Lampu penyebrangan telah berganti dari merah menjadi hijau dan orang-orang langsung mengambil langkah cepat untuk menyeberang jalan. Nathan berjalan santai ditengah kerumunan warga lokal yang berjalan menyeberangi persimpangan Shibuya yang selalu ramai. Hari ini Nathan memulai aktivitasnya lebih siang dari biasanya. Ia sengaja melewatkan jam sibuk warga lokal dipagi hari untuk menghindari keramaian dan berdesakan dikereta. Tentu saja ia pernah merasakannya, berada dalam kereta yang penuh sesak hingga sulit untuk bergerak. Nathan akan sangat menghindari pergi naik kereta ke daerah ramai pada jam sibuk. Sehingga pagi ini ia memutuskan untuk berada di tempat tidur lebih lama dari biasanya.
Seperti hari sebelumnya, hari ini langit nampak cerah dan angin berhembus kencang. Cuaca musim semi yang sempura dan Nathan sangat menyukainya. Ia menikmati setiap langkah kakinya menyusuri jalan di Shibuya, sambil mengamati orang-orang yang berlalu lalang, mobil yang melintas kencang, dan bangunan-bangunan padat. Jam sudah menunjukan jam 11 siang, hari ini Nathan memutuskan untuk berjalan-jalan di daerah Shibuya sebelum ia pergi ke Akihabara untuk membeli titipan Niko, adiknya.
Perhentian pertama Nathan adalah untuk mengisi perutnya. Ia sengaja menyempatkan diri untuk menikmati brunchnya kali ini di reatoran favoritnya, Gyukatsu Motomura. Ia sengaja datang disaat jam tanggung, yaitu waktu sebelum jam makan siang atau istirahat kantor. Karena ia tahu jika ia datang disaat jam makan siang, ia harus siap berdiri lama menunggu antrian ditangga yang sempit.
Restoran Gyukatsu Motomura sudah menjadi tempat makan wajib Nathan sejak pertama kali Nathan mengunjungi Jepang, Ia langsung terpikat oleh cita rasa makanan itu dan selalu merindukan menikmati daging sapi lembut berselimut tepung katsu dengan saus yang nikmat. Gyukatsu Motomura memliki beberapa cabang yang tersebar di Tokyo. Nathan pernah mencoba di gerai Shinjuku dan Yaesu, rasanya sama enaknya, tapi entah mengapa Nathan selalu memilih untuk pergi ke Shibuya.
Tidak ada antrian yang terlihat di tangga turun menuju pintu masuk. Nathan tersenyum senang, betapa bahagianya ia mengetahui dirinya bisa langsung masuk tanpa perlu berdiri menunggu ditangga sempit itu. Biasanya antrian masuk bisa mencapai satu jam pada saat ramai. Maklum saja, bangku untuk pengunjung ditempat ini hanya tersedia tak lebih dari sembilan buah. Jadi pengunjung harus sabar menunggu agar bisa masuk menikmati daging sapi yang terkenal akan kelezatannya itu.
Ia masuk dan duduk di bangku kosong paling pojok.Tempat itu masih sama, dan tidak berubah seperti terkahir kali Nathan pergi. Tempat kecil dan melorong sempit dengan meja model bar dan bangku berjejer. Diatas meja telah disiapkan panggangan berbentuk tungku hitam kecil sesuai jumlah bangku serta beberapa botol saus yang tertata rapih.
Seorang pelayan menyapanya ramah sambil datang menghampirinya dan memberikan selembar menu, Ia memesan sambil menunjuk gambar yang ada di menu, menu yang selalu ia pesan. Pelayan itu dengan cepat menyampaikan pesanan Nathan pada Chef yang sedang sibuk memasak di dapur terbuka dan berbatasan lansung dengan meja pengunjung. Nathan dengan sabar menunggu pesanannya dibuat langsung oleh chef yang ada didepannya.
Tak lama kemudian makanan pesanannya datang, Satu set gyukatsu dengan daging 260gram, lengkap dengan nasi, dan sup miso. Nathan sangat menyukai salad kentang yang disajikan bersama pada piring dagingnya. Ia mencuil salad itu dengan sumpit kayu dan mencicipinya.Rasanya enak, dan tidak berubah.Nathan kemudian beralih pada daging merah berselimut tepung bewarna coklat keemasan. Mengambil sepotong daging dan mulai memcelupkan potongan daging yang masih terlihat merah segar itu pada saus kecap asin dan mulai memanggangnya pada panggangan hitam kecil yang menyala didepannya.
Tempat makan wajib di Tokyo, Gyukatsu Motomura.
Bunyi daging yang dipanggang itu sangat menggoda dan menggiurkan, Nathan membalik daging itu dengan cepat. ia tak suka terlalu lama memanggang dagingnya karena akan merusak tekstur daging menjadi keras. Nathan terlalu asik dengan makanan dihadapannya, dan tanpa sadar seseorang memanggil namanya,
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo Travelgram [completed]
RomansaNathanael Pratama Romano sangat menyukai travelling seorang diri. Menelusuri tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi di muka bumi ini. Mengamati kehidupan manusia yang berbeda disetiap tempat dalam sudut pandang yang berbeda, dan mengabadi...
![Tokyo Travelgram [completed]](https://img.wattpad.com/cover/141907371-64-k584216.jpg)