TIGA PULUH DUA

1.8K 186 6
                                        

Nathan...

Nama itu seolah langsung terlintas pada benak Clara sesaat setelah ia melihat wajah pria itu dengan jelas. Walau Clara sudah lama tidak bertemu dengan Nathan, dan mereka hanya pernah bertemu dalam waktu hitungan hari, namun Clara masih mengenali Nathan dengan jelas. Bentuk wajahnya, garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, warna bola matanya yang gelap, bahkan suaranya. Bila perlu, Clara masih bisa menceritakan setiap kejadian yang ia lalui bersama Nathan di Tokyo. Pria itu kini berdiri disisi tempat tidurnya, menggenggam sebuket bunga matahari dengan senyum tipis yang memikat.

"Nathan..." gumam Clara sambil menatap Nathan tanpa berkedip seolah ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

"Sorry, baru bisa jengguk sekarang." Kata Nathan agak canggung. Tangannya masih menyodorkan buket bunga matahari pada Clara.

Clara mengambil buket bunga itu, mengamati bunga-bunga matahari yang mekar sempurna dengan warnanya yang cerah. Cantik, batin Clara yang merasa senang menerima bunga itu, lalu ia menciumnya perlahan. Wangi bunga segar yang khas bercampur dengan wangi air.

"Terima kasih. Kamu...tahu dari mana aku disini?" Tanya Clara yang masih belum percaya bahwa Nathan menjenguknya. Ia sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan pria itu setelah pulang dari Jepang. Karena selama ini Clara mempercayai bahwa pertemuannya dengan Nathan di Tokyo hanyalah sebuah kebetulan dalam hidupnya.

"Setelah aku baca pesan kamu di instagram aku, aku memutuskan buat menghubungi kamu. Tapi saat aku mencoba menghubungi kamu, ternyata mama kamu lagi membajak handphone kamu." Jelas Nathan sambil tersenyum.

"Ups... sorry ,handphone aku memang sedang disita selama aku sakit."

Nathan tertawa kecil.

"Kenapa ketawa?" tanya Clara sambil mengerutkan dahi.

"Aneh aja, kayak anak kecil. Handphone disita mama." jawab Nathan meledek sambil menahan tawanya.

"Ya... mama aku memang kadang terlalu memperlakukanku seperti anak kecil. Tapi selama handphone aku disita ada positifnya juga loh. Jadi bebas dari toxic social media. By the way, Kamu tau dari mana nomor handphone aku?" tanya Clara penasaran.

"Ceritanya cukup panjang. Hm...mau jalan ke taman? cuaca hari ini cerah. Kamu nggak bosan di kamar terus?"

Clara mengangguk dengan senyum yang mengembang diwajahnya. Berada di kamar rumah sakit selama beberapa hari membuatnya bosan dengan pemandangan tembok putih.

***

"Kamu yakin nggak mau pakai kursi roda?" tanya Nathan khawatir melihat Clara yang cukup kewalahan berjalan sambil mendorong tiang infusnya. Ia memperlambat langkahnya untuk menyamakan langkah Clara. Sesekali ia terlihat memegangi lengan Clara, takut bila gadis itu tiba-tiba jatuh.

"i'm totally fine, aku bisa jalan sendiri. Badanku hanya terasa kaku karena terlalu banyak tidur." Kata Clara sambil berjalan perlahan.

Langit sore itu nampak indah bewarna jingga keemasan dengan semilir angin yang menyejukan, mereka berjalan menuju taman yang berada di belakang rumah sakit, dan duduk disalah satu kursi taman yang kosong dengan pemandangan kolam ikan di hadapan mereka.

"Aku kaget banget kamu datang menjenguk aku." kata Clara membuka pembicaraan.

"Kamu nggak senang aku datang menjenguk?"

"Bukan, bukan begitu. Maksudnya...aku sama sekali nggak menyangka kamu bakal menjenguk aku. Bahkan aku juga nggak pernah membayangkan akan ketemu kamu di Jakarta" jelas Clara.

Tokyo Travelgram [completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang