"Clara!" Seru Ray
Clara menolehkan kepalanya, ia melihat kehadiran Ray. Pria itu mengenakan kemeja biru muda dengan celana panjang hitam, pria itu mengeraskan rahangnya, wajahnya terlihat penuh dengan emosi yang meluap. Perasaan Clara berkecamuk dalam hatinya. Ia merasa kesal melihat kehadiran pria itu, namun disisi lain itu senang, karena mungkin ini waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya. Ia sudah terlalu lelah dengan permasalahan cintanya yang sudah hancur lebur.
Kotak tosca itu masih ditangan Clara, ia menyodorkannya pada Jane. Berharap Jane akan menerimanya, namun Jane hanya memandang Clara tanpa mengambil kotak itu.
"Ini, ambilah. Gue berikan cincin itu kepada orang yang lebih berhak mendapatkannya." Gumam Clara yang kemudian meletakkan kotak cincin itu diatas meja karena Jane tak juga menerimanya. Perkataan Clara terdengar menohok bagi Jane, ia tahu betul apa yang dimaksud Clara. Perasaan bersalah mulai menghinggapinya. Ia sama sekali tak menyangka Clara akan melakukan hal itu.
Semua perhatian tamu yang ada diruangan itu kini tertuju pada Clara, Ray dan Jane. Suasana didalam ruangan kaca itu sontak menjadi memanas, orang-orang yang hadir seakan bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan ketiga orang itu, dan mereka seolah siap menyaksikan adegan drama yang tak mereka mengerti.
"Ikut aku. Kita perlu bicara!" Kata Ray sambil menarik paksa pergelangan tangan Clara.
"Lepas!" Seru Clara sambil berusaha melepaskan tangan Ray.
"Aku bisa jelasin semuanya!" Kata Ray.
"Lepas! Kalau kamu mau jelasin, disini aja. Biar semua orang yang ada disini tahu. Mereka semua juga butuh penjelasan." Kata Clara pada Ray. Maya dan Andrew yang juga ada dalam ruangan itu saling memandang dengan pandangan khawatir.
Jika dulu Clara selalu mengalah dan menuruti semua perkataan Ray, mungkin sekarang Clara sudah dibatas kesabarannya, ia sama sekali tak takut menghadapi Ray. Kekecewaan yang dirasakannya telah melunturkan perasaan cintanya yang tulus. Dan kali ini ia tidak ingin mengalah, ia hanya ingin menyelesaikan semuanya. Ia ingin menutup buku dan memulai lembaran baru.
"Cla...gue bisa jelasin" sela Jane dengan raut wajah yang mulai ketakutan.
"Ada apa sih ini?" Tanya Olive dengan wajah penuh penasaran, ia terus menatap Clara, jane dan Ray secara bergantian. Ia yakin betul sesuatu hal yang besar telah terjadi.
"Liv, loe masih inget beberapa bulan lalu adik loe bilang pernah lihat Ray jalan bareng perempuan lain? Seharusnya sejak saat itu gue sadar..." kata Clara, matanya tak lepas dari Jane.
"Cla, ini cuma salah paham." Kata Ray.
"Maksudnya apa Cla?" Tanya Olive yang masih belum mengerti.
"Perempuan yang jalan bareng Ray itu adalah Jane!" Gumam Clara sambil memandang Jane dalam-dalam.
Hatinya terasa sakit saat memandang Jane. Ia merasa persahabatannya selama ini sia-sia. Sahabat yang selama ini ia percaya, ternyata diam-diam menjalin hubungan dengan calon suaminya. Sejak mengetahui hal itu, Clara tak ingin mempercayainya, ia berharap itu semua adalah bohong. Ia sangat menyayangi Jane dan menganggap Jane sebagai keluarga. Namun apa yang Clara dapatkan? Sebuah penghianatan.
"Cla...loe cuma salah paham." Gumam Jane dengan suara bergetar dan mata yang memerah menahan tangisnya.
"Oh ya? Salah paham? Apanya yang salah? Buktinya sudah jelas, Jane. Terlalu jelas! Gue baca sms loe buat Ray waktu di Jepang! Dan gue tahu Ray ganti password hp nya dengan tanggal ulang tahu loe! Mau sampai kapan loe mengelak Jane? Seandainya...andai aja gue nggak pernah tahu, sampai kapan loe mau berhubungan sama Ray dibelakang gue dan terus pura-pura jadi sahabat yang baik didepan gue? " Seru Clara yang mulai kehilangan kendali.
"Cla, cukup!" Seru Ray dengan suara keras.
"Jane, loe gila ya?" Olive berjalan mendekat kepada Jane, kemudian ia mengoyang bahu Jane seolah ingin mendengar kalau yang dikatakan Clara adalah bohong. Namun Jane hanya menundukkan mepalanya, ia menangis dalam diam.
"Jane, bilang kalau semua itu bohong!" Kata Olive yang masih tidak dapat mempercayai semua perkataan Clara.
"Sorry Cla..." gumam Jane yang masih tertunduk dengan tangan mengepal dan bahu bergetar. Rasanya sudah tidak ada gunanya lagi berbohong, Ia tidak ingin mengelak dan membuat masalah ini semakin panjang.
"Gue nggak tahu sejak kapan loe main belakang sama Ray. Gue juga nggak tahu apa yang ada dipikiran loe sampe bisa dan mau jadi selingkuhan Ray. Tapi pasti loe menganggap gue bego banget ya Jane? Kalau aja loe bilang dari awal kalau loe suka sama Ray, mungkin sekarang kita masih teman." Kata Clara sambil tersenyum kecut.
"Cukup! Jane nggak salah! Masalah kamu hanya dengan aku!" Seru Ray sambil menggenggam pergelangan tangan Clara secara paksa, ia ingin menarik gadis itu keluar sekarang juga. Ia tidak tega melihat Jane menangis dan diadili didepan teman-temannya dihari ulang tahunnya.
"Lepas Ray, sakit!" Seru Clara sambil meronta dan berusaha melepas genggaman tangan Ray sekuat tenaganya.
Kekuatan Ray yang lebih besar berhasil membuat Clara terjatuh ke lantai. Maya dan Olive yang berdiri tak jauh dari Clara segera membantunya berdiri. Andrew bangkit dari duduknya dan beberapa teman lelaki Jane menghampiri Ray untuk melerai mereka.
"Sorry bro, jangan pakai kekerasan." Kata Andrew berusaha menenangkan Ray yang nampak masih penuh emosi.
"Cla, kita bisa selesaikan ini baik-baik." Kata Ray.
"Aku juga sedang menyelesaikan apa yang harusnya aku selesaikan. Dan tiba-tiba saja kamu datang dan membuat semuanya nampak seperti drama."
"Oke, Memang benar aku selingkuh dengan Jane. Dia nggak salah! aku yang memintanya melakukan itu. Apa kamu tidak ingin mendengarkan penjelasanku?"
"Kamu sudah mengaku itu sudah cukup bagiku. Hebat sekali kamu bisa membelanya dan bicara seolah kalian tidak melakukan kesalahan. Aku muak dan tidak ingin berhubungan dengan kalian lagi. Dengar Ray, intinya kita sudah berakhir. Cincin itu kuserahkan kepada orang yang lebih berhak. Barang-barang pemberianmu akan kukirim balik. Tenang saja, semua masalah pembatalan pernikahan biar aku yang urus." Katanya pada Ray.
Clara beralih pada Jane, "Dan loe Jane, terima kasih sudah mengajarkan gue kalau sahabat sekalipun bisa menusuk dari belakang kalau sudah dibutakan cinta. dan sorry, gue nggak ada niatan untuk menghancurkan pesta ulang tahun loe." Kata Clara kemudian ia berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.
Olive segera berlari untuk menyusul Clara yang terlihat pergi dengan keadaan yang kacau. Olive dalam situasi yang sulit, Clara dan Jane adalah dua orang sahabat terbaik dalam hidupnya. Mereka sudah berteman sejak sekolah, menghabiskan waktu dan mengumpulkan banyak memori bersama. Namun ia sama sekali tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.
"Liv, tolong dengerin gue dulu..." Jane menggenggam tangan Jane dan mencegahnya menyusul Clara. Ia sudah kehilangan Clara dan ia tidak ingin kehilangan Olive juga. Sedikit rasa kasihan terbersit dalam diri Olive melihat Jane menangis dan menatapnya dengan tatapan berkaca.
"Sorry Jane. Mungkin ini hari terakhir kita berteman." Kata Olive dengan suara dingin, tangannya menghempas genggaman tangan Jane. Dan ia pergi meninggalkan Jane.
"Olive, tunggu...dengerin gue!"teriak Jane masih berusaha menghentikan Olive, namun Olive sama sekali tak berpaling sedikitpun.
"Olive!" Serunya dengan suara parau.
Jane hanya bisa menangis menyesal menatap kepergian dua sahabatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo Travelgram [completed]
RomanceNathanael Pratama Romano sangat menyukai travelling seorang diri. Menelusuri tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi di muka bumi ini. Mengamati kehidupan manusia yang berbeda disetiap tempat dalam sudut pandang yang berbeda, dan mengabadi...
![Tokyo Travelgram [completed]](https://img.wattpad.com/cover/141907371-64-k584216.jpg)