36. Kesepakatan

809 47 2
                                        

"Sumpah soalnya kayak labirin. Bikin pusing cari jalan keluar" keluh Cika.

"Pelampung lo bocor?" Tanya Stevan.

"Ho oh. Nggak ngaruh sama soalnya. Nggak ngaruh sama sekali" curhatnya.

"Lo mau belajar bareng ke rumah gue? Biar lo nggak sia-sia nyatet pelampung" tawar Alya sembari terkekeh pelan.

"Huuh.. bantuin gue dong. Gue nggak mau kena omelan mama. Lo juga Lan, bantuin gue" pintanya pada Alan.

"Lah kok gue diikutin?" Tanyanya.

"Gue nggak?" Tanya Arga.

"Udah rempong banget sih... gini aja, bentar jam tujuh malem datang ke rumah gue. Kita belajar bareng gimana?" Usul Alya.

"Gue setuju banget. Tapi jangan ada Stevan" ujar Cika dengan semangat.

"Lo sedendam itu sama gue ya Cik?" Tanya Stevan tak terima.

"Gue nggak mau aja lo gangguin kita belajar. Entar kalau ada lo, bukannya Alya ngajarin gue, yang ada malah ngapelin lo" ketus Cika.

"Temen kampret" cibir Stevan.

"Hari pertama ujian udah kelar, terus kalian mau kemana nih?" Tanya Arga.

"Gue mau di rumah main wi-fi stalking mantan" ujar Cika.

"Mantan kok distalking. Stalkingin gue aja, masa depan lo" goda Arga diikuti tawa dari yang lain.

Namun tawaan itu terhenti ketika ponsel Stevan berdering. Stevan merogoh ponsel di saku celananya. Dilihatnya sesaat ponsel itu, lali dimatikannya dan kembali pada pembicaraan mereka.

"Lan, referinsi buku dong Lan" rengek Alya menggoyangkan tubuh Alan yang fokus membaca buku.

"Sejak kapan lo belajar manja ya?" Tanya Alan menutup bukunya.

Alya mengedikkan bahunya.

"Gue kehabisan buku" adu Alya.

"Ngadunya kok sama gue?"

"Sama siapa? Kan cuma lo temen gue yang seneng buku. Nggak mungkin gue mau ngadu Sama Stevan yang nggak tau tentang buku sama sekali" cibir Alya.

"Sebenarnya gue suka buku juga gara-gara lo. Coba aja dulu kita nggak sekelas, dan nggak temenan. Gue nggak bakal suka sama buku. Lo nggak tau sih, apa yang lo suka gue juga berusaha buat suka hal itu" batin Alan.

"Terserah yang ngomong deh. Gue diem" ujar Stevan bertopang dagu sembari menyeruput minumannya.

"Gue pergi makan pancake sama lo aja deh" goda Alya sembari mencubit pipi Stevan gemas.

Padahal sekarang sudah jam pulang, tapi mereka malah asik berbincang di kantin. Mereka tidak memikirkan para pemilik kantin yang hendak pulang. Sedangkan Arga merasa terganggu dengan ponsel Stevan yang terus berdering.

"Van angkat Van! Risih gue... bunyi mulu" gerutu Arga.

"Risih bunyi, ya matiin. Rempong amat" ujar Stevan sembari mematikan panggilan itu.

"Kenapa nggak diangkat sih Van?" Tanya Alya.

"Nggak penting Alyaa" jawab Stevan lembut.

"Kan yang penting sekarang itu cuma lo" sambung Cika mencibir.

"Cikaa bacot" ujar Stevan.

Tak lama ponselnya kembali berdering. Saat Stevan hendak mematikan panggilan, tangannya ditahan oleh Alya.

"Angkat aja. Siapa tahu penting. Lo nggak tahu kan orang kenapa-kenapa" ujar Alya diikuti dengan Stevan yang meminta izin untuk mengangkat telfon itu.

Rainfall✔[Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang