Part. 06

43.5K 2.9K 79
                                        

Selamat membaca

Panas. Itulah yang di rasakan oleh Rania ketika berada di ruangan yang sama bersama Anin dan Arka yang sedang bermesraan.

Panas Bukan karna suhu ruangan melainkan hati Rania yang panas. Melihat tatapan Arka yang berbeda saat menatap Anin. Pria yang sering menatapnya datar kini menatap hangat dan penuh cinta pada perempuan lain. Rania ingin tatapan itu hanya untuknya. bukan untuk perempuan lain, Terutama Anin. Gadis yang Rania rasa sangat tidak cocok bersama Arka.

"Al. Aku ngantuk." ucap Anin memanas manasi Rania. Gadis itu tersenyum kemenangan ketika melihat Rania yang sedang meengepalkan tangannya.

Anin menyandarkan kepalanya di bahu Arka sambil memeluk pinggang Arka dengan mata mengarah pada Rania. Sedikit senyum penuh kemenangan Anin perlihatkan membuat suasana hati Rania semakin memanas.

Arka membelai rambut gadisnya dengan sayang. ia tahu apa yang Anin lakukan sekarang. Tapi ia tidak peduli menurutnya itu lebih baik agar Rania tahu kalau dirinya telah dimiliki.

Senyum Arka terukir  saat mendengar dengkuran halus dari Anin. pertanda Anin sudah terlelap.

Dengan pelan Arka melepaskan pelukan Anin di pinggangnya lalu membaringkan Anin di Sofa.

"Arka." panggil Rania.

"Hm." Sahut Arka tanpa menatap Rania. Mata Arka hanya terfokus pada Anin dengan tangan yang memgusap pipi Anin.

"Setelah ini kamu akan mengantarkanku, kan?" Tanya Rania.

"Hm." Jawab Arka.

Setelah memastikan Anin tertidur dengan nyaman. Arka berdiri lalu berjalan mendekati kedua adiknya.

CLEK

Suara pintu terbuka membuat Arka dan Rania mentap Pintu tersebut

"Kamu dari mana, David?" Tanya Arka.

"Aku habis mengejar gadis tadi." jawab David

"Maksud kamu, Natal?" tanya Arka.

"Kamu kenal dia?" Sambung Arka

David mengangguk, "Dia... Tunanganku..." Jawabnya membuat Arka dan Rania menatapnya heran.

"Bukannya Tunangan kamu, Sherly?" tanya Arka menyebutkan nama  tunangan David.

David mengangguk, "Iya. tapi sebelum dengan Sherly, Aku sudah lebih dulu bertunangan dengan Natal. Tapi karna ada sesuatu dan lain hal, yang membuat aku harus pergi ke luar negeri dan bertunangan dengan Sherly tanpa memutuskan pertuanganku dengannya. Mungkin sekarang ini dia menganggap aku hanya mantan tunangannya." jelas David. "Oh yah, Ar. Apa kamu dekat dengan Natal?"

Arka menggelngkan kepalanya "Tidak. yang dekat hanya tunanganku, mereka sudah lama bersahabat" jawabanya.

David menatap Anin lalu mengangguk. ia baru ingat. Gadis yang terlelap itu adalah sahabat dari Natal. ia memang tidak pernah bertemu dengan Anin tapi tahu Anin melalui foto foto yang ada di kamar Natal.

"Arka." pangil Nafiza tiba tiba.

Arka menatap Bundanya ia tersenyum dan berjalan mendekati Bundanya lalu mencium tangan bundnaya penuh hormat.

"Kamu bawa teman kamu pulang ke rumah dulu. kasihan mereka." ucap Nafiza. Sambil memberikan kunci mobil pada Arka

"Terus yang jaga si kembar?" Tanya Arka.

"Ada Bunda dan sebentar lagi ayah dan yang lain akan kemari." jawab Nafiza.

"Pulang. Istirahat yang banyak. kasihan teman kamu pasti mereka capek."

"Oh. Astaga Ada Calon mantu Bunda juga ternyata" ucap Nafiza ketika mendapati keberadaan Anin yang terlelap.

"Kamu bawa sekalian dengan Anin, nanti bunda hubungi Keluarga Anin buat beritahu keberadaan Anin." ucap Nafiza

"Arka, Kalau Azril pulang bilang Bunda lagi di rumah sakit. terus kamu pastikan dia makan, ya. Soalnya sudah beberapa hari ini anak itu malas makan." Pesan Nafiza sebeelum Arka benar-benar pegi.

"Iya Bun." sahut Arka.

Arka membopong Anin. dan mengajak Rania dan David pergi setelah pamit pada Bundanya.

Rania hanya bisa diam menatap penuh iri dan benci pada Anin yang terlelap di gendongan Arka.

"Biar Aku yang menyetir, Ar." ucap David sambil membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Arka.

Arka mengangguk sambil memberikan kunci mobilnya pada David.

"Ran, kenapa duduk di belakang? Berasa jadi supir." ucap David ketika Rania yang berniat duduk dengan Arka di belakang, sedangkan dirinya duduk sendiri di depan.

"Duduk di depan Ran." Tegas Arka. Membuat Rania mengangguk seketika dan pindah ke depan.

Setelah Rania duduk di depan, Tepatnya di sebelah David. David segera menjalankan mobil Arka keluar dari Parkiran rumah sakit.

Saat sudah di luar halaman Rumah sakit tiba-tiba David menginjak rem mobil tersebut membuat Arka dan Rania hampir terjungkal ke depan.

"Ada Apa, Vid?" Tanya Arka.

"Ada mobil yang menghadang kita, Ar." Jawab David dengan mata yang menatap ke arah mobil hitam yang menghadang jalan mereka.

Arka menatap ke depan dan terlihat beberapa pria yang berbadan besar berjalan menuju ke arah mobilnya.

Tok tok tok

Seorang pria berbadan besar mengetuk kaca mobil Arka tepat di dekat Arka.

"Apa?" Tanya Arka datar membuat pria berbadan besar itu terdiam sesaat.

"Tu..an Ar..ka?" Ucap Pria itu

"Anin aku bawa ke Rumah."

"Dan singkirkan mobil yang menghalangi mobilku." Ucap Arka datar lalu menutup kaca mobil.

"Jalan, Vid." ucap Arka.

"Tidak Apa, Ar?" Tanya David khawatir.

"Tidak!"

Meski masih bingung dan khawatir, David kembali menyalakan mobil Arka lalu mengikuti Arahan jalan yang Arka beritahu. Sedangkan Rania? Ia sibuk dengan pikirannya.

Rania terkagum kagum ketika melihat Rumah mewah yang Bediri di hadapannya.

"Ayo masuk." Ajak Arka pada David dan Rania.

"Selamat datang tuan" sapa Para pelayan.

"Kalian siapkan dua kamar buat dua teman saya." titah Arka.

"Kami sudah menyiapkan kamar tuan. nyonya sudah memintanya tadi." Jawab kepala pelayan.

Arka mengangguk lalu menatap David dan Rania.

"Kalian ikut mereka. aku akan mengantar, El dulu." ucap Arka lalu pergi menuju lantai dua.

"Gila.! ini namanya bukan Rumah. Tapi Mansion." Batin Rania.

"Jangan mengharapkan seseorang yang sudah di miliki orang lain, Ran." Ucap David tiba tiba.

David cukup peka akan tingka Rania yang selama ini mencari cari perhatian Arka. awalnya ia tidak terlalu peduli karna mengira Arka tidak punya kekasih. tapi karna ia sudah tahu Arka punya seorang tunangan. jadi tidak ada salahnya-kan? ia menegur Rania agar tidak mengganggu hubungan Arka

Arka tersenyum melihat gadisnya yang terlelap di ranjangnya. "Selamat Istirahat, El." Ucap Arka lalu kening Anin.

Arka beranjak menuju kamar mandi ia berniat membersihkan dirinya agar terasa lebih segar.

***

Bersambung

Jangan lupa Vote yah... dan coment juga... 😊😊😊

Yang mau gabung grub WA chat di No yang saya kasih kemarin yah 😄😄😄

Rabu : 23.Mei.2018

Arka-Anin (Proses Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang