CLARA

1.9K 121 0
                                        

Clara berjalan menuju ruang tunggu bandara Soekarno Hatta terminal 3. Ia duduk disebuah bangku kosong yang menghadap kaca, dari situ ia bisa memandang kearah landasan pacu, memandang jauh keluar. Memandangi pesawat yang akan ia tumpangi, pesawat yang akan membawanya pergi jauh, meninggalkan semua cerita yang tak ingin Clara ingat. Clara berdoa dalam hatinya agar perjalanan kali ini dapat membawanya melupakan segala masalah yang telah menimpanya dan menyembuhkan segala luka hatinya. Ia ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Clara terlalu lelah dengan segala masalah yang menimpanya, masalah batalnya pernikahannya dengan Ray, persahabatannya yang hancur dengan Jane, bahkan hubungan dirinya dengan Nathan dan juga Vina. Semua terlalu rumit dan bertubu-tubi hingga membuatnya sesak. Ia terlalu lelah untuk menghadapi situasi yang menyulitkanya, seakan semua yang dilakukannya adalah kesalahan. Ia merasa dunia ini terlalu kejam padanya, ia hanya ingin menarik diri dan bernapas sejenak. Setidaknya biarkan ia menemukan dirinya yang dulu, agar ia bisa kembali merasakan apa yang disebut kebahagiaan dan bisa kembali tersenyum ceria.

Bunyi ponsel Clara membuyarkan lamunannya. Nathan, nama itu terpampang pada layar ponselnya. Ia menghela napas dan memandangi layar ponselnya cukup lama sebelum ia mereject panggilan itu. Tak ingin Nathan terus meneleponnya, ia segera mengaktifkan airplane mode pada ponselnya.

Lagi, gadis itu memandang keluar dengan tatapan jauh dan pikiran melayang. Mengingat kejadian dua minggu lalu. Tepatnya saat ia bertemu dengan Vina.

Flashback...

Clara membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam sebuah restoran yang sedang ramai siang itu. Tidak sulit untuk menemukan orang yang ia cari, Vina Clarissa. Vina terlalu menonjol diantara pengunjung lainnya di restoran itu, terlalu cantik dengan pakaian blazer dan celana panjang motif houndstooth senada.

Clara awalnya terkejut mendapat pesan dari nomor yang tak dikenalnya, yang ternyata adalah dari seorang Vina Clarissa, pacar Nathan. Karena tidak memiliki pemikiran buruk apapun, Clara mengiyakan ajakan untuk bertemu dengan Vina.

Vina sedang asik menyantap makan siangnya saat Clara datang ke mejanya,

"Hai, silahkan duduk." Ucap Vina saat menyadari kedatangan Clara. Clara menurtinya, ia duduk dikursi kosong dihadapan Vina.

"Hm...ini pertama kalinya kita bertemu. Tapi aku rasa kita tidak perlu berkenalan lagi? Kita sudah saling mengenal bukan?" tanya Vina berusaha mencairkan rasa canggung mereka.

"Ya, aku rasa juga begitu." Jawab Clara dengan perasaan canggung. Ada rasa minder dalam diri Clara saat ia bertemu dengan Vina untuk pertama kalinya. Vina memiliki aura yang elegan, parasnya cantik disempurnakan dengan bentuk tubuh ideal. Nathan benar-benar beruntung mendapatkan wanita secantik vina, batinnya.

"Oh ya, Kamu tidak ingin memesan makanan? Apa kamu tidak lapar? Akan aku mintakan buku menu."

"Tidak, aku sudah makan sebelum kesini. Terima masih."  tolak Clara halus.

"Ah, Baiklah kalau begitu."

"Ngomong-ngomong, Apa yang ingin kamu bicarakan?"

Vina berhenti menyantap makan siangnya dan meletakkan alat makannya pada piringnya, "Jujur saja, aku tak suka basa basi. Aku akan langsung membahas apa yang ingin aku bicarakan padamu."

Clara hanya terdiam menatap Vina, suasana diantara mereka menjadi serius.

"Sejak kapan kamu mengenal Nathan?" Tanya Vina.

"Sejak kami bertemu pertama kali di Tokyo." Jawab Clara jujur.

"Apa saja yang kalian lakukan di Tokyo?" tanya Vina lagi, dengan nada mengintograsi.

"Kenapa kamu tidak menanyakan langsung pada Nathan?" Clara mulai dapat membaca maksud dan tujuan pertemuannya dengan Vina. Dan ia merasa risih dengan pertanyaan yang diajukan oleh Vina.

"Aku hanya ingin mendengar cerita dari sisi kamu. Kamu hanya perlu menjawab pertanyaanku." Kata Vina kesal.

"Apa Nathan tidak pernah cerita padamu?" Clara balik bertanya.

"Jauhi Nathan." Balas Vina.

"Kami tidak ada hubungan apa-apa. Kami berteman. Kenapa aku harus menjauhinya? Apa kamu tidak punya teman pria?" ucap Clara yang masih berusaha mengontrol emosinya.

"Ckckck...Pantas saja kamu diselingkuhi calon suami kamu. Rupanya kamu suka mendekati pacar orang lain?" sindir Vina sinis.

"Cukup! Tolong jaga ucapan kamu. Kalau kamu tidak tahu apa-apa lebih baik kamu tutup mulut."

"Well, aku tidak ingin ribut sama kamu. Aku akan minta dengan baik-baik, Jangan dekati Nathan. Aku dan Nathan akan segera menikah. Aku tak ingin ada omongan orang lain tentang hubungan kalian. Apa susahnya berhenti berhubungan dengan Nathan? Kecuali kalau kamu memang ada niat untuk merebut Nathan."

"Baik kalo itu mau kamu." Jawab Clara tegas. Ia sudah tidak ingin mendengar apapun dari Vina. Ia merasa hatinya hancur dan sakit mendengar ucapan Vina.

"Ini cara terbaik untuk kita semua. Aku dan Nathan itu influencer, kami harus menjaga nama baik kami. Kamu juga harusnya sadar diri."

"Ya, aku mengerti. Kamu tidak perlu menjelaskan panjang lebar."

"Baguslah kalau kamu mengerti. Pastikan kamu memenuhi perkataanmu. Aku tak ingin ada lagi cerita kamu bertemu dengan Nathan lagi."

"Aku rasa aku sudah mendengar semua yang harus aku dengarkan. Aku pamit dulu. Selamat tinggal."

***

Suara pengumuman memenuhi ruang tunggu, sudah saatnya Clara untuk masuk kedalam pesawat. Clara masih duduk dikursinya, menunggu penumpang lainnya untuk masuk terlebih dahulu. Ia menatap keluar kaca, dengan pandangan nanar. Ada kisah yang tak ingin ia tinggalkan, ada cerita yang tak ingin ia lupakan. Namun ia tak bisa memaksakan kehendaknya, keadaan yang tak mengijinkannya.

"Selamat tinggal, Nathan..." gumam Clara.

Tokyo Travelgram [completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang