Vote & Comment. . .
Part detik-detik terakhir nih..
Cek mulmed_____________________________
Aroma bunga melati menjadi pengharum di sepanjang pemakaman. Orang-orang yang datang mengenakan pakaian serba hitam ikut larut dalam kesedihan anak semata wayang mendiang.Satu yang Forlin selalu pikirkan sejak dulu. Bahwasanya,dia tidak pernah bahagia dalam waktu jangka panjang. Bahwa ia selalu di terpa kepedihan dan kesedihan yang menyayat hati berturut-turut.
Tapi kenapa harus mereka? Kenapa harus orang tuanya? Apakah Tuhan tidak punya cara lain untuk menyakiti hatinya lagi selain mengambil kedua orang tuanya? Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untuknya?
"Mama..,Papa..." Tangisan itu tidak pernah berhenti sejak semalam, sampai hari itu di pemakaman.
Forlin masih tidak percaya apa sekarang ini hanya sebuah mimpi? Tapi kenapa begitu nyata? Gadis rapuh itu berdiri. Ia tertawa keras sambil memukul dirinya sendiri.
"Forlin,bangun!! Ini pasti mimpi!!"
Kedua pria yang selalu ada di sampingnya itu menenangkan Forlin.
Rasya,karin,Ruri,Safa, Daniel dan Rere yang tak jauh dari keberadaan Forlin hanya bisa turut berduka atas kepergian kedua orang tua Forlin.
Farah datang dan memeluk tubuh rapuh gadis itu. "Sayang,jangan kayak gitu. Izinkan papa sama mama kamu pergi. Biar mereka tenang disana." Ucap Farah yang larut dalam tangisnya.
"Tante!! Mama sama Papa itu nggak meninggal!! Mereka masih hidup!! Ini mimpi,Tante!!" Teriak Forlin.
"Ayo,Lin!! Bangun!!!" Teriak Forlin sekencangnya. Dan itu, adalah teriakan terakhirnya setelah jatuh pingsan tak berdaya.
Setelah hampir satu jam tidak sadarkan diri, akhirnya kini ia membuka matanya. Kesan blur terasa mendaramatiskan penglihatannya. Sempat menyapu pandangannya ke dinding-dinding kamar yang ia kenali itu. Di sisi kirinya ada Feral duduk sambil menatapnya sayu. Sedangkan Aditya berdiri di samping kanannya dengan wajahnya yang begitu panik.
"Forlin." Lirih Aditya.
Gadis itu menoleh kekanan. Ia membangunkan tubuhnya sambil tersenyum. "Tuh kan, gue cuma mimpi,Dit."
"Mama sama Papa masih hidup." Senyum Forlin.
Sempat Aditya dan Feral saling menatap di dalam ruangan itu. Mereka berdua tidak berkutik sama sekali.
"Ya,kan Dit?" Tanya Forlin agar mendapatkan kepastian ucapannya itu. Aditya menatap gadis itu namun ia tidak merespon.
Forlin menoleh ke arah Feral dan tersenyum. "Feral, Mamaku udah pulang?" Tanya Forlin. "Kalo Papa pasti pulangnya besok. Kan lagi meeting." Suara Forlin bergetar. Air matanya kembali mengalir.
"Feral,jawab."
Entah apa yang harus Feral lakukan setelah melihat air mata gadis itu. Batinnya menyuruhnya untuk duduk di sampingnya dan memeluknya agar ia tidak kembali rapuh.
Benar. Feral mengikuti kata hatinya itu. Ia berjalan cepat kesisi kanan lalu duduk di samping Forlin. Memeluk gadis itu se erat mungkin. "Maaf,aku nggak bisa jawab."
"Kamu bodoh,Ral." Forlin tertawa renyah di dalam tangisnya. "Didit juga ikut-ikutan jadi orang bodoh." Forlin menatap Aditya dengan mata yang berair.
"Lin tau kok, Papa sama Mama nggak akan pernah bisa pulang lagi." Ucap gadis itu di sela tangisnya.
***
"Daniel, sisa kita berdua di rumah ini." Ucap Forlin. Gadis itu memilih untuk menangis tak bersuara.

KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DIAM-DIAM TERLUKA DIAM-DIAM
Romance[PART 30-ENDING DI PRIVATE] Forlin Zazkia Putri, gadis yang telah lama mencintai sahabat kecilnya. Ia adalah, Aditya Wijaya. Lantas apa yang membuat ia bertahan? Meskipun beberapa pria singgah di hatinya, tapi Cinta untuk Aditya tidak pernah habis...