Siangnya, Ezra dan El berada di sebuah rumah makan yang dekat dari tempat pelatihan tadi pagi. Mereka berdua kini berniat mengisi perut mereka dahulu sebelum berlatih musik untuk acara HUT nanti.
"El," panggil Ezra.
El mengangkat wajahnya dengan memicingkan sedikit kedua matanya. "Stop panggil nama gue, kalo cuma buat keisengan lo yang gak jelas itu," sungut El, mengungkit kejadian beberapa waktu lalu.
"Kali ini gue serius," sahut Ezra.
"Apaan?" respon El malas.
"Gue mau tanya soal Rere kalo lo gak keberatan."
Pergerakan mulut El yang sedang mencerna makanan langsung terhenti saat Ezra menyebut soal Rere.
"Penyakitnya separah apa?" tanya Ezra yang sepertinya sudah mempunyai dugaan yang cocok saat mendengar percakapan El, Rafa, dan juga Mamanya Rere.
El masih menutup rapat mulutnya sambil menatap cowok di depannya itu.
"Sebenarnya gue gak kepo banget sih. Jadi kalo-."
"Leukimia," sela El sekaligus menjawab singkat pertanyaan Ezra yang pertama tadi.
Ezra yang tampak terkejut mendengar jawaban itu, hanya bisa mematung. Ia tak mampu berpikir apapun, karena ia sama sekali tak pernah menyangka sosok cewek seperti Rere terkena penyakit seberat itu.
"Gue sama Rafa baru tahu setahun yang lalu," lanjut El meletakkan sendoknya, karena nafsu makannya tiba-tiba menghilang. "Semenjak itu, kita selalu antar dia checkup rutin ke rumah sakit. Karena dengan kayak gitu, gue pikir bakal ada pengaruh sama kondisinya. Tapi," El terhenti sejenak. Ia tak sanggup melanjutkan.
El beberapa kali mengerjapkan matanya, berusaha menelan kembali air mata yang akan keluar dari sudut matanya karena teringat bagaimana pertama kali ia dan Rafa mengetahui kabar tersebut. "Semua sia-sia, Zra. Gak ada efek sama sekali buat kondisi Rere," lanjutnya dengan intonasinya mulai merendah dan semakin terdengar pelan.
Ezra melihat El di depannya itu seperti menyalahkan dirinya sendiri.
"Kondisinya udah parah. Udah mencapai stadium 4," ucap El sedikit menunduk.
Ezra mendengar suara El yang semakin lirih saat mengatakan itu. "Stadium 4? Berarti Rere...," kalimat Ezra menggantung. Cowok itu tak ingin menduga hal terburuk yang bisa membuat El semakin sedih.
"Lo benar," lirih El lagi. "Gak ada kemungkinan dia bisa sembuh. Lima bulan yang lalu, dokter udah memvonis masa hidup Rere tinggal sebentar, dengan rentang minimal 4 bulan, maksimal 7 bulan," lanjutnya dengan menatap kembali wajah Ezra di depannya.
Kali ini sorot mata El terlihat begitu dalam dengan genangan air di kedua sudutnya. "Gue gak akan pernah bisa percaya itu. Gue yakin Tuhan bisa dengar semua doa gue yang berharap Rere bisa lewati semuanya," ujar El yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya dan membiarkannya terjatuh.
Sekalipun El menunduk, mencoba menutupinya, Ezra tetap melihat semuanya. Sungguh mustahil membayangkan El bisa menangis di hadapannya, seperti ini. Cowok itu lalu beranjak berdiri dan berjongkok tepat di sebelah El untuk menenangkan El dengan menepuk pelan punggung cewek itu.
"Gue gak pernah bisa bayangin gimana gue sama Rafa nantinya. Gue bener-bener, gue gak mau liat dia-."
"Ssst, udah El," potong Ezra yang sengaja tidak membiarkan El melanjutkan kalimat itu. "Rere bakal baik-baik aja. Bahkan meskipun kemungkinannya hanya satu persen, gue yakin dengan kehendak Tuhan apapun bisa terjadi. Dan lo harus terus percaya kemungkinan itu," ucap Ezra dengan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elvina [COMPLETED]
Fiksi Remaja-Elvina Allya Cewek tomboy yang biasa dipanggil El sedang menghadapi kasus friendzone. Dia selalu mengorbankan apapun demi kedua sahabatnya yang saling suka. Meskipun itu membuatnya berkali-kali menangis seorang diri dikamar. - • - "Lo pi...
![Elvina [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/130449847-64-k698358.jpg)