Nathan mempercepat langkahnya, pria itu berpura-pura tidak mendengar namanya terus dipanggil oleh Vina yang kini terus mengikutinya hingga tempat parkir. Nathan terlalu emosi untuk menghadapi Vina, ia berpikir ini bukanlah waktu yang tepat untuk berbicara pada gadis itu. Ia perlu menenangkan hati dan pikirannya terlebih dahulu karena ia tidak ingin mengambil keputusan yang mungkin saja akan ia sesali nantinya.
"Nathan!" seru Vina sambil setengah berlari dengan tangannya yang sibuk menggulung gaunnya yang panjang. ia berusaha mengejar Nathan walau kakinya terasa sakit dan lecet akibat heels yang dipakainya.
"Nathan tunggu!" seru Vina, kali ini dengan suara yang lebih nyaring hingga berhasil membuat Nathan menghentikan langkahnya. Vina meraih lengan Nathan sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal.
"Please Vin, biarkan aku sendiri." Ucap Nathan sambil membalikan badannya. Nathan berusaha mengatur emosinya saat menatap Vina.
"Nathan tunggu, dengerin aku dulu." pinta Vina dengan nada frustasi.
"Vina, aku sudah cukup mendengar kata-kata orang tua kamu. Apa lagi yang harus aku dengar?" tanya Nathan, ia berusaha tidak terdengar sinis. Ia sadar semua ini bukanlah kesalahan Vina, tapi ia tidak dapat menyembunyikan kekecewaan terhadap orang tua Vina. Ucapan orang tua Vina yang ia dengar sudah cukup membuat perasaannya hancur.
"Aku minta maaf." ucap Vina, gadis itu merasa tidak enak hati dengan ucapan orang tuanya terhadap Nathan. Ia sendiri tidak menyangka pertemuan hari ini akan berakhir kacau.
"Untuk apa kamu minta maaf?" tanya Nathan sambil memandang dalam-dalam mata Vina hingga Vina merasa cukup terintimidasi dengan tatapan itu.
"Aku minta maaf kalau orang tua aku udah menyinggung perasaan kamu." lanjut Vina.
"Dengar, ini bukan pertama kalinya mereka seperti itu terhadapku. Mungkin kalau pertama kali aku dapat memakluminya dan berpikir itu tidak disengaja. Tapi ini tidak...mereka memang sengaja mengatakan hal itu padaku." kata Nathan berusaha menggambarkan apa yang ia rasakan.
"Aku tahu...Dan aku minta maaf atas apa yang orang tuaku lakukan. Aku juga tidak menyangka mereka akan mengatakan hal seburuk itu terhadap kamu." ucap Vina yang mulai kehilangan akal untuk menghentikan Nathan, ia tidak ingin Nathan terluka dan ia tidak ingin kehilangan Nathan.
"Bahkan kali ini lebih buruk dari pertemuan pertama. Nampaknya pandangan mereka terhadapku belum berubah sedikitpun. Dari pertemuan kita malam ini aku dapat menyimpulkan bahwa selama aku masih menjadi Nathan yang sekarang, mereka tidak akan merestui hubungan kita." kata Nathan dengan suara dingin.
"Bukan begitu, mungkin maksud mereka baik..." Vina dalam situasi yang serba sulit, ia ingin membela Nathan, tapi sebagai seorang anak ia menghormati kedua orang tuanya.
"Papa kamu jelas-jelas bilang dia tidak merestui aku." kata Nathan menegaskan.
"Iya, tapi pasti suatu saat mereka akan merestui kita. mereka akan menerima kamu..." jawab Vina, terdengar sebuah keyakinan dalam ucapannya.
"Katakan padaku, aku harus bagaimana?!" Kata Nathan dengan nada tinggi, ia mulai kewalahan mengatur emosinya.
"Apa aku harus berhenti mencintai pekerjaanku sekarang? Menulai kuliah lagi dan menjadi pekerja kantoran seperti yang dikatakan papa kamu?" Lanjut Nathan dengan emosi yang meluap.
"Apa aku harus memilih antara tetap menjalani karirku atau memulai pekerjaan yang aku tak suka demi memenuhi keinginan orang tua kamu? Demi menjaga image keluarga kamu? Apa aku ini sehina itu dimata keluarga kamu? Dengar, aku mencintai pekerjaanku yang sekarang. Aku bekerja keras, aku berjuang sama seperti orang lain diluar sana." kata Nathan lagi, ia sedang meluapkan emosi yang ada dalam batinnya yang tertahan sejak tadi.
"Satu hal lagi. Aku masih bisa terima jika mereka merendahkan aku ataupun pekerjaanku, tapi aku tak bisa tinggal diam jika mereka mulai mempermasalahkan keluargaku. Aku rasa semua orang akan melakukan hal yang sama."
Vina terdiam, ia tertunduk dengan mata yang mulai memerah dan basah. Rasanya ia tidak sanggup untuk menjawab Nathan.
"Kita sedang sama-sama emosi, aku tidak ingin berdebat. Dan aku pikir bukan waktu yang tepat untuk membahas hal ini. Aku butuh waktu untuk sendiri." kata Nathan kemudian ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan gadis itu.
"Nathan tolong maafkan orang tuaku. Aku akan bicara pada mereka..." gumam Vina mulai terisak, Nathan menghela napas panjang kemudian berjalan kembali mendekati Vina yang masih terdiam mematung ditempatnya.
"Biacara untuk apa? Memohon agar mereka mau menerima aku apa adanya? Ini tidak sesimple itu, Vina. Orang tua kamu bukan hanya mempermasalahkan aku, tapi juga keluarga aku. Dan aku nggak bisa terima itu. pandangan keluarga kamu berbeda denganku. aku tidak tahu apakah aku bisa merubah pandangan mereka atau tidak. karena itu adalah hal yang sulit untuk dirubah." ucap Nathan berusaha menjelaskan inti permasalahan yang mereka hadapi.
"Lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan hubungan kita?"
"Aku sama sekali tidak bisa berpikir saat ini. Dan aku tidak mau mengambil keputusan apapun sekarang karena aku mulai tidak bisa melihat ujung dari hubungan kita."
"Aku takut....Aku takut kehilangan kamu..." ucap Vina lirih.
"Vina, aku sudah berusaha mengerti orang tua kamu. Tapi mereka sama sekali tidak pernah menerima aku. Mungkin orang tua kamu benar, aku memang tidak cukup baik untuk kamu."
"Apa kamu mau menyerah? Kamu mau mengakhiri semuanya?"
"Entahlah, aku sendiri tidak bisa berpikir apa yang harus aku lakukan. Lebih baik aku pulang sekarang."
"Apa semudah itu bagimu untuk menyerah?"
"Cukup Vina! Jangan bicara seperti aku tak pernah berusaha memperjuangkan hubungan kita. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang."
"Apa kamu tidak mencintaiku?"
"Ini bukan hanya masalah cinta atau tidak."
"3 tahun...kita sudah bersama selama tiga tahun, itu bukan waktu yang singkat, aku tidak mau kita berakhir begini!"
"Waktu tidak pernah menjamin atau menjanjikan apapun untuk hubungan kita."
Vina terdiam, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia menggigit bibirnya, kata-kata yang ingin ia ucapkan tertahan dibibirnya.
"Sudah kubilang, aku sedang tidak ingin berdebat. Aku butuh waktu berpikir, memikirkan semuanya, merenungkan lagi hubungan kita. "
"Tolong mengerti aku, ini demi kebaikan kita berdua..." lanjut Nathan, sambil berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Vina.
"Nathan..." gumam Vina lemah sambil melihat punggung pria itu berjalan meninggalkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo Travelgram [completed]
RomanceNathanael Pratama Romano sangat menyukai travelling seorang diri. Menelusuri tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi di muka bumi ini. Mengamati kehidupan manusia yang berbeda disetiap tempat dalam sudut pandang yang berbeda, dan mengabadi...
![Tokyo Travelgram [completed]](https://img.wattpad.com/cover/141907371-64-k584216.jpg)