DUA PULUH DUA

1.6K 156 1
                                        

Suara ketukan pintu terdengar samar ditelinga Clara yang enggan membuka matanya untuk bangun dari tidurnya. Tubuhnya menggeliat diatas tempat tidurnya yang nyaman. Clara menutup matanya yang terasa silau oleh sinar matahari yang menembus jendela kamarnya dengan punggung tangannya.

"Non Clara bangun...sudah siang..." kata Bi Parni dari balik pintu. Suaranya terdengar khawatir karena Clara tidak biasanya bangun siang dan mengurung diri dikamarnya.

"Bangun non...sudah mau jam dua belas siang! Nyonya suruh Non makan, dari semalam non belum makan" Lanjut Bi Parni yang tidak mendapatkan jawaban dari dalam kamar, kali ini dengan suara yang lebih keras.

Clara mendengar suara Bi Parni, dan menjawabnya dengan lemah. "Iya, sebentar lagi bi!" Clara sama sekali tidak merasa lapar, yang ia inginkan hanya tidur sepanjang hari.

"Baik non..." jawab Bi Parni yang kemudian berjalan meninggalkan kamar Clara.

Clara masih terdiam diatas tempat tidurnya sambil menatap kosong langit-langit kamarnya. Ini kamarku...ah, benar juga, aku sudah pulang dari Jepang kemarin, batinnya. Otaknya seakan butuh waktu untuk berpikir dan mencerna apa yang harus mulai dilakukannya hari ini.

Clara menggerakan tubuhnya, tangannya berusaha menggapai ponselnya yang berada diatas meja kecil disamping tempat tidurnya. Ia menyalakan ponselnya dan dengan malas ia mulai membalas pesan untuknya terutama masalah pekerjaan yang tertunda selama beberapa hari selama ia pergi ke Jepang.

Clara menggerakan tangannya naik turun, menbaca sekilas pesan-pesan yang masuk dan mengetik pesan dengan cepat untuk membalas pesan yang menurutnya penting. Dari ratusan pesan yang masuk Ia bisa melihat nama Ray diantaranya, pria itu mengirimnya pesan dan missed call beberpa kali. Namun ia tidak menghiraukannya,  ia sedang tidak ingin memikirkan pria itu. Karena bagi Clara masih banyak hal yang harus ia kerjakan selain masalahnya dengan Ray.

Clara masih sibuk menggerakkan jarinya, ia melihat pesan dari Jane dan langsung membuka pesan itu.

Cla, jangan lupa acara hari minggu jam setengah 12 di Cafe biasa ya!

Pesan itu dikirimkan Jane sejak hari Jumat. Clara dengan segera mengecek layar ponselnya untuk memastikan jam dan tanggal. Hari ini hari minggu...ah, ulang tahun Jane! Jika ia tidak membaca pesan itu, ia benar-benar akan melewatkan acara ulang tahun JaneClara dengan malas berjalan kearah kamar mandi untuk bersiap.

Setelah bersiap, ia duduk di depan meja rias bewarna putih sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk secara asal.  Ia membuka laci meja untuk mengambil sisir yang biasa digunakannya, namun perhatiannya teralihkan oleh sesuatu. Matanya tertuju pada sebuah kotak kecil. Kotak kecil bewarna tosca berpita putih satin yang selalu disimpannya dengan rapih dalam laci itu hampir setengah tahun. Ia menatapnya cukup lama sebelum mengambil kotak itu.

Ia mengeluarkan kotak itu dari laci dan meletakannya diatas meja. Clara membuka pita dan tutup kotak itu perlahan. Dan mengeluarkan sebuah kotak hitam berbahan beludru didalamnya. Clara mengelus perlahan kotak hitam beludru itu sebelum ia membukannya. Sebuah cincin emas putih dengan berlian cutting classic nampak bersinar dari dalam kotak cincin itu. Clara tersenyum tipis menatap cincin indah itu. Senyuman miris.

Mungkin sejak dulu secara tidak sadar aku sudah tahu...jawaban mengapa aku selalu menyimpan dan tidak pernah memakai cincin tunangan pemberian Ray...

Karena dari dulu aku merasakan keraguan dalam dirinya...

Tidak terasa tetesan air mata mulai membasahi pipi Clara, ia segera menghapus air matanya. Clara menutup kotak cincin itu dan kembali memasukkannya ke dalam kotak tosca.

***

Clara memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe yang terletak di kawasan Jakarta Selatan. Cafe tempat Jane merayakan ulang tahunnya. Sejak beberapa minggu yang lalu Jane sudah merencanakan pesta ulang tahunnya. Seperti tahun-tahun biasanya Jane mengundang beberapa teman dekatnya untuk mentraktir mereka makan siang bersama pada hari ulang tahunnya..

Jam sudah menunjukkan jam setengah dua lewat, awalnya Clara agak ragu untuk masuk kedalam cafe itu. Ia ragu jika pestanya sudah selesai, mengingat acara dimulai sejak jam setengan dua belas siang. Ia melirik kearah mobil-mobil yang terparkir di parkiran dan ia merasa lega saat menemukan beberpa mobil yang dikenalnya, seperti mobil milik Jane, Olive bahkan Maya.

Clara memberanikan diri untuk masuk ke dalam cafe, ia berjalan mantap menuju sebuah ruang khusus yang dikelilingi kaca. Dari jauh ia bisa melihat teman-temannya sedang asik mengobrol dan bercengkrama di sebuah meja panjang dengan hiasan bunga dan lilin bewarna putih, dan tidak kelewatan sebuah kue ulang tahun di salah satu sudut meja. Di dalam ruangan itu terdapat sekitar 20 orang. Clara mengenal semua teman-teman yang diundang Jane.

"Clara!" Sapa Maya saat dirinya berpapasan dengan Clara saat ia berjalan kembali dari toilet.

"Eh, halo Maya..." sapa Clara agak terkejut.

"Loe kapan balik Jakarta?" tanya Maya sambil memeluk Clara.

"Kemarin. Oh ya May, Gue belum bilang Thankyou dan sorry secara langsung. Gue bener-bener merasa nggak enak sama loe dan Andrew. Sorry banget ya..." 

"It's okay. Tapi, Memang ada apa sih sampe loe kabur gitu? Ray sampe panik banget tahu." Tanya Maya dengan wajah penuh tanda tanya dan rasa penasaran. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi antara Clara dan Ray.

"Iya, gue akan jelasin semua ke loe, tapi setelah acara ultah Jane ya. By the way, yang lain ada yang tau masalah ini?" Clara merasa tidak enak hati pada Maya karena seperti sudah menyeret Maya dalam masalahnya.

"Sejauh ini sepertinya tidak. Gue juga nggak berani cerita atau tanya apa-apa, secara gue nggak tahu masalahnya. Anak-anak yang lain juga nggak ada yang membahas. Tapi gue nggak tahu ya kalau Ray cerita sama yang lain atau nggak."

"Oh...ok"  gumam Clara.

"Ayo masuk, Jane dan lainnya udah nungguin loe tuh." Kata Maya sambil menarik Clara untuk mengajaknya masuk kedalam ruangan kaca.

Clara mendorong pintu kaca dan masuk kedalam ruangan itu diikuti dengan Maya. Ia bisa merasakan semua mata dan perhatian kini tertuju padanya.

"Clara!" seru Olive sambil tersenyum saat menyadari kedatangan Clara pertama kali.

"Hai..." sapa Clara pada semua temannya dengan senyuman canggung.

"Clara! Kok loe telat? Gue pikir loe nggak dateng..." Kata Jane yang mengenakan dress mini putih sambil berdiri  dari kursinya kemudian memeluk Menyambut kedatangan Clara.

"Sorry banget gue telat. acaranya belum bubar kan?" tanya Clara.

"It's okay. Belum kok, Ayo duduk. Loe mau makan apa?"

"Uhm...nggak usah deh. Gue nggak bisa lama-lama. Gue kesini cuma mau ketemu dan ngucapin loe doang. Happy birthday Jane..." kata Clara sambil mengulurkan tangan.

"Thankyou." Jane menyambut uluran tangan Clara.

"Sorry gue nggak sempet beliin loe kado. Jadi gue cuma bisa kasih loe ini..." Clara merogoh kedalam tasnya berusaha mengambil sesuatu. Ia memberikan Jane sebuah kotak tosca. Ya, itu adalah kotak yang berisi cincin pertunangan yang diberikan oleh Ray.

"Cla...ini kan..." guman Jane terbata.

"Clara!" Seru Ray...

Tokyo Travelgram [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang