Nathan memandangi layar ponselnya, dan seketika itu ia merasa dirinya bagaikan seorang cenayang yang dapat menebak apa yang akan dikatakan oleh Vina. Nathan menghela napas sebelum menerima panggilan telepon itu. Belum sempat Nathan mengucapkan 'halo', telinganya sudah mendengar rentetan kalimat dengan nada penuh tekanan hingga ia harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Kamu sebegitu sibuknya kah, sampai lupa untuk ngabarin aku?" Kalimat itu langsung terdengar nyaring ditelinga Nathan saat dirinya menerima panggilan telepon dari Vina.
Nathan membalikan badannya, menyenderkan tubuhnya pada railing jembatan sambil menatap langit malam ia tersenyum kecut. Ia memasukkan tangan kirinya pada saku jaketnya, hembusan angin malam membuatnya kedinginan. Memang suatu hal yang wajar bila Vina meneleponnya, Nathan harusnya tahu itu. Sebagai sepasang kekasih, Nathan dan Vina sangat mementingkan komunikasi dalam hubungan mereka. Dari awal mereka menjalin hubungan, mereka tahu dan menyadari konsekuensi kesibukan dari pekerjaan mereka masing-masing. Vina yang sibuk dengan undangan serta kerja sama dengan berbagai brand terkenal, dan Nathan yang sibuk travelling ke berbagai penjuru dunia. Untuk menjaga hubungan mereka, Nathan dan Vina biasanya menyempatkan diri untuk saling menelepon atau hanya berbalas pesan setiap hari.
Nathan harusnya senang bisa berkomunikasi dengan Vina, mendengarkan suara gadis itu. Gadis yang telah mengisi hati, pikiran dan hari-harinya selama dua tahun ini. Gadis yang selalu ada dan mendukungnya dalam suka dan duka. Namun tidak sekarang, ia merasa waktunya tak tepat. Perasaannya terlalu bercampur aduk hingga ia sendiri merasa bingung, ia merasa seperti bukan menjadi dirinya yang biasa. Seperti seorang yang kehilangan jati diri. Nathan merasa butuh waktu untuk sendiri. Benar-benar sendirian, untuk menyadarkan dan mengembalikan Nathan yang biasanya.
"Maaf..." gumam Nathan, mungkin hanya itu kata yang dapat terucap dari bibirnya. Dalam hati terdalam Nathan ada rasa bersalah.
"Kamu sengaja tidak menelepon ku? Apa kamu sengaja supaya aku menelepon duluan? Apa susahnya sih memberi kabar? kamu cuma butuh chat aku, say hi or something aja juga cukup. Yang penting aku tahu kamu masih hidup." Tanya gadis itu bertubi-tubi masih dengan emosi, Nathan bisa membayangkan wajah kesal gadis itu dari nada bicaranya.
"Maaf , Aku tidak bermaksud begitu." Jawab Nathan singkat, ia bingung harus menjawab dan menjelaskan dari mana.
"Apa saja yang kau lakukan di tokyo? Bukankah kau disana untuk berlibur? Sepertinya liburanmu kali ini sibuk sekali, lebih sibuk dari perjalanan bisnismu yang lain."
"Aku memang berlibur. Kamu tahu aku pergi keliling Shinjuku, Shibuya, Omotesando, Daikanyama..."
"Kamu berlibur tapi tidak punya waktu untuk menghubungiku."
"Maaf, sayang...aku bukan tidak ingin mengabarimu. Belakangan ini aku terlalu lelah. Lagi pula besok aku pulang ke Jakarta."
"Kamu tau kan, kita sama sama orang sibuk. Kita sudah berkomitmen untuk menjaga komunikasi kita. Apa kamu lupa?"
"Aku ingat. Aku benar-benar minta maaf karena tidak menghubungimu beberapa hari ini."
"Apa kamu tidak peduli denganku?"
"Aku peduli, buktinya aku tidak lupa membelikan tas yang kamu mau" jawab Nathan, ia berharap bisa meredam kemarahan Vina.
"Kamu mau mengalihkan pembicaraan? aku belum puas memarahimu. Kamu tahu sudah berapa lama kamu tidak menghubungiku?"
"..." Nathan Terdiam.
"Nathan, kau dengar aku?"
"Ya..."
"Jawab aku, sudah berapa lama kamu tidak mengabariku? Bukan cuma itu, kau juga tidak mengupdate social media mu. Kau benar-benar ingin membuatku khawatir? Kau belum pernah seperti ini sebelumnya!"
Untuk menjawab pertanyaan Vina, Nathan memutar otaknya, mengingat kembali perjalanannya selama liburan di Tokyo. Mulai dari saat dirinya menginjakan kaki di Tokyo, pergi berkeliling Omotesando, membelikan barang pesanan Vina, pergi ke Shibuya untuk menikmati GyuKatsu Motomura....
ya...Nathan akhirnya menemukan jawabannya. Semua terhenti saat Nathan berada di Shibuya. Tepatnya saat Nathan bertemu dengan Clara siang itu. Dan Nathan baru menyadari bahwa intensi liburannya kali ini untuk membuat virtual tour pada instagramnya terhenti sejak saat itu. Ia sama sekali tidak pernah mengupdate konten bahkan ia tidak mengecek akun instagram miliknya. Nathan baru menyadarinya sekatang.
"Sudah tiga hari kau tidak menghubungiku." Sambar Vina sebelum Nathan menjawab.
"Iya aku tahu. Aku sudah meminta maaf padamu berkali-kali. Apa kau tidak mau memaafkanku?" kata Nathan sambil memejamkan matanya, tangan kirinya memijat pelan kepalanya yang mulai terasa sakit.
"Kau benar-benar membuatku kesal."
"Sekarang kamu sudah menghubungiku, aku sudah meminta maaf padamu, kamu juga sudah tau apa yang kulakukan selama beberapa hari ini. Jadi, bisakah kamu berhenti memarahiku? Aku tidak ingin melihat wajahmu cemberut saat kita bertemu besok."
"Besok? memangnya siapa yang mau bertemu denganmu besok?"
"Kau tidak ingin bertemu denganku? Apa kau tidak merindukanku?" tanya Nathan.
"Aku akan menemuimu, tapi bukan artinya aku rindu padamu. Aku hanya ingin mengambil titipanku."
Nathan tertawa mendengar ucapan Vina.
"Kenapa kamu tertawa? memangnya ada yang lucu?" tanya Vina jengkel.
"Hahaha...Sudahlah, intinya aku merindukanmu, jadi jangan marah-marah lagi. Disini sudah malam dan aku akan segera kembali ke hotel untuk packing. Apa kau sudah makan malam?"
"Aku sedang dalam perjalanan untuk acara dinner sekaligus pembukaan brand X." jawab Vina, kali ini dengan nada suara yang terdengar lebih santai dan normal. Nathan lega mendengar nada bicara Vina yang sudah mulai tenang dan tidak meluap seperti tadi.
"Oh acara itu, sepertinya kamu pernah membicarakan acara itu sebelumnya."
"Ya, aku selalu menceritakan setiap jadwal acaraku padamu bahkan setiap detailnya. Aku tidak pernah pergi dan menghilang tanpa kabar apalagi sampai tiga hari."
"Sejak kapan pacarku pandai menyindir?"
"Kamu merasa tersindir? baguslah kalau begitu."
"Sekarang aku akan kembali ke hotel, nanti ku hubungi lagi kalau aku sudah sampai di hotel."
"Awas saja kalau kamu tidak menepati perkataanmu."
"Yes madam....Bye..." kata Nathan mengakhiri sambungan telepon.
Nathan memasukkan ponselnya pada saku celananya, ia menghela napas panjang, telinganya terasa panas dan perih mendengar ocehan Vina. Namun setelah mendengar ocehan Vina, Nathan merasa jiwanya mulai kembali. Ya, Nathan berharap dirinya bisa kembali menjadi Nathan yang dulu, Nathan yang selalu bangga menjadi solo traveler, Nathan yang tidak pernah mempedulikan orang asing, apalagi mengkhawatirkan orang yang sudah mengganggu liburannya.
Liburan telah berakhir, saatnya kembali ke dunia nyata...
Selamat tinggal Tokyo...
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo Travelgram [completed]
RomanceNathanael Pratama Romano sangat menyukai travelling seorang diri. Menelusuri tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi di muka bumi ini. Mengamati kehidupan manusia yang berbeda disetiap tempat dalam sudut pandang yang berbeda, dan mengabadi...
![Tokyo Travelgram [completed]](https://img.wattpad.com/cover/141907371-64-k584216.jpg)