Clara perlahan membuka matanya, sinar lampu ruangan itu terlalu silau dan terasa menusuk sehingga ia berulang kali mengerjapkan matanya. Dibutuhkan usaha lebih bagi Clara yang kini terbaring diatas tempat tidur sebuah kamar rumah sakit untuk membuka matanya yang terasa berat. Clara menatap kosong plafon putih kemudian mengedarkan pandangannya, ia melihat ruangan dengan dinding bewarna putih dan bau steril yang menyengat hidungnya. Clara memperhatikan sekitarnya sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya sebelum ia menyadari dirinya berada di rumah sakit.
Ia perlahan menggerakan badannya yang terasa ngilu, dimulai dengan menggerakan tanggannya perlahan. Tangan kirinya terpasang infus, kemudian ia menoleh kesamping kanannya, dan melihat mamanya duduk disamping tempat tidurnya sambil menggenggam tangan kanannya dan memandang Clara dengan wajah khawatir.
"Kamu sudah sadar, nak?" tanya mamanya dengan nada penuh cemas.
"Aku... kenapa ada dirumah sakit, ma?" tanya Clara dengan suara lemah sambil berusaha mengingat kejadian sebelum ia terbangun di rumah sakit.
"Adit bilang kamu pingsan dikantor kemarin, dan dia langsung bawa kamu ke rumah sakit."
"Oooh...jadi kemarin aku pingsan?" Gumam Clara yang tidak mengingat bahwa dirinya pingsan. Ingatannya seolah terputus dan ia hanya mengingat terkahir dirinya bertemu dengan Jane.
"Iya. kata dokter kamu terlalu capek dan stress. Tekanan darah kamu juga rendah. Dokter masih nunggu hasil tes darah. Jadi untuk sementara kamu harus nginep di rumah sakit beberapa hari." Jelas mamanya
"Lalu meetingnya?" Tanya Clara dengan wajah polosnya.
"Clara! Kamu tuh lagi sakit. Masih aja mikirin kerjaan kamu." kata mamanya dengan nada kesal, ia tak habis pikir dengan anaknya, bisa-bisanya anak itu mementingkan meeting dibanding dengan kesehatannya sendiri.
"Tapi kan kerjaan aku juga penting ma." Gumam Clara.
"Gara-gara kamu terlalu gila kerja, kamu jadi sakit. Pokoknya mama nggak ngijinin kamu ngapa-ngapain sampe kamu keluar dari rumah sakit. handphone kamu juga mama sita. Pokoknya kamu cuma boleh istirahat."
"Ma...aku bukan anak kecil." protes Clara.
"Please, Clara. Turutin perintah mama, ini demi kebaikan kamu. Mama sedih kalo liat kamu sampe sakit gini. Papa dalam perjalanan kesini, bahkan dia sampai batalin kerjaan dia karena khawatir sama kamu."
"Iya maaf, sudah bikin kalian khawatir." Gumam Clara. Ia berusaha bangun untuk mengambil gelas yang terletak di atas meja samping tempat tidurnya. Dengan sigap mamanya menuangkan air pada gelas itu dan memberikannya untuk Clara.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu."
"Aku udah baikan kok. jadi nggak usah khawatir." Kata Clara sambil meminum air itu perlahan, kemudian meletakkan gelas itu diatas meja.
"Gimana mama nggak khawatir kalo Adit bilang kamu tuh udah beberapa hari ini udah terlihat pucat tapi kamu masih memaksakan diri."
"Itu semua Clara lakuin supaya aku nggak kepikiran masalah itu, ma." katanya sambil membenarkan posisi bantal dan menunpuk bantal dipunggungnya agar dia dapat duduk menyender.
"Iya, mama ngerti. Tapi kamu terlalu memaksakan diri, dan kamu malah menyiksa diri kamu sendiri."
"Lantas Clara harus gimana lagi ma?"tanya Clara sambil menatap mamanya dengan tatapan serius.
"Clara..."
"Aku juga nggak ingin seperti ini, tapi kalau Aku nggak mengalihkan pikiran, aku bisa semakin stress ma. Mungkin orang lain menganggap Clara terlalu lemah, tapi buat Clara yang menjalaninya ini semua terasa sulit." kata Clara berusaha menjelaskan kondisinya, ia ingin mamanya mengerti apa yang dirasakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo Travelgram [completed]
RomansaNathanael Pratama Romano sangat menyukai travelling seorang diri. Menelusuri tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi di muka bumi ini. Mengamati kehidupan manusia yang berbeda disetiap tempat dalam sudut pandang yang berbeda, dan mengabadi...
![Tokyo Travelgram [completed]](https://img.wattpad.com/cover/141907371-64-k584216.jpg)