. Lagian, lo berdua juga sama-sama temen gue," balas El.

"Temen ya?" gumam Ezra sambil mendengus kecil. "Tapi tetep aja gue gak boleh melewati batas. Jadi, lebih baik kita kayak gini," tukasnya pada El.

El langsung menahan Ezra yang akan kembali berjalan. "Tunggu."

Ezra pun menoleh.

"Batas? Sejak kapan kita punya batasan?" heran El.

Elvina [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang