Tepukan lembut yang terasa hangat pada pundak Clara mulai memberikan ketenangan. Perlahan tangisannya mulai berhenti, Clara mendongakan kepalanya, menatap Nathan yang masih memeluk sambil menepuk dan mengelus perlahan pundaknya. Nathan tak menatap dirinya, ia melempar jauh tatapannya kearah deretan pohon sakura. Terlalu canggung bagi Nathan untuk memandang seorang gadis yang sedang menangis.
Memalukan. Rasanya sangat memalukan bagi Clara menangis didepan pria yang baru dikenalnya dalam beberapa hari. Ia nampak seperti gadis paling menyedihkan dan cengeng saat itu. Namun ia tidak bisa membendung perasaannya, beban yang ia pikul terasa begitu berat dan menyakitkan. Siapa yang tak tersakiti bila pria yang dicintai dengan tulus selama dua tahun ternyata selingkuh disaat rencana pernikahan sudah didepan mata?
Setelah merasa lebih tenang Clara menyeka air mata yang tersisa dipipinya, dan Nathan melepaskan pelukannya.
"Sorry..." gumam Clara yang terlihat salah tingkah. Ia mengusap mata dan pipinya yang memerah karena menangis.
"Kenapa kamu minta maaf?" Tanya Nathan bingung sambil memasukkan kedua tangannya pada saku celana.
"Pasti aku terlihat sangat memalukan dan menyedihkan." Gumam Clara.
"Ya. Memang betul." Nathan mengangguk.
"Aku nggak bermaksud untuk nangis didepanmu, aku hanya terbawa suasana. Aku teringat akan masalahku...Sorry."
"Mungkin aku yang harusnya bilang sorry karena sudah mengajak kamu kesini." Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nggak. Bukan salah kamu kok. Aku aja yang memang terlalu cengeng."
"Menangis itu hal yang sangat manusiawi. Menuruutku menangis itu bukan artinya kamu cengeng atau lemah. Menangis bisa menjadi cara seseorang untuk mengungkapkan perasaannya."
Clara masih sibuk menata perasaannya, mencoba untuk menyingkirkan segala masalah dalam pikirannya. Ia tidak ingin menghancurkan hari terakhirnya di Tokyo dengan menangisi dirinya sendiri.
"Udah jangan nangis lagi. Orang-orang akan mengira kalau aku cowok brengsek yang membuat kamu menangis." Kata Nathan berusaha menghibur Clara.
"Thankyou. Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu denganmu. Ternyata Nathanael Romano adalah orang yang baik dan perhatian."
"Dont get me wrong. Aku rasa berbuat baik pada semua orang tidak ada salahnya."
***
Nathan memandangi gadis yang sedang mengurus boarding pass disalah satu loket maskapai penerbangan bandara Haneda. Setelah berkeliling taman Yoyogi dan daerah Harajuku, Nathan mengantar Clara hingga bandara Haneda. Setelah beberapa menit kemudian gadis itu berjalan menuju kearah Nathan dengan boarding pass dan passport ditangannya.
"Kau mau makan siang?" Tanya Clara agak canggung.
Nathan melirik jam tangannya, jam menunjukan pukul 11.05 "Tidak, aku rasa kau akan ketinggalan pesawat bila makan siang bersamaku. Aku akan makan siang sendiri."
"Ah...baiklah..." kata Clara sambil mengangguk mengerti.
"Sana...sudah waktunya kamu pulang." Kata Nathan sambil menunjuk kearah pintu imigrasi.
"Iya..." jawab Clara dengan nada datar. Kemudian keheningan meliputi mereka berdua.
"Hei...mungkin aku bukan orang bijak, motivator atau semacamnya. Tapi aku mengatakan ini jujur dari dalam hatiku. Sebagai seorang Nathanael Romano." Kata Nathan dengan nada serius. Clara menatap Nathan siap mendengarkan pria itu.
"Saat kamu pulang nanti, selesaikan masalah kamu dengan baik. Jangan kabur lagi. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Dan bersyukurlah karena kamu mengetahui semua kebenaran itu sekarang. Memang berat dan menyakitkan. Tapi rasa sakit itu yang akan membuat kamu menjadi orang yang lebih baik lagi."
"Everything happens for a reason, jadi jangan berhenti bersyukur. Karena kamu nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Satu lagi...ingatlah bahwa keajaiban itu bisa datang kapan, dimana dan dengan cara apa saja."
Clara tersenyum mendengar ucapan Nathan yang terdengar bijak dan mendengar ucapan itu Clara seperti mendapat suntikan semangat untuk menghadapi nasibnya. Nasib yang harus ia hadapi saat ia kembali ke Jakarta.
"Terima kasih..."
"Aku cuma bisa bilang itu aja. Aku harap kamu bisa mengahadapi masalahmu dengan baik dan kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu."
"Iya..."
Nathan mengulurkan tangannya "Senang bisa bertemu denganmu."
Clara menjabat tangan Nathan. "Senang bisa bertemu denganmu juga."
"Have a save flight."
"Thankyou."
Clara berjalan menuju pintu imigrasi, ia menoleh kebelakang dan melihat Nathan melambai kearahnya. Ia membalas lambaian itu sambil tersenyum. Selamat tinggal Nathan.
Setelah Nathan melihat gadis itu mengantri menuju pintu imigrasi, ia menghela napas. Ada rasa lega dalam dirinya karena akhirnya gadis itu akan pulang ke Jakarta, namun harus diakuinya bahwa ada sedikit rasa kehilangan yang mengusiknya. Mungkin empat hari bersama Clara membuat Nathan terbiasa akan keberadaan Clara di sekitarnya, atau mungkin Nathan merasa nyaman berada di dekat gadis itu. Merasa tugasnya telah selesai, Nathan membalikan badan dan berjalan pergi. Baru beberapa langkah ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Nathan!"
Belum sempat Nathan membalikan badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya, ia merasakan seseorang berlari dan memeluknya dari belakang dengan kedua tangan yang melingkar diperut Nathan.
"Terima kasih..."
Nathan terdiam sejenak. Dari suaranya Nathan tahu orang yang memeluknya dari belakang adalah Clara.
"Terima kasih atas semuanya, dan maaf sudah merepotkanmu selama ini." Ucap gadis itu dengan suara pelan namun Nathan bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Clara.
Nathan terdiam terpaku untuk sesaat, ia membiarkan gadis itu memeluknya dari belakang. Gadis itu kemudian melepaskan pelukannya. Dengan cepat Clara berlari meninggalkan Nathan yang masih berdiri mematung ditempatnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Clara hingga ia nekat memeluk Nathan dari belakang. Ia hanya ingin mengucapkan terima kasih. Clara merasa malu dan tidak mampu melihat wajah Nathan hingga ia lari secepat kilat untuk menghindari Nathan.
Nathan menoleh, ia hanya bisa memandang gadis itu dari jauh, hingga gadis itu benar-benar hilang dibalik pintu tanpa berpaling sedikitpun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tokyo Travelgram [completed]
RomanceNathanael Pratama Romano sangat menyukai travelling seorang diri. Menelusuri tempat-tempat baru yang belum pernah dia kunjungi di muka bumi ini. Mengamati kehidupan manusia yang berbeda disetiap tempat dalam sudut pandang yang berbeda, dan mengabadi...
![Tokyo Travelgram [completed]](https://img.wattpad.com/cover/141907371-64-k584216.jpg)