Part. 13

35.2K 2.8K 171
                                        

Selamat membaca...

Arka berjalan menelusuri Koridor kampus mengabaikan beberapa Mahasiswi yang menatapnya.

Pria itu merasakan lelah di sejur tubuhnya karna sudah dua minggu ia mengurus Skripsinya dan urusan perusahaan ayahnya. Tidak ada kata istirahat untuknya saat ini ia ingin menyelasiakan semuanya dengan cepat.

Rasa kantuk dan capek begitu terasa tapi ia abaikan.

Arka menghembuskan napaas kasar ketika melihat Ada Rania yang berjalan mendekati dirinya. Jangan lupa dengan senyum yang tidak akan membuat Arka terpesona melihatnya.

"Hi, Ar" sapa Rania.

"Hm." Jawab Arka.

Arka kembali melangkah namun langkahnya terhenti ketika Rania menahan tangannya akibat luka yang ia dapatkan kemarin.

Ah.. mengingat kejadian kemarin. Membuat pria itu kesal sendiri, ingin marah tapi marah pada siapa? Tidak mungkinkan ia marah pada Anin karna bukan Arka marah malah gadis itu yang marah ralat bukan marah melainkan kesal. Dan Arka tidak bisa kalau itu terjadi.

"Eh.. kamu kenapa Ar?" Tanya Rania.

Rania langsung terdiam ketika Arka melepaskan tangan Rania. "Kau terluka Ar, sini Aku obati." ucap Rania mencoba memegang tangan Arka.

"Tidak usah Ran." Jawab Arka sambil menepis kembali tangan Rania.

"Ar," panggil David.

Arka menatap David yang kini berada di depannya, "kenapa?" Tanya Arka.

"Kamu akan Wisuda minggu ini?" Tanya David membuat Arka mengangguk.

"Cepat sekali." Ucap David.

"Iya, aku sudah berencana dari dulu menamatkan kuliahku dengan cepat" ucap Arka.

"Wah.. hebat." Ucap David.

"Pasti kamu mau cepat cepat pulang, biar bisa sama Tunangan kamu." Goda David.

Arka tersenyum mendengar ucapan David, tanpa pamit ia melangkah meninggalakan Rania dan David.

"Kenapa?" Tanya David ketika melihat Rania.

"Tidak apa apa." Ucap Rania.

"Ya sudah." Ucap David lalu pergi meninggalkan Rania.

"Ck" decak Rania.

"Kenapa sih, Arka tidak mau melihatku?"

"Apa kurangnya Aku? Aku lebih dari gadis Cerewet dan urakkan itu." Ucap Rania

Rania menatap dirinya sendiri penampila nya sangat Luar biasa dari pada penampilan Anin. Tunangan Arka itu.

"Cantik? Cantikan Aku."

"Seksi? Tidak, orang dia datar gitu."

"Modis? Nggak anak itu urakkan"

"Kaya? Aku lebih kaya dari dirinya." Ucap Rania memandingkan dirinya dengan Anin.

"Jangan melihat seseorang dari penampilannya terkadang orang yang kamu anggap biasa-biasa saja itu kadang orang yang lebih luar biasa."

"Satu hal yang kamu tahu Ran."

"Lupakan Arka, karna Arka milik orang lain." ucap David tiba tiba membuat Rania tersentak. Ia tidak menyadari kalau suaranya terdengar hingga di telinga David.

.
.
.

Anin menatap handphonennya yang terletak di atas nakas sudah tiga hari Arka belum memberi kabar membuat Anin merasa sedih dan bersalah.

Arka-Anin (Proses Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang