Alka menggeliat saat kaki yang telah bertengger di dadanya semakin menekan pergerakannya. Lelaki itu menutup matanya. Mengambil napas lewat hidung walau terasa begitu sesak. Sebisa mungkin ia membungkam mulutnya. Mencegah suara erangan keluar dari bibir tipis itu.
Erick tampak geram. Laki-laki yang kini terkapar itu nyatanya tak melakukan perlawanan apaupun. Padahal yang ia inginkan, mereka kembali melanjutkan pertarungan dua hari yang lalu.
"Bangsat! Lawan gue kalo berani!" Erick semakin menekan dada Alka menggunakan kakinya. Beraharap lelaki itu merasakan sesak yang sama seperti saat Alka mencekiknya.
"Jaman now masih main keroyokan?" Suara itu sontak membuat pergerakan Erick terhenti. Ia mengangkat kakinya dari dada Alka. Berbalik. Berdecak saat mengetahui siapa pemilik suara itu.
"Lo masih inget kan kalo kartu as lo masih ada di gue?" Suara yang sama kembali terdengar.
"Bangsat lo!" Erick mengumpat. Kemudian berlalu pergi diikuti oleh kedua temannya.
Alka menepuk dadanya yang terasa sesak. Ia mencoba untuk bangkit saat sebuah tangan terulur kepadanya. Lelaki itu mendongak. Menatap seorang yang tak asing di matanya.
"Masih bisa bediri Cocan?"
Alka sangat hafal siapa pemilik suara itu. Laki-laki jangkung, berkulit sawo matang. Sosok yang menghukumnya dengan cara paling aneh. Satu-satunya orang yang menyebutnya Cocan, kependekan dari cowok cantik.
Alka menerima uluran tangan itu.
"Udah gue bilang, gue nggak cantik," ujar Alka. Tak suka dengan panggilan itu. Ia mengakui jika dirinya itu manis. Bahkan beberapa senior perempuannya menganggap dirinya imut. Namun untuk cantik? Alka rasa, tidak.
Randy, laki-laki yang baru saja menyelamatkan Alka lantas terkekeh.
"Bibir lo berdarah," ujar Randy. Lelaki itu menyerahkan sapu tangan kepada Alka.
"Gue kira lo manly, ternyata bawaannya beginian?" Alka menerima sapu tangan itu. Menggunakannya untuk mengusap sudut bibir.
"Itu bukan punya gue, tapi punya pacar gue," jawab Randy.
"Gue kira...." Alka tak melanjutkan ucapannya. Mengiris pelan saat tangannya mengusap sudut bibur yang kembali sobek.
"Gue anter lo pulang ya?" tawar Randy.
"Nggak usah. Gue masih bisa pulang sendiri." Alka menggeleng pelan. Tak hanya sebagai isyarat menolak, tetapi juga berniat mengusir pening yang kembali hadir.
"Nggak. Gue anter lo." Randy tetap bersikukuh. Ia membuka tas Alka. Mengambil kunci motor lelakinmanis itu.
"Ya elah, lo baik banget sih, Bang. Gue bilang nggak usah. Lo udah nolongin gue aja, gue udah seneng banget." Alka memijat pelipisnya.
"Eh, Cocan keknya lo salah paham deh," ujar Randy.
"Salah paham gimana?" Alka mendongak guan mempertemukan sepasang matanya dan mata milik kakak kelasnya itu.
"Maksud gue gini, jaman sekarang kan nggak ada yang gratis. Pas banget, gue kan udah nolongin lo. Eh, kebetulan hari ini gue nggak bawa motor. Sekolah juga udah sepi. Nggak ada orang selain lo. Jadi, gue anterin lo pulang, setelah itu gue pinjem motor lo buat gue bawa pulang. Gimana?"
Alka terkekeh. Meski sudut bibirnya terasa perih juga rasa pusing yang kini mulai hadir. "Gue kira lo ikhlas nolongin gue, Bang." Alka menekan tengkuknya kuat, pusat rasa sakit yang ada.
"Gue ikhlas kok. Makanya, lo juga harus ikhlas nebengin gue," jawab Randy.
"Gue yang anter lo pulang," ujar Alka. Ia kembali menggeleng, mengusir pening sebelum berniat menyambar kunci motor yang digenggam Randy. Namun dengan cepat, lelaki jangkung itu menjauhkannya dari jangkaun Alka.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Younger Brother
RomantikCover by @byarfh_ "Gue pengen pinter kayak lo, Kak, walau cuma sebentar. Gue pengen jadi orang yang berguna, walau cuma sekali. Gue pengen dikenang banyak orang, walau akhirnya gue bakalan lupa segalanya. Gue egois, 'kan?" Alka Cahya Hermawan. Lelak...
