Ekstra part. 02

65.8K 2.7K 92
                                        

Suara kegaduhan terdengar di kediaman Ferdinan tepatnya di ruangan tamu di mana Devan, Aisyah dan Anin sedang mencoba menjauhkan anak-anak mereka yang sedang bertengkar.

Suara tangis dari salah satu anak kecil membuat suasana tambah gaduh, dan suara tangis paling kencang berasal dari anak kedua Anin dan Arka, siapa lagi kalau bukan Dafian Adriano Athala. Anak itu menangis dan menjerit begitu kuat saat sebauh maianan mobil-mobilan melayang tepat mengenai dahinya.

"Aduh..., Alisa! Jangan sayang, nggak boleh pukul dedek Dafinya," tegur Aisyah seraya menarik tangan putri kecilnya yang siap kembali melayangkan maianannya ke wajah Dafi, anak sahabatnya itu.

"Astaga, jangan!" Teriak Aisyah saat Alisa berhasil melemparkan mainanya kembali ke arah Dafi.

Anin yang melihat itu langsung memeluk Dafi membiarkan mainan yang di lempar itu mengenai punggungnya, Anin sedikit meringis merasakan sakit benda yang di lemparkan padanya.

"Alisa, Ayah nggak suka ya, kamu kasar," tegur Devan seraya menggendong putrinya.

Alisa anak yang baru berusia tiga tahun lebih itu menatap ayahnya yang menatapnya tegas. anak satu-satunya Devan itu langsung menatap cemberut.

"Ndak mau, Yah.. ndak mau teman Dapi." celoteh Alisa.

"Hey, nggak boleh begitu. Dedek Dafi kan, dedeknya Alisa jadi harus berteman nggak boleh berantem," ucap Aisyah seraya mengambil alih Alisa di gendongan Devan. Wanita itu membawa Alisa yang ada di gendongannya itu mendekati Anin yang sedang menggendong Dafi yang masih menangis kesakitan.

"Nah, sekarang minta maaf sama dedek, Dafi," Suruh Aisyah mengulurkan tangan kanan putrinya.

"Bilang, 'Dedek Dafi, Kakak Lisa minta maaf'."

"Ndak mau!" Alisa menarik tangannya yang terulur, gadis kecil itu membuang wajahnya ke arah lain hingga tak sengaja matanya menatap pria yang baru datang. Seketika gadis kecil menyembunyikan wajahnya ke di bahu ibunya.

"Alisa..." panggil Aisyah dengan lembut seraya mengusap kepala putri kecilnya.

"Nggak mau Bunda... takut..." lirih Alisa membuat semua menyeritkan dahinya mendnegarkan ucapannya.

Takut? Apa yang di takutkan oleh gadis yang baru saja membuat anak lain menangis?

"AYAH...." teriakkan dari salah satu anak Anin membuat semua tersadar akan keberadaan seorang pria, pria yang tak lain adalah Arka, suami Anin.

Daffa Adrian Athala, anak yang dari tadi duduk tenang saat adik kembarnya menangis kesakitan itu turun dari sofa lalu berlari menuju Ayahnya.

"Ndong..." Ucapnya seraya mengulurkan kedua tangannya ke depan meminta ayahnya menggendongnya.

Arka langsung menggendong Dafa, putranya itu terlihat mengantuk membuatnya tidak tega melihatnya. Arka menepuk pelan bahu Dafa hingga terlelap secara perlahan, dan barulah ia melangkah mendekati Anin dan juga Dafi yang masih tidak berhenti menangis.

"Ayah... nakal kakak Ica..." tunjuk Dafi pada Alisa yang masih bersembunyi di pelukkan ibunya.

"Cakit ayah, Dapi cakit." aduhnya dengan menatap ayahnya debgan mata yang berkaca-kaca.

Alisa sudah menangis ketakutan membuat Devan kalap dan mengambilnya di gendongan Aisyah.

"Sudah, ya. Anak ayah jangan nangis... Kan Ica salah jadi Ica harus minta maaf," Ucap Devan.

Devan mendekati Dafi lalu mengulurkan tangan putrinya ke depan Dafi, "Bilang apa?" ucapnya.

"Maap," Ucap Alisa tanpa mau menatap Dafi.

Arka-Anin (Proses Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang