Masih terlalu pagi bagi seorang Nathanael Romano untuk memulai harinya disaat liburan. Pria itu berguling ke kanan dan ke kiri memcari posisi nyaman untuk melanjutkan tidurnya, namun sepertinya gagal. Matanya memang terpejam tetapi ia tidak bisa tidur. Ia merasa tubuhnya lelah dan matanya berat, namun sepertinya banyak hal yang muncul dipikirannya hingga menggangu kedamaian tidurnya. Nathan kesal, ia menghempaskan selimut putih yang menutupi tubuhnya dan memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurnya.
Merasa nyawanya belum terkumpul sempurna, Nathan memutuskan untuk pergi ke Seven-Eleven yang letaknya tak jauh dari hotelnya. Seperti hari-hari lainnya dan sudah menjadi kebiasaan setiap hari bagi Nathan untuk mengkonsumsi kopi, ia mengelilingi rak minuman dan membeli sebotol kopi instant kemudian ia duduk sejenak disalah satu kursi tinggi yang menghadap ke jalan sambil memandangi orang berlalu lalang.
Sambil meneguk kopi ia memikirkan hal yang dapat mengembalikan mood dan semangatnya pagi ini, sembari menyusun rencana untuk mengisi kegiatan yang akan dilakukannya hari ini. Dan untuk memulai semua itu ia membutuhkan sesuatu untuk mengisi perutnya. Nathan memutuskan untuk mencari sarapan terlebih dahulu. Nathan sangat percaya dengan ungkapan bahwa sarapan dapat menentukan berjalanannya sebuah hari.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya ia memutuskan kemana ia akan sarapan hari ini, setelah yakin pada keputusannya ia menghabiskan sisa kopinya dalam sekali tegukan, ia bangkit dari kursinya berjalan mendekat kearah tempat sampah disebelah pintu masuk untuk membuang botol kopinya yang sudah kosong.
Dengan headset yang sudah terpasang ditelinganya Nathan berjalan santai dalam stasiun metro. Pria itu harus menelan ludah saat melihat antrian panjang orang-orang yang menunggu kereta. Kerumunan orang berjas dan berpakaian rapih serta anak-anak berseragam sekolah yang sudah menunggu kedatangan kereta dan siap menyerbu kereta yang datang. Ia menepuk jidatnya karena ia lupa akan jam sibuk yang seharusnya ia hindari. Nampaknya ia harus menyiapkan tubuh dan mentalnya agar bisa bertahan sampai tujuan.
Awalnya Nathan teringat akan cafe yang menjual pancake favoritnya sehingga ia memutuskan untuk berkunjung ke daerah Daikanyama, daerah yang tidak jauh dari Shinjuku. Selain ingin menyantap pancake sebagai sarapannya, masih banyak hal yang bisa dia lakukan disana. Namun ia harus mengutuk keputusannya karena ia pergi disaat jam sibuk sehingga harus berdesakkan dalam kereta.
Setelah melewati tiga stasiun dari stasiun Shibjuku, Nathan tiba di stasiun Shibuya, ia turun di stasiun Shibuya untuk berpindah kereta tokyu-toyoku line. Lagi-lagi ia harus menghela napas melihat antrian yang sudah mengular. Nathan berdiri dibelakang, ia tidak ingin terburu-buru dan membiarkan warga lokal mengantri didepannya, ia berpikir untuk menunggu kereta berikutnya saja.
Tak lama kemudian kereta datang dan langsung diserbu, sehingga dalam sekejap kereta itu langsung penuh sesak. Setelah membiarkan kerumunan warga lokal itu masuk kedalam kereta, Nathan berjalan kedepan dan berdiri dibelakang garis batas untuk menunggu kereta berikutnya, ia berharap kereta berikutnya akan lebih sepi sehingga ia tak perlu menyiksa dirinya.
Nathan menunggu kereta sambil memainkan ponsel untuk mengusir kebosanannya. Setelah berdiri menunggu sekitar lima menit, kereta berikutnya datang. Kereta itu berhenti dan pintu terbuka, Nathan yang berdiri tepat didepan pintu menyingkir kesamping membiarkan penumpang turun dari kereta terlebih dahulu. Jumlah penumpang yang turun banyak sehingga terjadi bentrokan antar penumpang hingga salah satu pria bertubuh besar menyenggol seseorang yang berdiri disampingnya, seorang gadis yang tubuhnya jauh lebih kecil. Gadis itu terhuyung kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh kearah Nathan, dengan reflek yang cepat Nathan memegang lengan gadis itu agar ia tidak terjatuh.
Gadis itu menolehkan kepala dan menatap Nathan. Nathan melihat wajah gadis itu, sejenak Nathan berpikir, ia merasa tidak asing dengan wajahnya. Untuk beberapa detik mereka saling menatap tanpa berkedip. Betapa kagetnya saat Nathan menyadari bahwa gadis yang ditolongnya itu adalah Clara. Gadis aneh yang ditemuinya kemarin, gadis asal Indonesia yang meminta mengikuti dirinya sepanjang hari. Ya, Nathan mengingat dengan benar gadis itu. Clara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo Travelgram [completed]
RomanceNathanael Pratama Romano sangat menyukai travelling seorang diri. Menelusuri tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi di muka bumi ini. Mengamati kehidupan manusia yang berbeda disetiap tempat dalam sudut pandang yang berbeda, dan mengabadi...
![Tokyo Travelgram [completed]](https://img.wattpad.com/cover/141907371-64-k584216.jpg)