Waktu semakin cepat berlalu,namjoon kini seperti orang gila.
Pakaian yang ia pakai hanya sebatas kaos hitam polos dan celana jeans.
Namjoon kini hanya diam tanpa menghiraukan omelan dari pd nim selaku atasan namjoon
Namjoon melamunkan istrinya dan entah setan apa yang merasuki nya ia begitu rindu akan istrinya.
Sedangkan di sisi lain jeon nara selaku istri dari namjoon tak jauh berbeda.ia merasa seperti orang yang berbeda.
Sudah satu minggu lamanya ia tak bertemu dengan namjoon.
Ia merasa bahwa Namjoon tak pernah mencarinya.
Nyonya kim selalu merawat nara dengan kasih sayang namun ketika ia menanyakan akan keadaan namjoon.
Nyonya kim selalu mengalihkan pembicaraan.
"Eomma,bukankah ini sudah keterlaluan,maksudku apa ini akan membuatnya berubah?"
Nyonya kim tersenyum dan mengusap kedua tanggan nara.
"Gwenchana, jika ia berubah ia pasti tau di mana kau berada, nara - a kau harus berjanji dengan eomma.jaga namjoon dan jangan pernah kalian berpisah"
Nara menggangguk dan memeluk mertuanya itu.
Ting nong.
Suara bel membuat nara melepaskan pelukannya,"eomma sepertinya ada tamu,aku akan membukanya "
Nyonya kim menggangguk dan membiarkan nara membuka pintu.
Langkah nara bergitu teratur senyuman begitu terpantri di wajah nya.
Ceklek
Nara memundurkan tubuhnya ketika melihat siapa yang ada di balik pintu.
"Nara?, " untuk pertama kalinya ia mendengar namanya di sebut.
Ia ingin menangis namun genggaman tangan Namjoon membuat nara sadar bahwa Namjoon sama sekali tak berubah.
Namjoon menyeret nara agar masuk ke dalam mobil.
Lalu melajukanya ke apartemen namjoon. Nara menundukan kepalanya dan mengelus pergelangan tangganya yang memerah.
"Namjoon?" Tanya nara hati hati.
Namjoon menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Lalu ia memukul stir.
Nara takut,ia semakin meneteskan air matanya.
"Kau..., wanita tak tau diri" bentak namjoon
Nara memejamkan matanya ia begitu terkejut ketika namjoon membentaknya.
Lalu namjoon melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata.
Ketika sudah sampai di basment namjoon kembali menyeret nara agar masuk ke apartemen nya.
Nara menahan tangannya ketika akan di seret oleh namjoon. Namun karna kekuatan namjoon ia hanya bisa pasrah.
Brukk
Nara di hempaskan ke sofa ia meringis ketika ia membentur ujung sofa yang keras.
Namjoon mengusap wajahnya dengan kasar "kau... membuat semuanya hacur, kau tau semenjak aku mengenalmu aku selalu sial, " bentak namjoon
Ingin sekali namjoon memukul nara namun ia urungkan niatnya.
"BANGUN! " Ucap namjoon tinggi
Nara mengdongkrakan wajahnya dan menggeleng.
"Cepat bangun" namjoon menyeret nara lagi dan memasukannya ke kamar mandi
Byurr
Namjoon mengguyur nara dengan air dingin dan mematikan lampu serta mengkuncinya
"Namjoon, ku mohon buka pintunya!" Teriak nara
"Itu sebagai balasan karna kau membuat ku sial"
"Namjoon ku mohon, tak masalah kau mengunciku tapi ku mohon nyalakan lampunya,aku tak bisa bernafas "
"Biarkan saja, kau tak tau bagaimana rasanya jadi diriku, sekarang kau diam aku ingin tidur"
"Namjoon -ah"
Suara nara semakin mengecil dengan intensitas ketukan yang semakin mengurang
Namjoon yang awalnya marah kini merasa ada yang tidak beres.
"Kenapa kau diam,ahahha apa kau mati?" Teriak namjoon
Namun tak ada respon dari nara.
Namjoon jadi teringat dengan kejadian waktu itu.
Nara yang di kunci dan dimatikan setelah itu demam.
Segera ia membuka pintu dan melihat nara yang tergeletak tak sadarkan diri.
"Denyut jantungnya kenapa melemah"
Segera Namjoon menggendong nara dan membawanya ke rumah sakit.
Ia meringis ketika melihat luka lebam di tanggan nara dan pergelangan tanggan nya
......
Di ruangan ICU kini sudah ada dokter dan tentu saja nara. sedangkan namjoon kini tengah di luar ruangan dengan sejuta penyesalan
"Kenapa aku melakukan ini, akhhh kenapa? " batin namjoon
Dokter keluar dan memberi tau keadaan nara
" tuan sepertinya nyonya nara tidak baik baik saja,.apa anda tau bahwa ia pobia gelap?"
Namjoon diam dan menggeleng
"Nyonya kim fobia gelap ia akan kehabisan nafas ketika ia merasa gelap. Dan saya kira ini bukan yang pertama kalinya,mungkin ia akan sadar ketika obat biusnya hilang"
Ucapan sang dokter membuat beban namjoon semakin bertambah.
.Namjoon memijit pelipisnya.
"Kapan ia boleh pulang?" Tanya Namjoon sambil memandang pintu ruang icu
"Tenanglah, kalau ia sadar kau boleh membawanya pulang,dan pastikan kejadian ini tak menimpanya lagi,"
Namjoon mengangguk dan membungkukan badannya sopan
"Kamsahamnida "
"Gwenchana, dan satu lagi, ia tak boleh makan makanan yang berbahan tepung dan cuaca dingin"
" apa yang akan terjadi ketika ia tak sengaja memakan tepung dan terkena cuaca dingin?"
"Kau tau terkadang pobia dapat menyebabkan kematian.dan kau harus menjaganya.jangan biarkan ia melakukan hal hal yang menyangkut tentang pobia nya itu,atau ia akan berakhir di pemakaman"
Namjoon sekali lagi menggangguk dan masuk ke dalam ruang icu.
Ia meringis ketika melihat wajah pucat istrinya, ia juga sedikit merasa bersalah karnanya. Nara bisa seperti ini.
Namjoon beralih pada pergelangan tangan nara dan kembali meringis melihat bekas genggaman tangan nya yang masih membekas .
"Kau tau sebenarnya aku tak mau hari ini terjadi,"
Namjoon tertidur di pinggir kasur nara dan sebelah tanggannya menggenggam tangan nara.
Tbc....
KAMU SEDANG MEMBACA
I Hope a Beautifull Married
FanfictionMenikah tanpa adanya Cinta dan hanya bermodal perjodohan membuat kehidupan menjadi kacau namun ini bukanlah akhir dari cerita namun ini awal dari kehidupan
