TIGA PULUH

1.6K 154 1
                                        

Dear Nathan,

Hai, aku nggak yakin apakah kamu akan membaca pesan ini atau tidak. Tapi aku berharap kamu membacanya. Mungkin pesan ini tidak penting bagimu...

Well, aku hanya ingin bilang terima kasih, atas apa yang kamu katakan padaku di Haneda waktu itu. Aku berusaha mendengarkan dan melaksanakannya dengan baik...setidaknya aku sudah berusaha semampuku. Rasanya sulit, sangat sulit dan berat bagiku. Aku berusaha menghadapi semuanya, dan aku tidak kabur. Aku tidak tahu apakah aku sudah melakukannya dengan baik? Apakah yang kulakukan ini benar? Mungkin ini masa-masa terberat dalam hidupku, tapi aku percaya adanya keajaiban dan menunggu kebahagiaan datang untukku. Berkat kata-kata darimu aku sedikit mendapat kekuatan dalam keputus asaanku. Terima kasih.

Semoga kamu masih ingat aku, walau aku tak berharap kamu masih mengingatnya.

Clara.

Tanpa berpikir panjang Clara memencet tombol kirim pada layar ponselnya. Ia tidak ingin terlalu banyak berpikir, ia hanya ingin mengungkapkan apa yang dirasakan dan yang dapat ia tuangkan dalam kalimat saat ini. Ia menghela napas, kemudian memijat pelan kepalanya yang terasa pusing. Dua rapat yang sudah dilakukannya hari ini terasa sangat memuakkan baginya, dan ia masih memiliki satu rapat lagi sebelum ia bisa pulang kerumah.

Selama beberapa minggu ini ia sengaja menyibukan diri dengan urusan pekerjaan kantor, hal itu dilakukannya untuk mengalihkan pikirannya sehingga ia tidak memiliki waktu untuk mengingat dan memikirkan masalah Ray ataupun Jane. Terasa berat bagi Clara, namun hal ini sedikit banyak berhasil baginya. Namun terasa sangat berat dan melelahkan. Baik fisik maupun mentalnya. Rasanya terlalu melelahkan.

Hal ini membuat Olive sedikit cemas dengan keadaan Clara, ia memang sudah tidak terlihat menyedihkan seperti orang yang habis dicampakan. Namun kini Clara nampak seperti orang yang terobsesi dengan pekerjaannya. Bahkan Clara sering menolak ajakan Olive untuk pergi pada hari weekend, hal yang tidak biasanya dilakukan Clara. Olive hanya bisa menghargai dan mendukung keputusan sahabatnya itu. Ia tahu Clara butuh waktu untuk menyembuhkan luka hatinya.

Tok...tok....
Terdengar suara ketukan pintu, dan kemudian seorang pria muda dengan kemeja biru muda muncul dari balik pintu.

"Permisi Bu Clara, sebentar lagi jam tujuh. meeting akan segera dimulai." Ucapnya dengan aksen jawa yang kental.

Clara melirik jam tangan rose gold yang dikenakannya, sudah jam 18.40.
"Oh iya, saya segera ke ruang meeting. Terima kasih Adit sudah mengingatkan." ucap Clara dengan nada lemah.

"Ibu terlihat pucat, apa anda baik-baik saja?" tanya Adit yang mencemaskan atasannya itu. Walau Adit baru beberapa bulan bekerja bersama Clara, namun ia jelas bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan atasannya itu. Clara menjadi lebih ambisius dalam bekerja, hingga kadang melupakan orang disekitarnya dan dirinya sendiri.

"Meeting hari ini bikin saya sakit kepala." Gumam Clara masih memijat kepalanya yang berdenyut.

"Ibu mau saya batalkan meetingnya?"

"Nggak usah, meetingnya sebentar lagi mulai."

"Atau ibu mau saya belikan obat?"

"Nggak usah Adit, terima kasih. Saya akan segera ke ruang meeting dan menyelesaikan meetingnya secepat mungkin."

"Baik kalau begitu."

"Thankyou Dit."

"Sama-sama Bu Clara, saya permisi dulu" Jawab Adit sambil pamit untuk keluar dari ruangan Clara.

"Adit, Sudah berapa kali saya bilang jangan panggil saya ibu. Saya terdengar tua, padahal umur kita sama." protes Clara, ia tidak suka bila ada rekan kerja yang seumuran dengannya memanggilnya dengan 'Ibu'. Terdengar canggung dan terlalu formal baginya.

"Anu...maaf Bu...saya tidak terbiasa..." jawab Adit sambil menggaruk rambutnya.

Clara meliriknya dengan tatapan kesal.

"Iya, saya usahakan tidak panggil Ibu lagi..." Adit tersenyum kecil dan meninggalkan ruangan Clara.

Beberapa menit sebelum rapat dimulai, Clara berdiri dari kursinya, ia membereskan lembaran kertas dan memasukkannya pada sebuah map kemudian Clara keluar dari ruangannya, berjalan menuju ruang rapat yang letaknya masih dilantai yang sama dengan ruangan miliknya,

"Hai..." sapa seseorang dengan nada canggung. Clara menghentikan langkahnya, ia merasa mengenal suara itu. Sejenak ia terdiam sebelum ia membalikan tubuhnya. Ternyata benar, Jane.

"Ngapain loe disini?" Tanya Clara ketus. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Jane di kantornya. Ia merasa takjub akan keberanian Jane yang berani bertemu dengannya secara langsung dikantornya.

"Apa kabar?" tanya Jane berbasa basi. Ia tahu dari tatapan Clara kalau Clara sama sekali tidak menyukai kehadirannya.

"Memang loe berharap gue gimana? Nggak usah basa basi. Gue nggak ada waktu buat meladeni loe."

"Gue kesini cuma pengen balikin barang-barang loe yang pernah gue pinjem." Kata Jane seraya menyerahkan sebuah kotak bewarna coklat.

"Loe masih ada muka buat ketemu gue? Nggak usah ambil aja. Anggap aja gue beramal." kata Clara sambil menahan emosi. Melihat Jane yang muncul dihadapannya disaat yang tidak tepat dengan wajah tanpa dosa dan rasa bersalah membuat Clara ingin menjambak atau mencakar wajah Jane saat itu juga.

"Gue nggak bisa nerima barang dari loe, dan gue nggak mau berhutang sama loe. Gue bener-bener cuma pingin balikin doang kok." Katanya dengan tangan yang masih terulur.

Clara menatap kotak itu dengan ragu, kemudian menerima kotak itu dari tangan Jane.

"Udah, sekarang loe bisa pergi." kata Clara yang tidak ingin terlibat dengan Jane terlalu lama.

"Ok, kalau gitu gue pulang dulu. Bye, Clara."

"Jangan pernah muncul di hadapan gue lagi."

Setelah melihat Jane pergi, Clara membuka kotak yang ada ditangannya itu dan melihat isinya. Kotak itu berisi beberapa lembar foto kebersamaan Clara dan Jane, ada beberapa foto saat mereka masih mengenakan seragam sekolah, bahkan Clara lupa kapan foto-foto itu diambil. Selain foto, ada juga CD lagu, komik, novel, dan beberapa aksesoris yang pernah mereka beli bersama.

Melihat barang-barang itu membuat ingatan Clara  kembali ke masa dimana pertemanan mereka terasa indah dan menyenangkan. Clara, Jane dan Olive pernah menjadi sahabat terbaik, selama bertahun-tahun. Melewati masa-masa sekolah yang seru dan penuh warna. Menghabiskan waktu bersama, pergi menonton film, menginap bersama, semua kenangan itu terasa terlalu manis untuk akhir yang begitu pahit.

Berbagai  rasa bergejolak dalam batin Clara, dadanya sesak dan terasa sakit, matanya memanas dan mulai berair. Clara sebisa mungkin menahan air matanya. Ia tidak ingin menangis, ia tidak ingin menjadi lemah. Tidak, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri ia tidak boleh menangis. Semua sudah terjadi dan pertemanan mereka tidak akan kembali seperti semula. Air mata Clara terlalu berharga untuk menangisi sesuatu yang sia-sia.

Clara merasa sesuatu mengalir dari hidungnya, ia menyeka hidungnya dengan tangannya. Darah. Clara mendongakkan kepalanya berharap mimisan yang dialaminya segera berhenti. Clara merasa tubuhnya melemah, kondisinya diperparah dengan sakit kepala yang dialaminya. Kepalanya terasa berputar dan pandangannya mulai kabur. Ia menjatuhkan barang yang dipegangnya dan berusaha menopang tubuhnya dengan berpegangan pada dinding, hingga akhirnya tubuhnya tak mampu lagi bertahan dan Clara pun tumbang, tubuhnya tergeletak di lantai.

Tokyo Travelgram [completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang