33. Bercerita tentang perasaan

884 52 0
                                        

Alya membuka lembar demi lembar buku latihan soal miliknya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Alya membuka lembar demi lembar buku latihan soal miliknya. Walaupun besok akhir pekan, tapi dia tak mau menyia-nyiakan waktu untuk bersantai. Ia menjawab soal demi soal di buku itu. Pasalnya UAS sudah di ujung tanduk. Ia rela membuang waktu membaca novel miliknya untuk belajar.

"Kak Arina manasih? Perasaan udah dari tadi gue udah minta dibawain coklat panas" gumam Alya sembari mengerjakan soal.

Pintu kamar Alya terbuka, diikuti dengan aroma coklat panas yang nikmat memasuki hidung Alya. Senyuman yang tipis tergambar di wajahnya.

"Lama banget! Nggak liat apa adiknya berjuang keras gini? Temenin kek, atau ajak bicara git--" kalimat Alya tak tertuntaskan saat melihat orang yang membawakan coklat panas bukanlah Arina melainkan Stevan.

"Nggak capek ngomel mulu?" tanya Stevan.

"Sejak kapan lo disini? Kak Arina mana?"

"Sekitar 30 menit yang lalu. Kak Arina dibawah lagi bicara sama Bayu"

"Hmm... gue kira juga kemana"

Stevan meletakkan coklat panas itu di nakas Alya.

"Lo nggak mau jalan?"

"Nggak gue mau belajar! Lagian udah malam mana diluar dingin. Kan lo tau gue alergi dingin"

"Hmm... gue bisa bicara bentar nggak sama lo?"

Alya menatap wajah Stevan datar. Kenapa dia bertanya seperti itu? Ada hal penting apa? Kenapa harus seformal itu? Padahal biasanya juga langsung to the point.

"Boleh nggak?" Ulang Stevan.

Alya mengerjapkan mata beberapa kali. Lalu mengangguk. Di depan sana, Stevan duduk di pinggiran tempat tidur Alya, sedangkan Alya duduk di kursi tempat belajarnya. Hanya berjarak beberapa senti saja

"Hmm... besok belajar bareng ke rumah gue ya! Ajarin gue" ujar Stevan dengan puppy eyes miliknya.

"Kampret gue kira juga kenapa" Alya menepuk jidatnya.
"Kenapa nggak bareng Keyra?" Tanya Alya membuat wajah Stevan kembali datar.

Stevan menundukan kepalanya.

"Jawab jujur Van" ujar Alya sembari mengangkat dagu Stevan untuk menatapnya.

Jika boleh jujur, saat ini tubuh Alya bergetar hebat. Rasanya tak sanggup bila harus sedekat ini, juga harus saling bertatapan seperti ini dengan Stevan. Seakan-akan lututnya tak sanggup menopang berat badannya.

"Kadang lo bisa berani juga Alya" kata Stevan membuat Alya kembali menjauhkan dirinya.

"Selesai ujian gue mau pindah ke London" tukas Stevan.

"Secepat itu?" Ujar Alya lirih.

"Gue sama Keyra" lanjut Stevan.

"T-terus apa hubungannya sama gue?"

Rainfall✔[Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang