Selamat membaca
Arka menggenggam tangan Anin yang terperban, memberikan kecupan di tangan Anin. Tadi setelah mendapati Anin pingsan di Kafe miliknya, Arka segera membawa Anin ke Rumah sakit terdekat. Tidak lupa ia juga menghubungi keluarganya memberitahukan apa yang terjadi pada Anin.
Senyum Arka terukir saat melihat Anin yang mulai mengerjabkan matanya, "Syukurlah" gumamnya.
Rasa khawatir yang menghampirinya dari tadi, perlahan mulai menghilang
"Al..." Lirih Anin
"Aku ada di mana?" Tanya Anin sambil menatap sekelilingnya.
"Kamu di Rumah sakit El." Anin terdiam sejenak setelah mendengar jawaban dari Arka, pikirannya melayang pada kejadian yang terjadi sebelum ia tak sadarkan diri.
"Maaf Kiel."
"Adelia..." lirih Anin yang masih dapat di dengar Arka.
Dengan seketika matanya menatap tajam pada Anin saat mendengar nama Adelia. "Jangan sebut nama gadis itu," Ucapnya penuh penekanan membuat Anin menatapnya.
"Al. Aku harus menemui Adelia."
Anin mencoba bangun dari baringannya membuat Arka menahan pergerakkannya, "kamu harus istirahat El."
"Tapi Al. Aku harus menemui Adelia, ada yang ingin ku tanyakan padanya,"
Arka menggeleng kepala, "Tidak!" tegasnya.
"Kamu tidak boleh menemui Gadis itu, dia berbahaya El. Dia membahayakan kalian..." Lirih Arka.
Anin kembali terdiam mendengar ucapan Arka tanpa sadar Anin mengusap perutnya.
"Aku tidak ingin kalian terjadi apa apa El."
Arka memeluk Anin dengan erat seakan akan menyampaikan rasa takutnya.
Anin mengusap bahu Arka, memberikan ketenangan pada Arka "aku tidak apa apa Al."
Arka menghembuskan nafasnya lalu melepaskan pelukkannya dan menatap Anin intens.
"Jangan berbuat hal nekat seperti tadi El, Aku tidak suka." Ucap Arka penuh peringatan membuat Anin mengangguk kaku.
"Mungkin nanti saja aku cari tahu siapa Adelia sebenarnya." Batin Anin
"Sekarang kamu istirahat El. biar mereka baik-baik saja." Ucap Arka sambil menatap dan mengelus perut Anin penuh sayang.
Anin mengerutkan dahinya ketika mendengar kata 'mereka." Dari mulut Arka.
"Mereka?" Tanya Anin.
Arka menatap Anin kembali sambil memberikan senyumannya yang penuh kebahagiaannya. "Yah. mereka El, si kembar." Ucap Arka membuat Anin menatap Arka tak pecaya.
"Kembar?" Batin Anin.
"Maksudnya, Anak kita kembar?" Dan Arka mengangguk dengan seraya menampilakn senyumnya.
"WAH... HEBAT.." seruh Anin.
"Sekali buat, langsung dapat dua." tambah Anin. Arka meringis mendengarkannya
Anin mengelus perutnya, "tumbuh sehat anak anak Bunda." Gumam Anin.
CLEK.
Suara pintu membuat Anin dan Arka menatap kearah pintu, "Papa? Kak Adit?" Ucap Anin ketika melihat siapa yang datang.
Given tersenyum lalu melangkah mendekati Anin dan Arka, Arka membantu Anin agar bisa duduk dengan nyaman.
"Bagaimana kabar kamu sayang?" Tanya Given.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arka-Anin (Proses Revisi)
Teen Fiction#Cerita ke-2 Anin. Tentang Arka & Anin. Hubungan keduanya selalu baik-baik saja. Akan tetapi, selalu saja ada orang-orang yang membuat hubungan keduanya goyah. Mantan Anin yang masih suka mengejar Anin, dan wanita yang selalu bersama Arka. Akank...
