Nathan menatap lurus layar komputernya sambil menggetuk-ngetukkan jarinya pada meja. Ia berusaha fokus dan berkonsentrasi untuk membuat konten baru yang hendak ia tuangkan pada blog miliknya. Sudah hampir tiga jam Nathan duduk didepan layar komputernya, namun tidak ada hasil signifikan yang dapat dikerjakannya. Bahkan lagu yang diputarnya melalui speaker tidak membantu ia mendapatkan ide sama sekali.
Pikirannya terombang-ambing, ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan pekerjaannya dan itu membuat ia kesal pada dirinya sendiri. Sudah beberapa hari berlalu setelah pertemuannya dengan ayah Vina di cafe, dan sejak saat itu Nathan kehilangan fokusnya dalam bekerja. Ia memikirkan apa yang dikatakan ayah Vina, tentang kelanjutan hubungannya dengan Vina yang sedang di ujung jurang. Nathan memejamkan matanya dan memijat pelan kepalanya yang terasa berdenyut.
Tiba-tiba ia dikagetkan dengan bunyi ponselnya, ada telepon masuk. Ia mengambil ponselnya yang berada disudut meja. Vina. Nama itu tertera pada layar ponselnya. Nathan menghela napas. Entah sudah berapa lama ia tidak menghubungi gadis yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu. Jujur, ada rasa kerinduan pada diri Nathan untuk mendengar suara Vina. Ia merindukan hubungannya yang dulu. Hubungan yang terasa nyaman dan menyenangkan, ketika hubungan mereka belum serumit sekarang.
Nathan terdiam sejenak, membiarkan ponsel itu terus berdering sebelum akhirnya ia mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo..." Sapa Nathan dengan suara canggung.
"Halo Nathan..."
***
Suara ketukan pintu terdengar, Nathan yang sedang berada dikamarnya segera keluar untuk membukakan pintu.
Vina. Gadis itu kini berdiri didepan pintu apartemen Nathan. Seperti biasanya, penampilannya sangat cantik walau ia hanya mengenakan kaus putih oversized dan celana pendek hitam. Terlihat santai tetapi tetap modis. Nathan memandangi wajah Vina sejenak.
"Hai..." Sapa Vina sambil tersenyum agak canggung. Ini adalah pertemuan mereka kembali setelah pertengkaran mereka pada acara makan malam bersama orang tua Vina.
"Kamu potong rambut?" pertanyaan itu yang langsung terlontar dari mulut Nathan pertama kali. Sambil ia mempersilahkan Vina masuk kedalam apartemen miliknya. Nathan merasakan perbedaan pada penampilan Vina, dan langsung dapat mengetahui kalau gadis itu sedikit merubah gaya rambutnya.
"Iya, Aku potong pendek sedikit. terlihat aneh ya?" Tanya Vina sambil merapihkan rambutnya asal dengan jemarinya.
"Nggak kok, bagus. Jadi terlihat fresh. Silahkan duduk."
Vina duduk di sofa ruang tamu, dan memandang sekitar. "Sudah lama aku nggak mampir ke sini. Mama kamu mana?"
"Mama lagi ke rumah sakit, ditemenin Nico." jawab Nathan
"Gimana kabar mama?"
"Ya begitulah. selama beliau rutin check up ke rumah sakit, dia akan baik-baik saja."
"Oh...Kalau Nico?"
"Dia juga baik, tapi sepertinya dia akan mulai KOAS diluar kota minggu depan. Dan itu berarti aku harus meluangkan waktu lebih banyak untuk menggantikan Nico menemani mama ke rumah sakit."
"Kamu bisa telfon aku. Aku bisa kok gantiin kamu buat nemenin mama kamu ke rumah sakit. Mama kamu juga pasti nggak akan keberatan." kata Vina tanpa berpikir panjang.
"Tapi..."
"Hei, kita sudah pacaran tiga tahun, Mama kamu juga udah kenal aku. Nggak usah sungkan..."potong Vina sebelum Nathan sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Vina..."
"Nathan, Aku kesini nggak ada tujuan untuk ngomongin pernikahan atau apalah itu. Aku nggak mau memperburuk hubungan kita. Aku cuma mau kita baikan kayak semula. Aku nggak suka kalau harus diem-dieman sama kamu berhari-hari." lagi, gadis itu memotong kalimat Nathan. Ia tidak ingin Nathan membahas masalah yang akan membuat situasi mereka berdua menjadi canggung dan mendingin. Vina hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Nathan.
"Kamu tahu papa kamu kemarin ketemu sama aku?"tanya Nathan.
Vina mengangguk. "Iya, Papa udah cerita sama aku. Papa nanya tentang pernikahan lagi kan? Udah, nggak usah dijawab, aku juga nggak mau bahas itu. Dengar Nathan, hubungan ini kita yang jalanin. Aku nggak ingin terlalu banyak orang yang ikut campur dalam hubungan kita. Kita yang tahu perasaan masing-masing, dan kita yang tahu kapan kita siap untuk menikah. Kita masih punya banyak waktu."jelas Vina, kali ini ia terdengar lebih bijaksana, apakah kejadian kemarin mereka menjadikan ia lebih dewasa? batin Nathan.
"Ya...kamu ada benarnya juga sih. Aku nggak ingin merusak suasana, at least untuk hari ini. Sudah lama kita tidak bertemu, aku juga tidak ingin memperburuk hubungan kita."kata Nathan sambil menghela napas.
"Bahkan aku harus beralasan untuk meminjam lensa kamera kamu untuk bisa telfon dan ketemu kamu. Rasanya sedih banget." keluh Vina sambil melipat tangannya.
"Jadi itu hanya sebuah alasan? Bilang saja kalau kamu kangen."kata Nathan dengan nada meledek.
"Nggak juga sih, aku memang butuh lensa itu untuk pemotretan."
"By the way, kamu mau minum apa? teh atau kopi?"
"Apapun." jawab Vina santai.
"Tunggu sebentar, aku buatkan teh Moroccan mint kesukaan kamu. Oh ya, Lensa yang kamu cari ada di kamar aku. Ada di lemari belakang meja kerja, kamu tahu tempatnya kan?"
"Lemari tempat biasa kamu simpan semua lensa kamu, kan?" tanya Vina memastikan.
"Yup." jawab Nathan sambil berjalan menuju dapur, ia mengambil dua cangkir putih bermotif bunga dan mulai menyeduh teh, pria itu masih hafal dengan benar teh favorit Vina.
Sementara menunggu Nathan yang sibuk membuatkan teh untuknya, Vina masuk kedalam kamar Nathan. Ia mengamati keseluruhan kamar Nathan, tidak ada yang berubah dari kamar itu, masih sama seperti terakhir ia mampir ke apartemen mungkin sebulan yang lalu. Ia senang berada di kamar Nathan, kamar Nathan tidak terlalu besar tapi sangat rapih dan wangi. Kamar itu berisi tempat tidur dengan bantal dan selimut bewarna abu-abu, lemari-lemari dan meja kerja bewarna putih, serta lantai vinyl motif kayu yang membuat kesan hangat dan nyaman. Vina cukup mengagumi taste Nathan dalam mendekor kamarnya.
Vina berjalan menuju lemari yang dimaksud Nathan. Saat dirinya melewati meja kerja Nathan, perhatiannya teralihkan pada layar komputer Nathan yang masih menyala, seketika itu ia tergoda untuk melihat apa yang sedang Nathan kerjakan. Vina duduk dikursi kerja itu dan mulai mengutak-atik komputer Nathan. Ia mengklik folder yang sedang Nathan buka, hingga ia menemukan folder berisi foto-foto hasil dari liburan Nathan. Vina mengamati foto-foto itu, mengkliknya secara random. Tanpa Vina sadari Nathan masuk kedalam kamarnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Nathan sambil meletakan cangkir teh diatas meja kerjanya. Nathan sebenarnya tidak masalah jika Vina ingin melihat pekerjaannya, tapi ia tidak suka jika Vina melakukannya secara diam-diam. Sedikit kurang etis baginya.
"Maaf, aku nggak bermaksud lihat kerjaan kamu..." Kata Vina kaget, ia segera bangun dari kursi kerja Nathan.
Vina berjalan menuju lemari yang berada dibelakang meja kerja Nathan, membuka lemari itu dan mencari lensa yang diinginkannya. Setelah mendapatkan barang yang ia cari, Vina berjalan hendak keluar dari kamar Nathan.
Nathan yang sedari tadi berdiri mengamati Vina tiba-tiba meraih pergelangan tangan Vina, kemudian Nathan mendorong tubuh Vina hingga tubuh Vina kini menyandar merapat pada lemari dan mengunci tubuh vina dengan kedua tangannya.
Nathan menatap Vina dengan tatapan serius dan dalam.
"Nathan..." gumam Vina yang terkejut dengan reaksi Nathan. Tidak seperti biasanya pria itu bersikap spontan hingga membuatnya terkejut.
"...." Nathan tidak menjawab. Ia masih memandangi Vina dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Vina.
"Kamu...kenapa?" tanya Vina
"Ayo kita menikah..." ucap Nathan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo Travelgram [completed]
RomansaNathanael Pratama Romano sangat menyukai travelling seorang diri. Menelusuri tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi di muka bumi ini. Mengamati kehidupan manusia yang berbeda disetiap tempat dalam sudut pandang yang berbeda, dan mengabadi...
![Tokyo Travelgram [completed]](https://img.wattpad.com/cover/141907371-64-k584216.jpg)