Mata tajam Nathan dengan cepat menemukan koper hitam miliknya diantara deretan koper-koper besar lainnya. Dengan cekatan ia segera mengambil koper miliknya kemudian meletakkannya keatas trolley yang sudah dipenuhi beberapa paper bag berisi oleh-oleh yang ia beli di Jepang. Setelah itu ia berjalan sambil mendorong trolley keluar dari bandara. Langit sudah gelap saat Nathan mendarat di Jakata. Berbeda dengan udara dingin di Jepang, udara hangat langsung menyambut kepulangan Nathan saat ia melangkahkan kaki keluar dari bandara.
Nathan berjalan sambil memperhatikan sekitarnya, ia melihat papan penunjuk arah untuk pergi menuju antrian taxi, dari jauh terlihat antrian yang cukup panjang. Nathan kemudian mengambil posisi paling belakang pada antrian untuk menunggu taxi. Sambil menunggu, Nathan mengeluarkan dan memainkan ponselnya. Perhatiannya teralihkan saat tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggilnya dengan suara nyaring.
"Hei, Nathanel Pratama Romano!" Nathan merasa familiar dengan suara yang memanggilnya, suara perempuan. Ia memalingkan wajahnya.
Vina Clarissa, gadis berparas cantik dengan penampilan fashionable itu telah berdiri tak jauh dari Nathan. Gadis itu memandang Nathan dengan wajah kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Nathan tersenyum memandang Vina, namun ekspresi Vina tak berubah. Nampaknya Gadis itu masih menyimpan amarah pada Nathan dan ia bisa memaklumi kekesalan gadis itu.
Melihat kekasihnya yang masih cemberut, Nathan mengambil sebuah paper bag diantara kantong lainnya, kemudian ia mengangkat kantong itu seolah memperlihatkannya pada Vina.
"Yakin kamu masih mau marah sama aku?" tanya Nathan sambil menaikan sebelah alisnya, dan dengan nada menggoda.
Vina memandang paper bag yang ada di tangan Nathan dan ia langsung tahu apa yang ada didalamnya, tas yang sangat diidamkannya sejak berbulan yang lalu.Nampaknya Nathan sangat mengenal Vina, ia tahu bagaimana cara menaklukan hati gadis itu. Dengan terpaksa Vina melupakan kekesalannya pada Nathan. Kini sebuah senyum tergambar jelas pada wajah Vina. Dan gadis itu berlari kecil menuju Nathan, kemudian memeluknya. Dari pelukannya, Nathan dapat merasakan kerinduan Vina, Nathan mengelus pundak Vina perlahan.
"I miss you so much." gumam Vina yang masih belum melepas pelukannya. Berada dalam pelukan membuat Vina dapat mencium wangi parfum Nathan, dan dalam pelukan Nathan membuatnya merasa nyaman.
"Me too. Aku nggak lupa titipan kamu kan?" Tanya Nathan untuk memastikan jika mood gadis itu sudah membaik.
"Iya, tapi aku masih kesal." gumam Vina, Nathan tersenyum. Gadis itu terkadang bersikap seperti anak kecil yang membuat Nathan gemas padanya.
"Jadi, aku harus berbuat apa supaya kamu memaafkan aku?" tanya Nathan.
Vina melepas pelukannya, kemudian menatap wajah Nathan, "Aku lapar."
"Baiklah, aku tahu apa yang harus aku lakukan."
***
Selama tiga tahun menjalin hubungan dengan Vina rasanya cukup bagi Nathan untuk mengenal gadis itu. Mengenal apa yang disuka dan tidak disukanya, kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan gadis itu Nathan hafal diluar kepala. Kini mereka duduk di sebuah restoran korean barbeque favorit Vina. Nathan dengan cepat memesan menu yang disukai Vina tanpa harus bertanya pada gadis itu, dan Vina tersenyum menatap Nathan. Dalam hati gadis itu ia bersyukur memiliki pria seperti Nathan dalam hidupnya.
"So, apakah liburanmu menyenangkan?" Tanya Vina memulai percakapan. Ia melipat kedua tangannya diatas meja, seolah siap mendengarkan cerita-cerita Nathan.
"Yup." jawab Nathan singkat sambil menuangkan botol berisi Barley tea pada gelas stainless yang tersedia diatas meja.
"Ayo ceritakan padaku!" Seru Vina tak sabar.
"Cerita apa?" tanya Nathan yang bingung harus memulai cerita dari mana.
"Cerita apa saja yang kamu lakukan di Jepang. Selama seminggu disana pasti ada hal yang menarik."
"Hm...sebenarnya tidak ada hal istimewa yang aku lakukan. Aku pergi ke tempat yang biasa aku kunjungi, melakukan semua hal yang kusuka, berbelanja dan makan makanan enak. Oh...tidak ketinggalan untuk melihat sakura." Kata Nathan sambil mengingat apa yang ia lakukan selama liburannya kemarin.
"Lalu mengapa kau menghilang selama tiga hari? Kamu tidak biasanya menghilang tanpa kabar selama itu. Bahkan kamu tidak mengupdate instagram mu." tanya Vina mulai menginterogasi.
"Aku tidak menghilang. hm...aku....hanya terlalu sibuk." Jawab Nathan sambil memikirkan kata-kata yang mudah diterima Vina. Rasanya ia tidak mungkin untuk mengatakan secara detail apa yang dilakukannya. Bahkan Nathan sendiri tidak sadar telah 'hilang' selama tiga hari.
"Sibuk?" tanya Vina sambil mengerutkan dahinya.
"Ya, aku pergi berkeliling Shibuya, Shinjuku, Daikanyama, Omotesando... mencari spot terbaik dan tempat baru untuk hunting foto. Kamu kan tahu kalau aku akan lupa waktu kalau sudah menyangkut fotografi. Ah, dan aku juga mencari bahan untuk aku bahas di blog ku. Aku butuh waktu lama untuk memikirkan itu." Jelas Nathan yang kemudian obrolan mereka terputus karena makanan pesanan mereka datang dan langsung memenuhi meja. Mata Vina nampak berbinar menatap piring-piring berisi daging sapi bakar yang telah dibumbui khas Korea. Tidak lupa dihidangkan dengan piring berisi selada dan berbagai macam side dish.
"Lalu, kapan kita bisa berlibur bersama? Kau tahu, kadang aku merasa iri dengan teman-temanku. Aku juga ingin berlibur bersama pacarku sambil melihat bunga sakura." protes Vina sambil sibuk membuat wrap selada berisi daging dan kimchi.
"Nanti, akan kupertimbangkan." jawab Nathan singkat sambil tersenyum tipis.
"Sampai kapan kamu mau berlibur sendirian? Apa aku tidak pernah dianggap?" tanya Vina yang sudah mulai lelah dengan kebiasaan Nathan. Sebagai pacar, Vina sangat menginginkan berlibur bersama Nathan. Hal sepele bagi orang lain, namun menjadi hal sulit bagi Vina, karena Nathan tidak menyukai berlibur bersama.
"...." Nathan terdiam, ia tak menjawab, entah ia tak ingin menjawab atau sebenarnya ia memikirkan pertanyaan itu dalam-dalam.
"oh ya, apa hari sabtu minggu depan kamu sibuk?" tanya Vina mengalihkan pembicaraan.
"Sabtu? hm...sepertinya tidak." jawab Nathan sambil sibuk menyumpit makanan yang ada didepannya.
"Kalau begitu kamu punya waktu untuk makan malam bersama?" tanya Vina dengan tatapan agak ragu.
"Bukankah hari sabtu kita biasanya memang menghabiskan waktu berdua?" tanya Nathan, ia merasa aneh dengan pertanyaan yang diajukan Vina.
Vina meletakkan sumpitnya diatas piring, ia tahu arah pembicaraan kali ini akan menjadi serius. "hm...kurasa kali ini akan berbeda. Maksudku bukan makan malam denganku saja."
"Maksudmu?" tanya Nathan sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Makan malam bersama orang tuaku." jawab Vina dengan nada berhati-hati.
"..." Nathan terdiam lagi, Napsu makannya seakan lenyap seketika. Kini ia menatap Vina dengan tatapan serius. ia sama sekali tak menyangka kalau Vina akan membahas hal ini. Nathan merasa belum siap untuk bertemu dengan orang tua Vina lagi.
"Papa menyuruhku untuk mengajakmu makan malam bersama. Rasanya sudah lama sejak pertemuan pertamamu dengan orang tua ku." Lanjut Vina, ia berharap Nathan tak menolak permintaannya karena ini adalah urusan keluarga yang mungkin akan menentukan masa depannya bersama Nathan.
"Vina..."
"Aku tahu mungkin kamu belum siap, aku juga tahu pertemuan pertama kemarin menginggalkan kesan yang tidak baik. Tapi aku yakin kali ini mereka akan bersikap lebih baik..."
"Apa aku bisa menolak?"
"Apa kamu keberatan?"
"Well...Cepat atau lambat, aku tetap akan bertemu dengan orang tua kamu, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo Travelgram [completed]
RomanceNathanael Pratama Romano sangat menyukai travelling seorang diri. Menelusuri tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi di muka bumi ini. Mengamati kehidupan manusia yang berbeda disetiap tempat dalam sudut pandang yang berbeda, dan mengabadi...
![Tokyo Travelgram [completed]](https://img.wattpad.com/cover/141907371-64-k584216.jpg)