"Lo ga inget? Kalo gue pacar lo?"
Fresya langsung bangkit dan menatap Ari dengan tatapan tajam.
"Asal lo tau,gue ga pernah sedikit pun anggap lo pacar gue! Apa-apaan lo? Tiba-tiba mengklaim gue sebagai pacar lo! Sayangnya hidup ga semudah itu boy!" ucap Fresya dengan lantang mengalahkan suara hujan yang semakin deras.
Ari diam tak menanggapi ucapan Fresya. Dalam hati,laki-laki itu membenarkan semua kalimat yang diucapkan Fresya.
"Gue akuin lo ganteng,tampan,lo famous! Tapi itu semua ga berlaku buat gue! Siapa lo yang tiba-tiba datang kedalam hidup gue kemudian mengacaukan semuanya?! Lo ga beda kayak orang asing yang ga pernah pengen gue temuin!" perkataan Frestya tepat menusuk kehati Ari.
Namun Ari tak bisa mengatakan sepatah katapun. Ari tak merasa marah sedikit pun,semua itu karena Ari sangat menyayangi Fresya.
"Dan satu hal lagi,jangan pernah ganggu hidup gue lagi!" telak Fresya seraya pergi meninggalkan Ari yang masih bergeming ditempatnya.
*******
Fresya menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Masih dengan seragam yang basah dan sepatu yang menempel dikakinya. Ini adalah hari terberat yang pernah Fresya lalui,dimana perlahan-lahan masalah dan luka terdahulu kembali terulang.
Gadis itu mengacak rambutnya frustasi,kemudian beralih menatap buku diary yang baru saja dia dapati dari seseorang yang dia anggap Dean.
Perlahan namun pasti,Fresya meraih penanya dan mulai menuliskan sesuatu dalam diary tersebut.
'Apa kamu tau? Aku selalu menceritakkan semua tentang kamu pada semesta. Tapi aku tak pernah mendapat jawaban atas segala pertanyaanku. Aku fikir,walaupun semesta tidak bisa memberikanku jawaban,setidaknya semesta bisa menyatukan kita. Tapi aku salah besar. Ternyata semesta tak pernah ingin melihat kita bersama kembali...
Tertanda,Fresya Arthafia
Gadis itu menutup kembali buku diary tersebut. Matanya terasa memanas saat ini,namun sekuat mungkin Fresya menahannya. Ia tidak ingin air matanya kembali jatuh. Karena itu hanya akan membuatnya bertambah lelah.
Dengan terus menggenggam diary tersebut,Fresya pun menenggelamkan kepalanya pada boneka beruang pemberian Dean dulu. Walaupun hanya barang pemberian,tapi mampu membuat Fresya merasa nyaman.
Hingga didetik selanjutnya,gadis itu berhasil memejamkan matanya. Mengistirahatkan hati,dan fikirannya. Melupakan sejenak beban yang telah lama ia pikul.
******
Sama halnya seperti Fresya. Ari melemparkan tasnya asal keatas kasur miliknya. Mengendorkan dasi yang terasa mencekik lehernya.
Fresya benar. Semua yang dikatakan Fresya benar adanya. Lalu? Apa yang harus dia lakukan sekarang? Menjauh,atau terus memperjuangkan gadis yang sama sekali tak pernah melihat perjuangannya.
Matanya menerawang. Menatap langit kamarnya. Terbesit dalam hatinya untuk memiliki Fresya. Ya,Ari sangat menyayangi gadis tersebut. Walaupun sepenuhnya Ari belum bisa melupakan sosok yang membuat semuanya berantakan.
Diana.
Ari masih sangat ingat akan perempuan tersebut. Cara dia tersenyum,cara dia menunjukkan kepeduliannya,sampai cara dia menghancurkan kehidupan Ari. Semua terekam jelas dikepala Ari.
Ari kira,Diana juga menyayanginya. Sayangnya itu hanya persepsi Ari yang dibuat nyata olehnya. Karena faktanya,Diana tak pernah menyayangi Ari sedikitpun.
Laki-laki itu memejamkan matanya. Perlahan potongan kenangan itu mulai berdatangan.
Ari menatap gadis yang sedari tadi diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sama halnya seperti Ari. Dia masih menunggu Diana untuk menjelaskan semuanya.
"Ri... Gue minta maaf..." lirih Diana meremas kuat tali pada tasnya.
"Gue harus lakuin ini..." lanjutnya dengan air mata yang mulai jatuh.
Ari menghela nafasnya. Jujur dia sangat amat kecewa kepada Diana. Setelah apa yang telah dia lakukan,setelah gadis itu berhasil merenggut apa yang Ari mudah,dan dengan mudahnya Diana meminta maaf padanya.
"Gue ga pernah nyangka lo bisa berbuat hal sekeji ini Din. Gue kira lo gadis yang baik yang dengan tulus sayang sama gue,ternyata gue salah. Lo ga ada bedanya sama perempuan hina diluar sana." ujar Ari. Walaupun terlihat santai,namun perkataan itu berhasil menohok hati Diana.
Sekejam itukah dirinya?
"Gue akuin. Gue emang jahat,gue jahat Ri!" ucap Diana yang kini mulai berani menatap mata hitam milik Ari.
"Gue lakuin ini karena Mamah gue. Lo tau,kalo misalnya gue ga lakuin apa yang bakal terjadi? Mamah gue bakal mati Ri! Mamah gue bakal dibunuh!" jelas Diana dengan isakannya.
Ari hanya menatap Diana dengan tatapan dingin. Dia mengerti sangat mengerti. Tapi apakah harus Ari yang menjadi korban?
"Gue ngerti itu Din. Gue ngerti. Tapi apa lo pernah mikir,gue kehilangan ayah dan kakak gue! Orang yang paling berharga dalam hidup gue!" suara Ari meninggi. Emosinya meluap begitu saja,membuatnya sangat sulit untuk mengontrol emosinya.
Diana tak membalas ucapan Ari. Dia terlalu kalut saat ini. Bahkan rasa bersalah itu semakin kuat memeluk hatinya. Bagaimana bisa dia merampas kebahagiaan yang Ari miliki. Diana merasa jika dirinya tak jauh berbeda layaknya seorang pembunuh.
"Maafin gue Ri,lo boleh bunuh gue sekarang juga!"
Ari terkejut mendengar perkataan Diana. Tidak-tidak,Ari bukanlah seorang yang pendendam.
"Sayangnya gue bukan seorang pendendam. Anggap aja,semua ini takdir Tuhan. Karena gue tau,bakal ada karma disetiap apa yang pernah lo lakuin!" ujar Ari terakhir kemudian pergi meninggalkan Diana.
Tubuh Diana luruh ditanah yang dia pijak. Tangisnya pecah. Dia benar-benar menyesali semuanya. Dia pikir setelah melakukan apa yang Ayahnya lakukan, ayahnya akan menepati janjinya. Ternyata tidak,ayahnya mengingkari janji tersebut. Membuat Mamahnya juga dirinya merasakan penderitaan yang berkepanjangan.
Diana tak tahu,apa yang akan terjadi setelah ini. Masuk kedalam penjara adalah hal pertama yang muncul dikepalanya. Mungkin Ari akan menyeret kasus ini kerana hukum. Dan kapanpun,Diana siap jika dirinya akan membusuk didalam penjara.
Karena dia telah mengambil resiko tanpa memikirkannya dua kali. Diana bodoh. Memang Diana adalah gadis yang sangat bodoh. Tapi apakah salah jika dia melakukan itu karena ingin melindungi Mamahnya.
"Maafin Diana mamah..." lirih Diana.
######
KAMU SEDANG MEMBACA
Kapten I Love You
Fiksi RemajaLebih baik menjadi sesuatu yang hangat dan menyenangkan daripada menjadi sesuatu yang dingin dan keras...
