40

1.1K 62 24
                                    

Vote & Comment

"Didit, gue seneng banget." Forlin tersenyum.

"Iya, gue tau." Aditya tertawa. Di rumah besar itu, mereka duduk di sofa bed yang ada di ruang keluarga.

"Lo nggak kasian sama Feral?" Tanya Aditya sambil mengganti-ganti channel tv.

"Besok gue minta maaf. Gue kesel sama dia gara-gara dia nonjok lo."

"Tapi nggak gitu juga,Lin."

"Biarin ih, oh iya. Gue berasa perusak hubungan orang,Dit." Ucap Forlin dengan wajah sendu.

"PHO? PHO-in siapa?" Tanya Aditya bingung.

"Hubungan lo sama Serli. "

Aditya tersenyum. Remot yang sejak tadi ada di tangannya ia simpan di atas meja.  Aditya memeluk Forlin dengan erat. "Kan gue bilang, ini rahasia kita berdua. Jadi nggak ada orang yang tahu selain kita."

"Iya." Gumam Forlin sambil mengangguk tersenyum. Ia melepaskan pelukan itu.

"Maaf ya baru peka."Aditya tersenyum lebar sambil menepuk bagian atas kepala Forlin. Gadis itu mengangguk.

"Berarti penantian hati yang tulus berbuah manis." Forlin tersenyum cerah. Diambilnya tangan Aditya dan meletakkan di atas dadanya.

"Ngerasain nggak?"

"Ngerasain apa?"

"Jantung gue detaknya kayak gimana kalo dekat lo." Ucap Forlin.

"Cepet,lumayan cepet." Komentar Aditya.

"Ini yang gue rasain setiap ketemu sama lo. Lo hampir sukses bikin gue mati gara-gara ini." Forlin tertawa kecil.

Aditya melepaskan tangannya yang tadinya ada di atas dada Forlin. "Sekarang, lo udah blak-blakan tentang perasaan lo. Kemarin lo diem-diem aja. Jadi bukan Salah gue ya lo tersakiti di saat itu."

Forlin mengangguk lagi. Matanya fokus menatap Figur yang ada di sampingnya. Bahagia hari itu tidak ada yang bisa mengalahkannya. Senyuman yang paling lebar itu mengalahkan senyuman sebelumnya. Ini adalah hari teristimewanya. Meskipun, meskipun Aditya masih belum mengubah status mereka berdua lebih dari Sahabat.

"Eh,Btw.. Lo nggak nulis Diary lagi?" Tanya Aditya sambil menyembunyikan tawanya.

Ledekan itu membuat Forlin mendelik tajam sebelum tawanya meledak. "DIDIT!" Sergahnya dan di lanjutkan  tawa mereka yang pecah.

Di tempat berbeda. Sepuluh jam setelah konflik.  Cafe Choco yang ramai menjadi hiburan tersendiri bagi Feral. Setelah di talak oleh Forlin, membuat Feral menyesal akan keluarnya dari penjara.

"Nyesel gue!" Gumamnya dengan nada penuh amarah itu. Feral masih berpikir, setelah apa saja yang ia lakukan untuk Forlin agar gadis itu terpukau terasa sia-sia. Di tambah dengan ucapan Forlin yang begitu asing di telinga Feral karena satu hal. Ya, semua karena pengakuan Aditya pagi tadi yang membuat semuanya berubah. Benar-benar drastis.

Feral memandang seorang gadis yang sedang memakan aneka menu cokelat dengan porsi banyak. Seulas senyuman di bibir Feral terukir. Namun matanya memerah dan berair. Itu adalah hiburan keduanya setelah ramainya Cafe Choco malam ini.

Pikiran Feral kembali kepada Forlin. Apa dia harus melupakan gadis itu? Apa dia akan bertahan? Apa dia harus memberanikan dirinya say Hello kepada Forlin besok? Atau menganggap semuanya baik-baik saja? Feral tertawa dengan pikiran-pikiran yang melintas di kepalanya.

"Pergi,menghilang,dan Lupakan. Mungkin itu yang terbaik buat gue." Senyum kecil terukir disana. Air mukanya berubah seketika. Ia menggeleng lalu kembali terkekeh. "Jangan,deh. Gue nanti sakit. Cuma dia penawarnya. Cukup nikmati rencana tuhan kedepannya. Mungkin ini..." ucapnya terputus. Ia menelan salivanya lalu melanjutkan ucapannya.

CINTA DIAM-DIAM TERLUKA DIAM-DIAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang