EMPAT BELAS

1.7K 145 0
                                        

"Kalau besok aku mengajakmu ke DisneySea, kau mau ikut?"

Clara memiringkan kepalanya, seperti tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Suara Nathan beradu dengan suara bising orang-orang yang berlalu lalang, sehingga ia tidak yakin pada apa yang didengarnya. Ia melangkah mendekati Nathan agar ia bisa mendengar lebih jelas.

"Kamu bilang apa?" Tanya Clara untuk memastikan lagi bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi.

"Besok kamu mau ke DisneySea tidak?" Ulang Nathan dengan kalimat yang lebih sederhana.

"Kamu, ngajak aku ke DisneySea?" Tanya Clara sambil menunjuk dirinya sendiri. Ternyata yang didengarnya bukanlah halusinasi.

"Iya, mau atau tidak?" Tanya Nathan lagi. Nathan mulai kesal bila gadis itu banyak bertanya.

"Kita berdua?"

"Mau atau tidak?" Tanya Nathan mulai kesal.

"Ini serius atau bercanda?" Clara hanya ingin memastikan bahwa pria itu sedang tidak mengerjai atau menipunya. Tapi Clara yakin seorang Nathanael Romano bukan orang yang seperti itu.

"Jawab saja mau atau tidak, jangan banyak tanya. Kau membuat aku menyesal mengajak kamu." Kata Nathan yang sudah kesal dan kehabisan kesabarannya.

Clara menatap Nathan yang sudah terlihat kesal dan cemberut. Pria itu terlihat lucu sehingga membuat Clara tertawa.

"Tentu saja mau!" Jawab Clara tanpa banyak berpikir. Siapa yang akan menolak bila diajak pergi ke DisneySea?

"Baiklah...Kalau begitu temui aku dihotelku besok jam delapan pagi. Jangan telat." Kata Nathan sambil melirik jam tangannya untuk mengatur waktu.

"Tunggu, hotelmu dimana?" Sabar Clara dengan penuh semangat, ia sama sekali tidak masalah jika harus bangun pagi-pagi buta dan pergi menunggu pria itu dihotelnya. Asalkan dirinya pergi ke DisneySea.

"Apa Hotel Gyoemmae Shinjuku, cari saja di google maps."

"Oke. besok pagi jam delapan di hotel." Ulang Clara sambil mengetik nama hotel yang Nathan sebutkan pada notes diponselnya.

"Jika jam delapan aku belum melihat kamu, aku anggap kau tidak jadi pergi. Aku tidak suka orang yang telat. Ingat itu." Ancam Nathan.

"Baiklah. Aku harus segera kembali ke hotel dan tidur agar besok tidak telat. Sampai jumpa besok." kata Clara tak dapat menyembunyikan rasa senangnya, senyum lebar tergambar jelas pada wajahnya.

Gadis itu melambai lagi pada Nathan dan berjalan pergi dengan semangat. Bahkan tanpa disadarinya Clara berjalan sambil melompat-lompat kegirangan. Nathan menatap kepergian Clara sambil tersenyum geli.

Sebegitu senangkah anak itu?

Nathan menghela napas, dan ia melanjutkan perjalanannya menuruni tangga kemudian berdiri menunggu kereta datang. Sambil menunggu kereta yang akan membawanya kembali ke Shinjuku, Nathan mengingat kembali apa yang baru saja ia lakukan.

Nathan, kau memang sudah gila! Sejak kapan kamu mengajak gadis asing pergi?!

***

Merebahkan diri ditempat tidur adalah hal yang paling benar menurut Nathan saat ini. Pria itu langsung saja melempar tubuhnya keatas tempat tidur sesampainya ia dihotel. Pikiran dalam otaknya menguras tenaga sehingga ia merasa lelah. Bukan lelah secara fisik, namun lelah secara mental. Untuk beberapa lama Nathan merebahkan dirinya sambil memejamkan matanya diatas tempat tidur.

Tiba-tiba pria itu teringat akan sesuatu. Nathan langsung mengambil ponselnya, ia mencari sebuah nama dalam daftar kontak dan menggerakkan jarinya naik dan turun. Daniel Tanubrata, itu lah nama yang ia cari. Daniel adalah teman baiknya yang bekerja diperusahaan agen travel terkenal di Indonesia yang sering menjadi sponsor acara travelnya. Setelah menemukan nama itu di ponselnya ia langsung memencet tombol panggilan. Terdengar suara sambungan telepon, dan setelah beberapa lama menunggu akhirnya Daniel menjawab telepon itu.

"Halo, Daniel?"

"Yo, Nathan. Apa kabar?" Tanya Daniel, terdengar suara orang berbincang dan bunyi suara komputer dari ujung telepon.

"Baik. Loe sendiri? Lagi sibuk ya?" Tanya Nathan berbasa basi memulai percakapan.

"Gue juga baik kok. Well, yeah sibuk seperti biasa."

"Sorry nih gue ganggu." Kata Nathan sambil bangkit dari tempat tidur.

"It's okay. Ada apa nih? Tumben telepon. Eh, by the way loe lagi di jepang kan?"

"Iya. Gue lagi di Jepang. Hm...gue boleh minta tolong?" Tanya Nathan agak sungkan.

"Well, apa yang bisa gue bantu untuk seorang Nathanael Romano?"

"Kemarin loe pernah mau kasih gue tiket DisneySea kan?"

"Yup, tiket yang langsung loe tolak menatah-mentah itu." Kata Daniel mengingatkan dan Nathan masih ingat dengan kejadian itu.

"Ya...dan sekarang gue berubah pikiran." Kata Nathan yang kini duduk dipinggir tempat tidur sambil memijat pelan kepalanya.

"Jadi loe mau minta tiket DisneySea itu?" Tanya Daniel langsung tepat sasaran.

"Yup." Jawab Nathan singkat.

"Buat loe?"

"Iya."

"What? Seorang Nathan pergi ke DisneySea? Kesambet apa loe?" Ledek Daniel sambil tertawa. Nathan tidak bisa marah dengan sindiran temannya itu. Nathan memang bukan tipe orang yang senang pergi ke taman hiburan mengingat dirinya adalah solo traveller, apalagi dengan adanya kejadian beberapa waktu lalu saat Nathan menolak tiket itu dari Daniel. Nathan seperti menjilat ludahnya sendiri dan Nathan ingin mengutuk dirinya sendiri karena hal ini.

"Dan gue butuh tiket untuk dua orang."
Lanjut Nathan.

"Oh. Loe mau pergi ngedate sama Vina?" Tebak Daniel.

"Bukan...bukan ngedate. Gue cuma lagi pengen ke DisneySea aja." Nathan mulai kesulitan menceritakan situasinya, ia berusaha mencari kata-kata yang tepat agar tidak menimbulkan spekulasi yang salah.

"Jadi bukan sama Vina?" Tanya Daniel dengan nada mengintrogasi.

"Vina nggak ikut gue ke Jepang. Dia di Indo." Jawab Nathan jujur.

"Oh my God! Gila loe! Jadi loe pergi sama siapa?" Tanya Daniel dengan nada meninggi, antara kaget dan penuh dengan rasa ingin tahu.

"Dan, Please jangan banyak tanya. Nanti gue bakal ceritain kalo udah balik ke Jakarta. So, gue bisa dapetin tiket itu?" Tanya Nathan yang ingin segera mengakhiri percakapannya ini. Nathan sama sekali tidak ingin menceritakan dirinya yang bertemu seorang gadis asing yang membuntutinya hingga dirinya yang mulai gila dengan mengajak gadis itu pergi ke DisneySea. Nathan belum siap.

"Apa sih yang nggak buat loe. E-ticket Langsung gue kirim ke email loe yah." Walaupun penuh dengan rasa penasaran, Daniel tidak ingin mendesak Nathan. Ia tahu Nathan akan cerita pada saat yang tepat.

"Thanks banget Dan. Loe memang paling bisa diandalkan"

"Loe hutang cerita sama gue."

"Iya,"

***

Nathan memencet tombol lantai dasar pada tombol lift. Hari ini adalah hari paling pagi dirinya bangun dan kini ia sudah bersiap untuk meninggalkan hotel. Nathan bercermin pada salah satu sisi dinding lift, menyisir rambutnya asal dengan tangannya dan merapihkan coat warna hitamnya. Dengan sweater rajut warna abu muda, coat hitam, jeans dan sepatu vans, Nathan terlihat sangat santai.

Pintu lift terbuka dan Nathan berjalan menuju lounge. Lounge yang terletak disamping meja resepsionis itu nampak sepi. Tidak ada orang yang duduk disofa lounge tersebut. Nathan melirik jam tangannya. Sudah jam 7.58 pagi.

Apa dia tidak datang?

Tokyo Travelgram [completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang