TUJUH BELAS

1.6K 165 1
                                        

Clara menatap dirinya pada cermin besar yang berada disalah satu sisi toilet. Merapihkan sweater putih beserta cardigan abu panjang yang dikenakannya, baju yang ia kenakan pada hari ia kabur ke Tokyo. Setelah dirinya terlihat rapih ia menatap lurus dirinya dicermin kemudian ia berusaha tersenyum. Sejak semalam ia tidak bisa tidur, terlalu banyak hal yang merasuki pikirannya, dirinya terus teringat bahwa hari ini adalah hari terakhirnya di Tokyo. Dan ia mulai berpikir jauh. Berpikir akan hal-hal yang akan terjadi saat dirinya sampai di Jakarta. Memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi membuat dirinya fruatasi.

Clara berjalan ke kamar tempatnya menginap, mengambil ponselnya yang masih berada diatas tempat tidur, sudah jam setengah delapan pagi. Ia berpikir sejenak, mengakumulasi waktu yang ia butuhkan untuk sampai di Shinjuku pagi ini, ia memperkirakan akan sampai di hotel tempat Nathan menginap tidak lebih dari jam delapan.

Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal pada tempat tidurnya, ia berjalan menuju loker tempat ia menyimpan tasnya, kemudian mengambil tas ransel dan sebuah paperbag berisi pakaian yang dipakainya selama berada di Tokyo, hanya itu bawaan yang harus dibawanya pulang. Mengingat semua barangnya ada dikoper dan ia sudah menyuruh Maya untuk membawanya pulang.

Clara berjalan kearah lift, menunggu sebentar lift itu sebelum pintunya terbuka. Ia memandang ponselnya, berharap dirinya sampai dihotel Nathan tepat waktu seperti yang telah mereka sepakati semalam. Clara tahu pasti Nathan tidak suka menunggu.

Clara berjalan menuju meja resepsionis untuk keperluan check-out. Setelah ia selesai mengurus keperluannya ia berjalan menuju pintu keluar. Sebelum Clara berjalan keluar dari hotelnya ia melihat orang yang dikenalnya sedang duduk disalah satu sofa di lounge hotel kapsulnya. Lounge hotel itu kecil dan pria itu duduk seorang diri.

"Kamu...kenapa kamu disini?" Tanya Clara sambil berjalan menghampiri Pria itu.

"Bukankah kita ada janji jam delapan?" Jawab Nathan sambil berdiri dari duduknya.

"Iya. Tapi aku baru saja akan pergi ke hotelmu."

"Tidak perlu. Aku memutuskan untuk menunggumu. Akan lebih dekat jika kita berangkat dari sini. By the way, kamu nggak bawa koper?"

"Ini. Aku kabur dan hanya ini barang bawaanku." Jawab Clara sambil menunjukan paperbag ditangannya pada Nathan.

Nathan mengerutkan dahinya sambil mengangguk.

"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Clara penuh rasa penasaran.

"Menikmati musim semi yang sesungguhnya." Jawab Nathan.

***

Nathan membawa Clara menuju stasiun kereta bawah tanah dan hanya butuh satu stasiun dari stasiun shibuya menuju harajuku. Clara tidak memiliki ide sama sekali akan dibawa kemana ia hari ini. Ia hanya mengikuti kemana pria itu pergi.

Hening, itulah yang dirasakan Clara. Tidak seperti hari-hari kemarin, perjalanan kali ini terasa sangat hening. Tak banyak percakapan yang mereka bicarakan.

"Kita akan ke Yoyogi park?" Tanya Clara saat ia membaca papan petunjuk jalan.

"Yup." Jawab Nathan sambil mengangguk pelan.

Sabtu pagi yang ramai didukung dengan cuaca yang cerah. Yoyogi park pada musim semi terlihat indah dengan deretan pohon sakura bewarna pink muda yang menghiasi taman luas itu. Banyak warga lokal yang berpiknik dibawah pohon sakura, duduk diatas tikar dan makan bersama keluarga. Pemandangan yang sangat menyenangkan, waktu yang tepat untuk menikmati keindahan bunga Sakura.

"Kenapa kamu mengajakku kesini?" Tanya Clara pada Nathan. Mereka kini berjalan santai di taman Yoyogi sambil menikmati pemandangan sambil menghirup udara sejuk.

"Tempat ini salah satu spot terbaik untuk menikmati sakura." Jawab Nathan santai dengan tangannya yang sibuk membidik kamera.

"Ya. Disini sakuranya indah." Gumam Clara menyetujui apa yang dikatakan Nathan.

"Kau pergi ke jepang saat musim semi, rasanya ada yang kurang bila kau tidak menikmati sakura." Lanjut Nathan masih sibuk dengan kameranya.

"Awalnya aku memang berencana untuk kesini." Kata Clara.

"Benarkah?" Tanya Nathan sambil menoleh menatap Clara.

"Yup. Untuk foto prewedding." Jawab Clara dengan nada datar, matanya hanya menatap jalan. Nathan cukup terkejut mendengarnya.

"Maaf, seharusnya aku tidak mengajakmu kesini. Aku hanya ingin mengajakmu menikmati sakura sebelum kau pulang." Nathan hanya berniat mengajak gadis itu menikmati bunga sakura sebelum ia pulang ke Jakarta, namun ia tak tahu kalau akan membuat gadis itu menjadi sedih dan teringat akan masalah dengan calon suaminya.

"Tidak apa. dan sekarang aku disini dengan kamu."

"Jadi kau menyesal ikut denganku?"

"Tidak. Bukan begitu."

"Apa perlu kita pindah ketempat lain?"

"Tidak... Aku hanya ...entahlah, semua terasa aneh bagiku..."

Clara berjalan menuju salah satu pohon sakura rindang dengan ranting yang menjuntai. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh bunga sakura yang sedang mekar sempurna, memandanginya dengan penuh kekaguman.

Indah, musim semi dan bunga sakura memang indah, namun Muncul perasaan yang bergejolak dalam diri Clara, seharusnya ia melakukan foto prewedding disini dengan Ray. Ya, seharusnya ia menikmati keindahan musim semi dan bunga sakura bersama Ray. Tapi kenyataannya impian itu hancur, ia harus mengubur semua impian indah itu.

Clara tak dapat mengontrol perasaannya, perasaan yang ia rasakan terlalu dalam, kesedihan menguap sehingga matanya mulai basah. Dadanya mulai sesak. Nampaknya cinta untuk Ray semalam 2 tahun ini harus ia relakan. Perasaan cinta tulus yang tak pantas Ray dapatkan.

Telapak tangan pria itu menyentuh pundak Clara, ia bisa merasakan kesedihan gadis itu. Ya, Nathan dapat merasakan ketulusan dari gadis itu. Rasanya tak tega melihat gadis itu menangis. Ia mengusap pundak Clara perlahan berharap gadis itu merasa lebih baik. Namun tangis Clara malah semakin menjadi. Gadis itu terisak dan air matanya mengalir membasahi pipinya. Nathan tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan gadis itu, ia yakin kata-katanya sekarang tak cukup untuk menghibur atau mengobati luka hatinya yang dalam. Yang bisa Nathan lakukan sekarang hanya membiarkan gadis itu menangis dipelukannnya...

Tokyo Travelgram [completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang