TIGA PULUH TIGA

1.7K 162 0
                                        

Nathan terhenti sejenak tepat di depan pintu sebuah cafe bergaya klasik Prancis, ia menghela napas dengan berat dan mengumpulkan keberaniannya sebelum ia menggerakkan tangan kanannya untuk mendorong handle pintu kayu bewarna coklat tua itu hingga membunyikan lonceng kecil yang tergantung pada pintu itu.

Wangi kopi dan pastry yang baru saja dikeluarkan dari oven langsung menyambut kehadiran Nathan saat ia melangkah masuk ke dalam cafe yang sedang cukup ramai siang itu. Cafe itu cukup luas, meja kayu kotak dan kursi kayu dengan sandaran melengkung menambah kesan klasik pada interior cafe itu. Nathan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, dan langsung menemukan orang yang dicarinya. Ini bukan pertama kalinya Nathan datang ke cafe itu, sehingga ia sudah hafal susunan tempat duduk pada cafe itu. Ia berjalan menuju sebuah meja disudut ruangan tepat disamping jendela. Ia berjalan melewati meja bar dan etalase kaca yang memajang berbagai jenis kue dan roti.

Pria itu, Susanto Tedjawinata- Ayah Vina yang merupakan pemilik cafe itu sedang duduk santai dengan menyilangkan kakinya sambil sibuk membaca koran ditangannya. Dengan gayanya yang khas, kaos polo putih dan celana bahan selutut bewarna khaki, pria itu mudah ditemukan diantara pengunjung lainnya. Nathan berjalan mendekat kearah meja. Ayah Vina melirik Nathan, menyadari kehadiran Nathan, ia segera melipat koran yang dibacanya dan meletakan koran itu diatas meja.

"Oh...halo, Nathan. Silahkan duduk." Sapa pria yang sudah menginjak umur 60 tahun itu, namun masih nampak bugar walaupun rambutnya sudah menipis dan memutih serta kerutan menghiasi wajahnya. Nathan menuruti perintahnya, ia menarik kursi dan duduk tepat dihadapan ayah Vina.

"Oom sudah pesankan ice americano. Apa kamu ingin pesan yang lain?" lanjutnya, dan tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan segelas es kopi dan menyodorkan gelas itu pada Nathan.

"Tidak, terima kasih." jawab Nathan singkat. Ia berusaha bersikap sesantai dan senatural yang ia bisa. Karena jujur saja, Nathan masih merasa canggung bila berurusan dengan orang tua Vina. Apalagi sejak kejadian makan malam terakhir kali, Nathan masih merasa sakit hati.

"Kamu tidak perlu tegang begitu, Oom hanya ingin mengobrol santai saja sama kamu....seperti yang sudah Oom katakan lewat telepon kemarin, Oom ingin bertemu kamu untuk minta maaf." ucap Susanto santai, ia mengerti jika Nathan masih menyimpan kekesalan padanya dari tatapan mata Nathan terhadapnya.

"Maaf untuk apa?" tanya Nathan datar, entah mengapa bagi Nathan permintaan maaf ayah Vina itu terasa hambar.

"Karena Oom sudah bersikap kasar dan mengatakan hal yang mungkin menyakitkan atau menyinggung hati kamu. Oom minta maaf." jawab Ayah Vina.

"Oh..." Nathan bingung harus bereaksi seperti apa. ia hanya memainkan gelas kopinya tanpa meminumnya walau ia merasa tenggorokannya kering.

"Ya...walaupun Vina harus membujuk Oom setiap hari untuk meminta maaf sama kamu." lanjut Pria itu membuat Nathan mengalihkan pandangannya dan menataptajam pria itu.

"Jadi Oom minta maaf karena Vina yang menyuruh?" tanya Nathan seolah tidak percaya apa yang didengarnya. Pria ini tidak akan pernah berubah. Dia tidak akan pernah menjatuhkan harga dirinya, batin Nathan.

"Bisa dibilang begitu. Dengar penjelasan Oom dulu, Nathan. Apa yang Oom katakan malam itu tidak bermaksud menyindir atau melukai hati kamu. Oom hanya ingin Vina tahu keadaan yang sesungguhnya. Hidup itu tidak semudah yang ia bayangkan selama ini. Kamu tahu kan selama ini Vina selalu hidup berkecukupan. Apapun yang dia inginkan selalu ia dapatkan. Sebagai orang tua, Oom selalu memberikan yang terbaik bagi dia. Oom hanya ingin dia berpikir rasional. Oom bukan ingin merendahkan pekerjaan kamu. Oom hanya ingin memastikan kalau Vina akan hidup berkecukupan nanti kalau kalian menikah." jelasnya panjang lebar, sebagai seorang Ayah ia merasa memiliki tugas untuk membahagiakan putrinya. Dan menurutnya hal yang dilakukannya ini adalah bagian dari tugasnya sebagai seorang ayah.

"Ya, saya mengerti yang Oom maksud. Setelah bersama selama tiga tahun, membuat saya tahu betul sifat dan gaya hidup Vina. Tapi jujur saja, saya merasa tersinggung karena Oom membawa keluarga saya. Seakan-akan keluarga saya sangatlah hina dimata Oom ." Ucap Nathan. Ia sangat berusaha memaklumi apa yang dilakukan dan dikatakan Ayah Vina walau itu terasa sulit baginya

"Untuk itu Oom tulus untuk meminta maaf. Tapi Oom serius mengenai pernikahan kalian. Sekali lagi Oom tanya, kapan kamu sanggup untuk menikahi Vina. Oom tidak ingin kalian lama-lama pacaran tanpa arah yang jelas. Kalian hanya membuang-buang waktu." Tanya Ayah Vina sambil menatap mata Nathan serius. Seperti berusahan membaca dan menebak apa yang akan dikatakan Nathan.

"Apakah saya harus segera menikahi Vina? Saya rasa pernikahan bukanlah sesuatu yang harus dilakukan tergesa-gesa. Saya dan Vina mempunyai karir yang masih kami utamakan. Bukankan lebih baik bila pernikahan itu berlangsung saat kami berdua sama-sama siap. Maksud saya, siap dalam berbagai aspek."

"Sebelum hubungan kalian terlalu jauh dan menjadi rumit. Ingat, umur kamu sudah hampir tiga puluh. Harusnya sudah mapan dan memikirkan masa depan kamu dan berkeluarga."

"Kalau saya boleh bertanya, kenapa Oom ingin sekali Vina segera menikah? Bahkan Oom dengar sendiri kalau Vina belum siap untuk menikah." Nathan mulai merasa risih karena pertanyaan mengenai pernikahan yang terasa mendesak baginya. Nathan bukanlah tipe orang yang mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Baginya setiap keputusan haruslah dipikirkan dan direncanakan secara matang. Apalagi masalah pernikahan yang sangat privat baginya. Ini adalah pertanyaan yang sulit, sangat sulit.

"Vina sudah diusia untuk menikah. Oom memang tidak menuntut kamu dan Vina harus segera menikah besok. Tapi Oom butuh kepastian, satu atau dua tahun lagi. Kakak-kakak Vina yang lain menikah diusia Vina sekarang, Oom tidak ingin ada orang lain yang bergunjing mengenai status Vina. Mungkin bagi kamu ini masalah kecil, tapi tidak bagi keluarga besar Tedjawinata. Keluarga Tedjawinata sangat menjaga nama baik dan citra kami dimata orang lain. Vina, sebagai salah satu anggota keluarga Tedjawinata juga harus mematuhi aturan dan nilai-nilai yang kami anut. Kalau kamu nanti menikah dengan Vina, kamu juga harus bisa menempatkan diri dikeluarga kami."

"Dengar, setiap manusia tidak akan pernah merasa siap. Ia akan selalu merasa belum siap. Tapi dia akan belajar seiring berjalannya waktu."

"Kepastian?"

"Kalau kamu merasa tidak yakin akan membahagiakan dia, dan tidak bisa memenuhi semua kebutuhan dia. lebih baik kamu akhiri saja. Jangan egois, jangan memberikan harapan palsu untuk dia. Pikirkan masa depan Vina."

"Saya rasa bukan saya yang egois. Karena saya tidak pernah mementingkan diri saya sendiri. Saya memikirkan masa depan adik, dan ibu saya. Sebagai tulang punggung keluarga banyak pertimbangan yang harus saya pikirkan, termasuk Vina. Saya berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya. Tapi nampaknya usaha saya tidak ada artinya dimata Oom"

"Nathan, apakah kamu memang mencintai Vina?"

"..." Nathan terdiam, cinta...sebuah kata yang memiliki makna yang sangat dalam. Nathan mungkin tidak tahu harus menjelaskan perasaannya dalam kata-kata.

"Sulit bagi saya untuk mendeskripsikan perasaan saya terhadap Vina, entah itu disebut cinta atau bukan. Tapi yang pasti saya merasa nyaman berhubungan dengan Vina, kami saling mengerti dan melengkapi satu sama lain. Tapi saya belum bisa membayangkan hubungan kami dalam ikatan pernikahan. Karena jujur saat ini pernikahan bukanlah prioritas dalam hidup saya. Saya merasa masih banyak mimpi-mimpi saya yang belum terwujud."

"Buktikan kalau kamu memang serius menjalin hubungan dengan Vina. Tolong pikirkan hal ini. Oom serius. Demi masa depan kalian."

"Kalau Oom berharap mendengar jawaban dari saya sekarang, nampaknya Oom tidak akan mendapatkannya. Saya tidak bisa memberikan sebuah kepastian tanpa berpikir panjang. Pernikahan bukan perkara mudah bagi saya."

"Saya mengerti maksud pembicaraan ini, dan terima kasih atas permintaan maafnya. Kalau tidak ada masalah lain yang ingin dibahas, saya pamit dulu." lanjut Nathan sambil berdiri dari kursinya, dan bersiap untuk pergi.

"Oom harap kamu bisa segera memberi jawaban. Karena Oom yakin di dalam hati kamu, kamu sudah punya jawabannya..."

"Saya akan pikirkan, dan akan segera memberi jawaban..." kata Nathan, kemudian dia berjalan pergi.

Tokyo Travelgram [completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang