46 (A)

1K 56 16
                                    

Buat yang nagih-nagih.. aku minta maaf baru bisa publish. Karena,kesibukan tidak bisa di prediksi kapan ia menyerang perempuan cantik ini.ehm. 😨😅

Part ini, Didit jangan nongol dulu ya..

_________________

"Makasih." Sejak tadi,Forlin tidak henti-hentinya mengucapkan kalimat itu. Feral terkekeh .

"Iya, udah lima kali loh kamu ngomong makasih."

"Lagian akunya ngerepotin mulu."

"Akunya yang mau repot." Feral mengangkat satu tangannya lalu menepuk pelan pucuk kepala gadis itu. Matanya menatap jalan di depan.

"Temen-temen kamu seru juga,ya." Forlin tersenyum.

"Sableng-sableng semua." Feral terkekeh.

"Mereka sekolah dimana?" Tanya lagi Forlin.

"Ya.. di sekolah. Kamu kenapa nanya mereka? Kamu suka?" Feral tersenyum jahil ke arahnya sebentar lalu kembali menatap jalan di depan.

Forlin terkekeh lalu menggeleng. "Aku nggak suka. Kayaknya seru aja temenan sama mereka."

"Mereka udah punya pacar?"tanya Forlin. Feral tersenyum lalu mengangguk.

"Tinggal aku yang nggak punya." Ucapnya. "Lagi nunggu cewek yang yang nggak pernah peka." Lanjutnya setengah berbisik.

Forlin tersenyum kikuk. Ucapan Feral barusan membuat suasana menjadi canggung seketika. Forlin memeluk pinggang Feral dari samping untuk menutupi rasa kecanggungannya. Ingin rasanya Forlin mengatakan. "Aku minta maaf untuk yang satu itu." Namun Feral seakan bisa membaca pikirannya itu. Feral mengatakan. .

"Iya aku maafin." Forlin tersenyum simpul mendengarnya.

Feral menepikan mobilnya lalu kembali bicara."Aku nggak pernah maksain kamu. Aku masih bisa menunggu kapan waktu itu tiba."

Feral mengambil kalung tengkorak yang sering ia pakai namun tak terlihat karena ia masukkan ke dalam bajunya. Di kalung itu, rupanya cincin yang pernah Forlin pakai di jari manisnya kini menjadi liontin di kalungnya.

"Cincin ini aku simpan disini sampai  kapanpun." Ucapnya sambil memandang cincin itu dengan mata berkaca-kaca. "Nggak bakalan aku lepasin sebelum ada berita kalau kamu cinta sama aku." Lanjutnya lalu terkekeh.

Forlin yang mendengarnya menangis. Lalu menyerang Feral dengan memeluk pria itu dengan sempurna. "Kenapa?"

"Karena Tuhan ciptain aku itu buat mencintai bidadari yang namanya Forlin." Feral terkekeh.

"Feral," lirih Forlin sambil menahan suaranya agar tidak sesugukan.

"Apa?"

"Dasar tengkorak suka baperin!!" Ucapnya sambil memperbaiki posisinya. Menyerang Feral dengan pukulan pelan di lengan pria itu. Dengan cepat Forlin menghapus jejak air matanya lalu tersenyum tipis.

"Aku nggak baperin kamu." Feral sengaja meringis karena pukulan Forlin. Meskipun itu tidak sakit.

"Iya!!."

"Terserah kamu. Aku ngalah deh." Feral terkekeh.

"Cowok memang harus mengalah." Forlin tersenyum penuh kemenangan.

"Iya,Forlin." Feral terkekeh. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kediaman Forlin.

"Feral, aku mau cincinku." Ucap gadis itu sambil cemberut.

"Nanti."

"Kapan?"

"Ya,nanti."

"Ya,kapan?"

"Bawel,ih." Feral tertawa.

Forlin hanya tersenyum. Sesekali melihat kalung Feral yang terlihat di luar bajunya. Cincin yang pernah melingkar di jarinya terlihat disana ysng sudah menjadi liontin bersama si liontin tengkorak itu.

"Kemana aja lo berdua?" Suara itu terdengar ketika Feral dan Forlin baru memasuki rumah. Daniel berkacak pinggang sambil menatap menyelidik kedua manusia itu.

"Ini udah jam sebelas malam,anjir!" Seru Daniel.

"Iya,tau!" Jawab Feral setelah itu ia buang muka.

"Iya tau!!" Kata Daniel meledek. " udah tau tapi pulangnya jam segitu."

"Jangan berisik!!" Forlin berjalan ke arah Daniel lalu memeluk pinggang sepupunya. "Mending tidur gih."

"Ini lagi satu!" Daniel melepaskan pelukan sepupunya. "Masuk kamar!" Perintah Daniel.

"Macem orang tua lo kayak gitu." Forlin tertawa lalu mencubit keras pipi Daniel. Daniel mengaduh. Forlin berlalu. Menuju tangga yang akan menuntunnya ke kamarnya.

"Gue nggak ngapa-ngapain dia. Gue cuma ngasi dia kejutan kecil-kecilan biar dia bisa ninggalin rasa sedihnya." Feral tersenyum ke arah Daniel.

"Makasih,Ral." Daniel tersenyum. "Lo emang selalu peduli tentang dia."

Feral terkekeh. "Namanya juga cinta. Tapi si cinta buat gue itu nggak muncul-muncul di hati dia."

"Forlin cuma terlena sama perasaan baru Aditya." Daniel menghampiri Feral lalu menepuk bahu pria itu. "Gue mau keluar dulu."

"Kemana? Udah malem coeg!! Lo tadi ngoceh-ngoceh gue baru dateng. Anjing juga!"

Daniel tertawa lalu melangkah menuju pintu utama. Ia berbalik sebentar. "Gue mau clubing dulu. Udah lama nggak minum." Ia melanjutkan langkahnya lalu menghilang bagaikan di telan pintu.

"Mau ikut nggak?" Tanyanya setelah kembali memperlihatkan dirinya di ambang pintu. Daniel mengedikkan kedua alisnya ke arah Feral.

"Nggak!!! Makasih!!!" Sergah Feral lalu berjalan memunggungi Daniel yang masih belum beranjak.

"Yaudah! Jaga Forlin takut nangis lagi." Daniel menutup pintu.

Feral tersenyum. Ia menaiki tangga menyusul Forlin di kamarnya.

Ketukan pintu membuat Forlin beranjak dari tempat tidurnya. Rupanya ia sudah mengenakan baju tidurnya yang berwarna merah jambu itu dan siap untuk menuju ke mimpi indahnya.

Forlin membuka pintu kamarnya lalu terlihat Feral berdiri tersenyum manis ke arahnya. Bahkan,senyuman lebarnya itu membuat matanya menyipit. Forlin terkekeh.

"Apaan sih,Feral. Senyumnya gitu banget."

Feral tetap tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam kamar Forlin melewati pemilik kamar itu tanpa menjawabnya.

"Besok  masuk sekolah nggak?" Tanya Feral seraya duduk di atas kasur.

Forlin menghampirinya lalu duduk di samping pria itu.  Ia menggeleng.

"Kenapa?"

"Nggak apa-apa. Takut nggak kuat aja disana. Takut nerima banyak ucapan bela sungkawa." Forlin menatap mata Feral yang sejak tadi mengamatinya dengan air mata berkaca-kaca. Ia memaksakan senyumannya.

"Yaudah. Besok kita libur." Feral tersenyum lalu memeluk gadis itu. "Kita libur sendiri,ya."

Anggukan kepala Forlin terasa di dekapan itu. Feral mengecup lembut rambut Forlin.

"Aku punya sesuatu buat kamu." Forlin melepaskan dekapan itu.

"Apa?" Tanya Feral antusias yang di sambut senyuman hangat dari bibir Forlin.

"Tutup matanya."

Feral menurut lalu menutup matanya. Terdengar lari ringan Forlin ke suatu tempat. Feral tersenyum.

"Buka matanya." Pintah Forlin. Feral membuka matanya. Hadiah itu sukses membuat pria itu berkaca-kaca. Ia Memeluk Forlin lalu menyerang wajah gadis itu dengan kecupan dari keningnya sampai dagu gadis itu.

____________________

Aku publish lagi setelah UNBK ya😊
Mohon di mengerti hehehe

CINTA DIAM-DIAM TERLUKA DIAM-DIAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang