Selamat membaca
"NINA BOBO, OH NINA BOBO, KALAU TIDAK BOBO DI GIGIT NYAMUK."
OEEKKK...
"NINA BOBO OH, NINA__"
PLETAK
Suara yang begitu nyaring dan menyakitkan telinga kini terhenti ketika seorang gadis menjitak kepala si pemilik suara tersebut.
"Vira Sakit tahu," Keluh Alvaro. Mengusap kepalanya yang tarasa sakit akibat jitakan dari kembaranya, Alvira.
"Diam Varo!" bentak Alvira.
Alvira mengusap telinganya yang terasa sakit akibat suara fals dari saudara kembarnya belum lagi suara nyaring ponakan mereka yang semakin menjadi. Untung saja cuman satu ponakannya yang menangis.
"Cup, cup, cup." Alvira menepuk pelan pipi ponakakannya "Daffi sayang jangan menangis." bujuk Alvira.
Dan Oekkk.... suara tangis Daffi, bayi dari Anin dan Arka semakin menjadi membuat Alvaro serta Alvira menutup telinga mereka dan terjadilah aduh mulut antara ke duanya, di mana keduanya saling menyalahkan.
Anin yang berdiri tidak jauh dari Si kembar Alvaro dan Alvira hanya bisa menghembuskan napasnya ketika mendengar aduh mulut keduanya. Bukannya membujuk si kecil, mereka malah bertengkar.
Perlahan Anin melangkahkan kakinya mendekati Alvira dan Alvaro, ia langsung mengambil putranya, Daffi. Dan langsung membawanya pergi meninggalkan dua orang yang baru akan beranjak dewasa bertengkar seperti anak kecil. Tidak perduli apa yang akan terjadi pada dua iparnya itu, tapi yang pasti keduanya tidak akan berhenti sebelum salah sau dari mereka mengalah.
Anin menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. hari ini hanya Anin, Alvira, Alvaro dan si kembar yang ada di rumah. Bunda Nafi dan Azril berada di luar negeri menemani Ayah Azka yang melakukan perjalanan bisnis, sekalian liburan untuk Azril.
Arka juga tidak ada di rumah sudah beberapa hari ini Arka keluar kota.
Anin membaringkan Daffi di box bayi di mana kembarannya berada. Seharian ini kerjaan Daffi hanya menangis dan menangis. Ralat bukan seharian, sudah beberapa hari berlalu Daffi sering menangis. Mungkin merindukan Ayahnya yang belum pulang dari luar kota?
Mungkin. Karna si kecil Daffi sudah terbiasa di tidurkan Ayahnya kalau malam hari. Kalau Anin pikir pikir lagi Daffi lebih manja pada Ayahnya dari pada Daffa. Dan yang paling suka menangis di antara keduanya adalah Daffi.
Anin mengusap pipi Daffi dengan lembut dan setelah itu ia mengecup pipi Daffi lalu mengecup pipi Daffa.
Anin kembali menatap jam dinding yang sudah menujukkan pukul setenga sepuluh, "cepat pulang Al, Si kecil terus menangis." Batin Anin seraya berjalan menuju ranjangnya.
Hari ini terasa begitu melelahkan bagi Anin. ia biasa mengurus dua malaikatnya di bantu Bunda Nafiza kini harus mengurusnya sendiri. Sebelum Bunda Nafiza pergi tadi Bunda Nafiza sudah berpesan pada Alvaro dan Alvira membantu Anin mengurus dua ponakan mereka, tapi. Mereka bukannya membantu malah membuat semuanya kacau.
Bukannya membuat Daffi berhenti menangis malah asik bertengkar dan saling menyalahkan mengabaikan suara tangis Daffi, membuat kepala Anin ingin meledak saja.
Anin membaringkan tubuhnya dan perlahan matanya mulai terpejam tak berapa lama Anin terlelap pintu kamar Anin terbuka dan terlihatlah Arka di ambang pintu.
Arka hanya bisa menarik napas pelan lalu melangkah menuju ranjang di mana Anin terlelap dengan posisi tidak nyaman untuk di lihat.
Oekkk...
Baru saja beberapa langkah mendekati Anin langkah Arka terhenti saat mendengar suara tangis dari salah satu putranya yang dia yakini adalah Daffi. Arka segera melangkah mendekati Box Bayi.
"Uh, sayang." Ucap Arka sambil mengusap pipi Daffi.
Perlahan mata Daffi terbuka dan memperlihatkan nerta cokelat milik putranya itu tak berapa mata Daffi kembali tertutup dan suara tangisnya sudah berhenti ketika Arka mengusap pipinya.
"Anak pintar," ucap Arka lagi.
Arka membukuk mengecup Daffi dan lalu mengecup Daffa. Setelah memastikan keduanya sudah terlelap nyaman barulah Arka kembali melangkah mendekati ranjang besar.
"Maaf baru pulang, kamu pasti kelelahan mengurus mereka." gumam Arka.
Arka mengecup kening Anin lalu mengangkat tubuh dan perlahan ia membaringakn kembali tubuh Anin dengan posisi nyaman, Arka kembali mengecup kening Anin lalu bia berjalan menuju kamar mandi.
Tak berapa lama Arka keluar dari kamar mandi dengan keadaan terlihat segar, ia segera melangkah kearah ranjang dan
.
.
.
Sinar matahari menerpa wajah Anin membuat tidur Anin terusik, dan perlahan mata Anin terbuka, dahi anin langsung menyerit ketika merasakan sesuatu menindih perutnya. "Lengan siapa?" Tanya Anin pada dirinya sendiri melihat lengan besar berada di atas perutnya.
"Al?" gumam Ani ketika menyadari pemilik lengan tersebut.
Oekk..
Anin mengankat lengan Arka saat mendengar suara dari salah satu bayinya dan pergerakkan Anin membuat Arka yang terlelap merasa terusik.
"Sutt, diam sayang. Ayah lagi istirahat."
Suara Anin membuat Arka terbangun dan merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk dia atas ranjang denga punggungnya di sandarkan di kepala ranjang serta mata yang menatap ke arah Anin yang mencoba menenangkan si kecil.
Oeeek
Suara bayi lainnya terdengar membuat Arka beranjak dari tempat tidur, ia segera mengambil Daffa yang menangis dan hal itu membuat Anin tersentak.
"Al?" ucap Anin.
Arka hanya mengangguk, ia mengecup kening Anin "Selamat pagi istriku," Sapanya.
"Dan Selamat pagi jagoan ayah." Arka mengecup Daffa yang sedang ia gendong lalu mengecup Daffi yang berada di gendongan Anin.
"Maaf beberapa hari ini tidak membantumu." ucap Arka membuat Anin tersenyum lalu mengangguk.
"Tidak apa apa. Kan sudah kewajibanku." ucap Anin membuat Arka tersenyum.
"Nanti bantuin aku mandiin mereka ya?" Pinta Anin dan langsung di jawab Arka.
Arka menatap Anin lalu menatap Daffi, "Daffi menangis terus ya?" tanya Arka dan langsung di jawab anggukkan kepala oleh Anin.
.
.
.
Senyum Arka tak pernah luntur melihat Anin yang dengan talent memakaikan baju untuk si kembar, Dari Daffa lalu Daffi.
Keduanya keluar kamar setelah Daffa dan Daffi sudah selesai mandi dan siap di ajak jalan jalan bersama.
"Varo sama Vira kemana, Bi?" Tanya Arka ketika tidak mendapati kedua adiknya.
"Tuan dan Nona berangkat kuliah," jawab Asisten rumah.
Arka hanya mengangguk lalu berjalan bersama dengan Anin menuju taman yang dekat dengan Mansion Atallah.
***
Maaf Gaje ✌
Maaf yah kalau gaje ceritaku ini. 😂😂😂 aku yang nulis aja merasa cerita ini alurnya berantakan apalagi para pembaca 😁😁😁
Masih ada ekstra part 2. tetap tunggu ya, :)
Oh iya kalian ingin squel tentang siapa?
Devan Aisyah
Natal David
Aisyah Reza
Liven Adel.
Anin Arka lagi.
(kehidupan rumah tangga mereka.)
Byebye👋👋👋
Sabtu, 18.08.2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Arka-Anin (Proses Revisi)
Teen Fiction#Cerita ke-2 Anin. Tentang Arka & Anin. Hubungan keduanya selalu baik-baik saja. Akan tetapi, selalu saja ada orang-orang yang membuat hubungan keduanya goyah. Mantan Anin yang masih suka mengejar Anin, dan wanita yang selalu bersama Arka. Akank...
