#25

3.6K 382 44
                                        


Aku baru tahu ayah Kim Jongin meninggal hari ini :'(

Semoga oppa kita diberi ketabahan, Rin turut berduka dari sini. Yang tabah oppa :')

Happy reading

***

Malam berlangsung begitu cepat, kebersamaan yang terjadi tadi sore terus berada dalam bayang. Tanpa sadar senyumnya yang walaupun tipis terus tersungging.

Tanpa ia sadari, pikirannya berkelana pada kejadian siang tadi. Setelah ia bertemu dengan Jae ——paman sekaligus ayah Yejin—— ia dibawa ke sebuah cafe yang tak jauh keberadaannya dari kantor Suho. Suasana yang membosankan membuat Ririn mengedarkan pandangan kepada sekitar. Posisinya yang berada di sisi jendela besar membuat pandangannya langsung fokus pada satu titik; tepat dari pintu keluar gedung perkantoran itu sosok kakaknya keluar, tak hanya sendiri namun kakaknya keluar dengan dua lainnya. Yang membuatnya terdiam adalah, kenapa dua pria lainnya berada di sana? Jika satunya pasti memiliki urusan bisnis yang mungkin diskusi keluarga atau apalah itu tentang perusahaan, tapi si jangkung seniornya itu... Apa yang ia lakukan.

Ririn menggelengkan kepalanya, merasa ia seharusnya tidak memikirkan yang seperti sekarang ia pikirkan. Tapi entah kenapa ia tak bisa menjauhkannya, melihat interaksi mereka membuatnya merasa aneh. Sejak kapan seniornya itu dekat dengan dua abangnya itu?

"Haft... Apa gue tanyain aja ya?" sejenak Ririn terdiam, Netranya memandang pada jam dinding lalu helaan napasnya terdengar kembali. Ririn terpaksa harus memendam pertanyaannya itu karena jam sudah menunjuk pada angka 12 malam.

Berjalan ke ranjang dan membawa tubuhnya untuk berbaring dan mencari kenyamanan di atas kasurnya, Ririn mencoba menutup matanya untul tidur. Dan tak lama, dirinya telah masuk ke alam mimpi.

***

Berjalan dengan tenang di tengah keramain tak membuat Ririn terusik oleh orang-orang yang berbisik tentang dirinya.

Apa lagi yang mereka bicarakan jika bukan tentang dirinya yang begitu dekat dengan senior-senior tampan yang tak lain kakak serta sahabatnya itu, pun dengan senior lainnya seperti Wooseok dan lain-lain. Meskipun kedekatannya dengan Wooseok bukan seperti kedekatannya dengan Kakak atau sahabatnya, ya tentu.

"Hai cantik," sapaan terdengar dari sebelah kirinya. Ririn menoleh dan berhenti sejenak lalu berjalan kembali. Melihat dirinya diabaikan, Kino sang penyapa mengejar.

"Buru-buru amat," ucapnya dengan jenaka. "Boleh abang temenin?"

Ririn berhenti, menaikan sebelah alisnya dan merasa aneh. Tumben Kino menyapanya sendiri, ya... Dalam artian tidak bersama Wooseok maupun Jinho.

"Abang?" Kino mengangguk.

"Kenapa?"

"Gak, aneh aja." Lalu kembali berjalan.

"Ehhh, lo ini seneng banget ya ninggalin orang yang lagi ngomong sama lo," ucap Kino sambil menyusul langkah Ririn.

"Emang."

Tak kehabisan akal, Kino yang sudah lama gemas sendiri itu mengangkat tanganya ke bahu Ririn, niatnya ingin merangkul tapi sebelum itu terjadi Ririn langsung berbalik. "Mau ngapain?"

"Ehmmm..." tangan yang mengambang di udara itu akhirnya berbelok untuk menggaruk lehernya sendiri. Tiba-tiba Kino merasa gugup.

2#Protective ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang