41. Rain

9.1K 988 97
                                        

Ulangan fisika
Tugas modul fisika
Hafalan sejarah
Ulangan sejarah
Tugas modul sejarah
Rangkuman biologi
Tugas modul MTK
Hafalan surat(agama)
Teks eksposisi
Ulangan Bahasa Inggris
Ulangan kimia

Alka menuliskan itu semua di jurnalnya. Memberi tanda centang pada beberapa tugas yang telah ia selesaikan. Lelaki itu menyandarkan punggungnya di dinding. Sedangkan tubuhnya telah luruh di lantai sedari tadi. Tangannya tergerak untuk memijat pelipis.

"Nggak usah dipaksa. Ulangan bisa nyusul kalo lo udah enakan," ujar Alan. Turut duduk di samping sang adik.

"Itukan lo. Kalo gue beda lagi, makin hari bukan tambah enakan tapi tambah parah," sambung Alka.

Alan menghela napas, kasar. Tak suka jika Alka berbicara demikian.

"Pulang yuk! Istirahat, ntar tugas lo biar gue yang kerjain," ajak Alan.

Alka bergeming. Memejamkan mata erat guna meredam rasa ngilu di setiap sendinya.

"Udah minum obat?"

Alka menggeleng pelan. Membuat embusan napas kasar kembali terdengar dari sang kakak.

"Harus ya gue ngingetin tiap waktu lo minum obat?" omelnya, "mana obat lo?"

"Lupa naruh."

Alan berdecak. Ia membuka isi tasnya. Beruntung dirinya membawa obat cadangan untuk sang adik. Ia membuka botol obat itu. Mengambil beberapa isinya dan menyodorkannya pada Alka.

Alka menggeleng perlahan, "Mual," tolaknya.

"Telan dulu," titah Alan tanpa bantahan.

Alka membuka matanya. Mengambil butir obat dan menelannya. Menutup mulut guna mencegah obat itu keluar. Alan langsung menyodorkan air mineral. Membantu sang adik menelan obatnya.

Hening. Koridor sekolah saat itu juga telah sepi. Hanya tinggal beberapa guru, siswa yang mengikuti ekstrakulikuler, dan mereka yang baru selesai mengerjakan ulangan susulan.

"Udah? Pulang yuk!"

Alka mengangguk. Berdiri dengan bantuan sang kakak.

"Gue gendong?" tawar Alan.

"Masih bisa jalan," jawab Alka. Mereka mulai beranjak. Alan berjalan lambat mengikuti langkah Alka yang tak seimbang. Beberapa kali berhenti dan kembali melanjutkan langkah menuju area parkir.

"Naik gih!" Alan membungkuk. Menawarkan punggungnya pada Alka.

"Sabar elah. Masih bisa jalan gue," tolak Alka. Ia kembali mengambil langkah. Namun, beberapa saat kemudian terjatuh. Alan menghela napas.

"Lemes banget. Gendong," pintanya.

Alan tersenyum tipis. Membungkuk dan membantu Alka naik ke punggungnya.

"Banyak makan Al. Biar lo berat trus gue nggak bisa gendong lo lagi," ujar Alan. Namun, tak terdengar jawaban dari sang adik.

"Lah, tidur lo?"

***

Irene memandang tubuh adiknya terguncang di atas ranjang. Menimbulkan getaran saat isaknya keluar bebas. Irene mengembuskan napas kasar. Bukan kali pertamanya ia melihat sang adik seperti ini. Meski sudah terbiasa, tetapi hatinya tak pernah rela melihat sosok itu bersedih.

"Kenapa lagi?" tanyanya. Ia mendekat. Mengusap punggung sang adik yang tengah dalam posisi tengkurap. Masih berbalut seragam dan menyembunyikan wajahnya di bantal.

Rain bangkit. Berubah posisi menjadi duduk dan memeluk kakaknya erat. "Rain baperan emang ya?" Ia kembali terisak, "atau dia yang berengsek?"

Irene menghela napas. Mengusap lembut surai hitam sang adik.

My Younger BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang