Malamnya semua berkumpul bersama termasuk Ayah Jun dan Mama Sanha yang entah kenapa, malam ini semua bisa kumpul. Gak seperti biasanya yang tiap lagi ngumpul pasti selalu ada yang absen.
"Sayang, kamu benerkan mau kuliah di sini?" tanya ayah Jun sambil menatap anak perempuan satu-satunya di keluarga ini.
"Iya, Yah. Lagian semua terapi dan ini itu udah beres, iya gak Bang?" Lay hanya mengangguk-ngangguk sambil mengunyah makanan yang masih ada di mulutnya. "Iya, Pah. Kata dokter semua udah normal-normal aja. Tapi tetap harus di kontrol pergerakannya, jangan sampe stres dan kecapean." Ayah hanya menganggukkan kepalanya sedangkan yang lain sibuk mengunyah sambil mendengarkan percakapan kedua pria itu.
"Kalo kata dokter begitu, berarti nanti kamu gak boleh ikut ospek." Ririn menoleh dan langsung protes.
"Loh, kok gitu sih, Yah? Ririn kan juga pengen ikutan ospek."
"Gak, kalo kamu kecapean terus kenapa-napa gimana? Ayah gak mau kamu sampe kenapa-napa cuma karena ospek."
Belum sempat Ririn protes, yang lain sudah menyela dengan dukungan yang diberikan dengan perkataan sang ayah.
"Bener kata Papa, Rin. Ini kan buat kebaikan lo juga," ucap Dio yang dari dulu kursinya selalu ada di sebelah kursi Ririn.
"Gue juga setuju sama apa kata Ayah." Kai ikut menyahut.
"Kalau gue sih, bakalan seneng kalo jadi lo," Ririn menatap Baekhyun dengan alis terangkat seperti bertanya. "Karena itu artinya lo gak bakalan diribetin sama perlengkapan dan atribut-atribut gak jelas yang selalu ada dalam ospek setiap tahunnya."
"Tumben otak lo bagus, Baek?" pertanyaan Suho tercetus begitu saja.
"Yaelah, Bang. Otak gue emang bagus dari dulu keles."
"Mulai deh alay-nya bakalan keluar." Suho memutar kedua bola matanya, menyesal dengan apa yang ia ucapkan beberapa detik lalu.
"Gak mau Ayah, Ririn pengen ikut ospek. Ririn gak mau dianggap lemah."
"Tapi itu emang kenyataannya, Ririn," ucap Lay mematahkan ucapan Ririn. Selama dua tahun berlalu, banyak perubahan dalam hidup Ririn. Mulai dari terapi-terapi yang membuatnya muak karena harus bertemu terus menerus dengan gedung putih dengan bau obat-obatan yang tak pernah hilang. Sifat Ririn yang entah kenapa sekarang lebih pendiam dari karakternya dua tahun lalu. Juga Lay yang sekarang lebih sering menonjolkan ketegasannya dari pada kepolosan yang dulu selalu ia perlihatkan.
"Ayolah, Bang. Dokter juga udah bilang kalau aku baik-baik aja. Aku udah bisa jaga diri sendiri dan membatasi semua yang membuatku terlalu lelah karena aku juga gak mau masuk ke tempat yang selalu aku kunjungi selama dua tahun terakhir."
Semua yang ada di meja makan saling berpandangan. Mereka tidak tahu kalau Ririn bisa mendebat dan sebegitu keras kepalanya, juga sikap seorang Lay yang terkenal selalu polos dan tampak tidak tahu apa-apa di antara keluarganya menjadi tegas dan susah untuk dibantah.
"Sekali enggak tetep enggak. Abang gak mau ambil resiko."
"Hahhh, kenapa gitu sih Bang? Aku lelah hidup dua tahun dengan monoton, apartemen, dokter, rumah sakit dan lain sebagainya yang terus berada pada situasi yang sama, aku bosan, Bang. Aku ingin menikmati hidup kayak dulu."
'Walau aku tak yakin dengan semua yang kuucapkan barusan,' batin Ririn meneruskan.
"Udah, jangan bertengkar di meja makan. Lebih baik kita selesaikan pembicaraan ini setelah semuanya selesai makan," usul mama Sanha dengan lembut.
"Benar kata Mama kalian, lebih baik kita selesaikan ini dulu, ok." Yang lain mengengguk patuh, sedangkan Ririn dan Lay menghela napas lelah. Lelah karena setelah ini Ririn akan berdebat kembali dengan Lay hanya untuk diberi izin ikut dalam kegiatan ospek.
***
Menyiram tanaman adalah aktifitas yang Ririn lakukan pagi ini. Tidak sendiri, Ririn ditemani mama Sanha yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang.
"Ririn?" Sontak kepala yang menunduk kini terangkat begitu mendengar seseorang menyebut namanya.
"Astaga, ini beneran elo? Ya ampun, lo balik kok gak kasih tau gue sih?" tanya Taehyung yang menggunakan setelan jogingnya. Bibirnya mengerucut dengan mimik muka seperti orang yang sedang ngambek.
Ririn memutar kedua bola matanya, jengah dengan tingkah laku salah satu sahabatnya yang tidak pernah ia hubungi semasa berada jauh dari tempatnya kini berpijak.
"Kenapa lo gak pernah hubungin gue? Lo gak punya pulsa? Gue beliin. Lo gak punya hp? Gue kirimin dari sini. Atau lo gak bisa gerakin jari lo? Bilang ke gue, gue bakalan datang ke sana buat ngetikin apa yang mau lo ketik biar lo bisa kirim pesan atau hubungin gue." Taehyung nyerocos begitu saja tanpa tedeng aling-aling.
"Kalo lo datang ke sana cuma buat ngetikin gue pesan atau biar gue bisa hubungin lo. Ngapain lo datang ke sana cuma buat itu sedangkan lo ada di depan gue?"
Taehyung diam, seperti berpikir dengan apa yang ia ucapkan tadi. Kepalanya mengangguk pelan sambil bergumam, "hmmm, ia juga sih ya."
"Gue tinggalin bukannya makin pinter malah makin lemot, hadehhh."
"Hehe, gak papa lemot, asal sama lo gue gak papa lemot."
"Emang gue mau sama lo?" Taehyung seketika memberengut.
"Jahatttt."
"Itu bibir lo gak usah begitu..."
"Kenapa? Lo pasti jadi pengen cium bibir gue yang mengemaskan ini ya," potong Taehyung dengan cepat.
"Iya, pengen gue cium," sekerika mata Taehyung berbinar, "tapi pake semprotan air. Nih, rasain!" Dengan teganya Ririn menyemprot Taehyung dengan air yang ia gunakan untuk menyiram tanaman. Seketika itu juga Taehyung menjerit kaget dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun ini Ririn bisa tertawa lepas.
"Jangan pernah hilangin tawa itu, Rin. Abang pengen lihat itu seterusnya dari sekarang," lirih Lay dari balkon sambil melihat Ririn dengan pandangan lega, seperti di saat gelap gulita yang menemukan satu titik cahaya yang akan ia jaga terus agar cahaya itu tidak akan redup dan membawanya kembali dalam gelap.
***
Kata-kata gue makin drama ya. Hehe.
Jangan heran, karena di cerita ini akan penuh drama. Berbeda dengan cerita sebelumnya yang lebih terarah pada canda tawa humor bobrok gue sebagai penulis abal-abal ini. Di cerita ini juga plotnya lebih tersusun karena otak gue udah nentuin cerita dari awal hingga ending walaupun gue yakin otak gue pasti bakalan melenceng sedikit saat nulis.
Gue emang begini, awal nulis gue udag nentuin gimana-gimananya, tapi pas di tengah otak gue bakalan stuck dan mungkin itu yang bikin semua cerita gue jadi terkesan absurd. Ide tak terduga yang muncul di otak gue selalu muncul di saat penulisan gue ada di tengah-tengah chapter.
Sudahlah ya, cukup sekian curcol gue yang sebenernya gak penting ini. Hehe
Vomentnya jangan lupa, dan maaf kalo banyak typonya karena gue emang terkenal sebagai ratu typo di grup. Typo gak pernah lepas dari tangan gue sepenuhnya.
Ini post di akhir tahun 2017 yeyyyy, semoga malem tahun baru kali ini jadi salah satu malam tahun baru yang terindah buat kalian. Jangan lupa mimpiin oppa nanti malem. Papay
31 Des 2017
Rinmy98
KAMU SEDANG MEMBACA
2#Protective ✔
FanfictionSequel StepBrother EXO Kehidupan masih berjalan, masih banyak orang yang menyayangi dan menjagamu -EXO Aku ingin seperti dulu! Tapi aku tidak bisa seperti dulu -Ririn Aku akan merubahmu seperti dulu lagi -Calm(?) Start: 26 Desember 2017 End : 10 Ju...
